INDRAPURY YANG TIDAK TAHU DIRI MENGHUJAT DIRINYA SENDIRI
بِسمِ اللّٰهِ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَحْدَهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَن لَا نَبِيٍّ بَعْدَهُ، وَبَعْدُ
Di tengah kesibukan kami pada perkara yang sangat penting ternyata orang yang tidak tahu kapasitas dan hakekat dirinya ikut menyibukkan kami dengan permainan murahannya, dialah Al-Awwalun Ibnu Abdurrahman Indrapury (selanjutnya disingkat AIAI).
Ketika seseorang dari Sulawesi Utara mengirimkan kepada kami dari tulisan AIAI, kami terheran-heran dengan keadaan AIAI yang benar-benar tidak tahu diri, ternyata AIAI ini kagum dan bangga dengan tulisan rendahannya, dia menuliskan:
“Alhamdulillâh sejauh yang ana tahu gak ada yang mengingkari isi tulisan ana kecuali si Ustâdz Khidhir sendiri.”
Dengan percaya diri AIAI katakan seperti itu, padahal orang yang tidak mengingkari bisa jadi karena tertipu dengan permainan dan fitnahnya dan bisa jadi pula karena melihatnya sebagai orang yang sangat rendahan.
Di antara bentuk kerendahan dan ketidaktahuan AIAI terhadap dirinya sendiri adalah kritikan kaidah yang AIAI tulis lalu AIAI bantah sebagaimana pada tulisan “Nasehat Terbuka”nya. AIAI paparkan kritikannya terhadap kaidah: “Ambil baiknya dan buang buruknya.”
Kita katakan: Alhamdulillâh tersingkaplah kebobrokan dan fitnah dari permainan AIAI ini, satu di antaranya: Dia berani menukilkan perkataan Al-‘Allâmah Ibnul Utsaimîn Rahimahullâh, yaitu: “Syaikh Sholeh ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Nasihat adalah engkau suka jika saudaramu memiliki apa yang engkau miliki. Engkau bahagia sebagaimana engkau ingin yang lain pun bahagia. Engkau juga merasa sakit ketika mereka disakiti. Engkau bermuamalah (bersikap baik) dengan mereka sebagaimana engkau pun suka diperlakukan seperti itu.” [Syarh Riyadhu Ash-Shalihin, 2/400]
Jujurkah AIAI akan menyebutkan darimana AIAI nukil? Kalau AIAI mengaku menukil dari kitâb aslinya, maka AIAI telah menambah tumpuk kebobrokan dirinya sendiri. Karena AIAI ini salah seorang murid setia Empu Google, dengan bergaya menunjukkan dirinya termasuk bergelar ST (Salafiyyîn Tsâbitîn).
Oleh karena itu kita akan menampakkan kepada orang yang terlanjur tertipu dengan fitnah dan permainan AIAI untuk menyesuaikan penukilan perkataan Al-‘Allâmah Ibnul Utsaimîn tersebut dengan terjemahan yang ada di situs https://rumaysho.com/3648-nasehat-adalah-cinta.html
Persis tidak? Yang membedakan hanya pada penulisan sumber rujukan, namun jilid dan nomornya tetap sama. Ataukah AIAI akan berani mengingkari sambil mengucapkan: “Bukan di situ AIAI curi tapi dari situs lain.” Coba AIAI sebutkan supaya semakin memperjelas dari mana AIAI melakukan copy paste? Sehingga jelas bagi AIAI jujurkah dalam mengamalkan perkataan Ibnu Sîrin Rahimahullâh:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka lihatlah kepada siapa kalian mengambil agama kalian.”
Kami yakin AIAI sangat tidak memiliki kemampuan untuk menerjemahkan dari Arab ke Indonesia, apalagi mau merujuk ke kitâb lengkap yang berjilid-jilid.
Kasihan juga AIAI ini, sudah memposisikan diri sebagai penjarh dan kritikus, sudah memvonis dan lantang menyebutkan sebagaimana dalam “Nasehat Terbuka”nya, dengan penuh percaya diri AIAI katakan: “Para Hidzbiyyun yang berkedok Salafiyyun, semisal: Khalid Bassalamah Cs, Firanda Dai Rodja Cs, Dzulqarnain Sunusi Cs, Luqman Baabduh Cs, Muawiyyah Askari Cs. Dan lain-lain.”
