JANGAN LEWATKAN TAUHID DALAM MENGAJARI PARA MURID

Pertanyaan:
Apa bantahan atas orang yang mengatakan bahwa orang yang banyak-banyak belajar tauhîd kalau diibaratkan listrik maka otaknya konslet?

Jawaban:
Ketahuilah bahwasanya orang yang belajar ilmu agama pasti dia akan dihadapkan dengan tauhîd, dari awal belajarnya hingga akhir belajarnya akan berhadapan dengan tauhîd, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا

“Allâh telah mengajarkan kepada Ãdam nama-nama seluruhnya.” [Al-Baqarah: 31].
Tentu yang paling pertama-tama diajarkan kepadanya adalah nama-nama