Namun ternyata AIAI masih sangat butuh ilmu sehingga berani mengopy paste dari orang yang telah dia harâmkan ilmunya, kasihan AIAI ini.
Semua tulisan-tulisan rendahan dan murahannya tidak lepas dari bimbingan guru terdekatnya Empu Google, pada masalah kritikan terhadap Goo Pay dan OVO sama kelakuannya dengan teman seperguruannya yang pernah menulis semisal tulisannya, di satu sisi menjarh dan mengkritik serta mengomando meninggalkan orang yang mereka hizbîkan, namun ternyata mengambil argumen dan pendalilan darinya. Bukankah ini merupakan pengamalan dan penerapan terhadap kaidah yang AIAI kritik, yaitu “ambil baiknya dan buang buruknya.”
Itu di antara salah satu keganjalan AIAI dan yang semisalnya dalam bermanhaj, kebanyakan dalîl-dalîl sunnah dan perkataan ulamâ yang mereka bawakan itu dapat ditelusuri sumbernya, namun karena rasa pengecut dan tidak berani menyebutkan sumbernya, mungkin karena malu, sebab orangnya sudah AIAI iris dengan lisan tajamnya, sudah AIAI jarh sehingga lebih memilih untuk berbuat curang dan tidak amanah.
Bagaimana seseorang akan merasa aman dan yakin dengan penukilan seperti AIAI ini? Ilmunya tidakkaruan, berani berbicara tentang ilmu dan ahlinya, apalagi sampai memposisikan dirinya sebagai kritikus.
Kasihan AIAI ini, tiba-tiba tampil dengan rasa bangga dan kagum terhadap tulisannya sebagaimana pada perkataannya: “Alhamdulillâh sejauh yang ana tahu gak ada yang mengingkari isi tulisan ana kecuali si Ustâdz Khidhir sendiri.”
Kalau itu murni dari hasil pikiran AIAI, terkhusus pada pendalîlan dan mengartikan dalîl, namun ternyata dari hasil copy paste. Masih mau dibanggakan dan ingin dipuji setinggi langit sehingga dengan penuh percaya diri menyebarnya ke orang-orang yang berbeda-beda latar belakang mereka?
Orang-orang yang memiliki sifat ketidaksukaan kepada kami mungkin akan memuji tulisan-tulisan rendahan AIAI itu, namun hakekat pujian mereka itu adalah petaka bagi AIAI:
لَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِینَ یَفۡرَحُونَ بِمَاۤ أَتَوا۟ وَّیُحِبُّونَ أَن یُحۡمَدُوا۟ بِمَا لَمۡ یَفۡعَلُوا۟ فَلَا تَحۡسَبَنَّهُم بِمَفَازَةࣲ مِّنَ ٱلۡعَذَابِۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِیمࣱ
“Janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu mengira bahwa mereka lolos dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” [Surat Ãli ‘Imrân: 188].
Adapun bantahan AIAI terhadap apa yang dia dengarkan di Ashhâbul Hadîts berupa rekaman kajian kami, bahwa kami menerapkan manhaj Muwâzanah terhadap kyai Ahmad Dahlan Rahmatullâh ‘Alayya wa ‘Alaih maka itu memperjelas tentang kebutaannya terhadap dua perkara yaitu perkara tarjamah dan tahdzîr. Dan kami yakin bahwa AIAI ini bukan kelasnya untuk berbicara tentang masalah ini, masalah adab dalam mencari ilmu dan menyebarkannya saja sudah salah kaprah apalagi mau berbicara tentang dua masalah tersebut.
Adapun gugatan dan jarh AIAI terhadap Kyai Ahmad Dahlan Rahmatullâh ‘Alayya wa ‘Alaih maka itu urusan AIAI, kami berbicara hanya sebatas yang kami ketahui dan itu dalam Bâb Tarjamah. Kalau AIAI merasa bahwa Kyai Ahmad Dahlan Rahimahullâh sama seperti dirinya telah ditegakkan hujjah semasa hidupnya tentang permasalahan yang dia gembar-gemborkan maka itu juga urusan AIAI, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةࣱ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِینَ حَتَّىٰ نَبۡعَثَ رَسُولࣰا
“Tidaklah orang yang berdosa memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang utusan (sebagai penegak hujjah).” [Surat Al-Isrâ’: 15].
Ditulis oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada malam Kamis tanggal 13 Syawwâl 1441 / 4 Juni 2020 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.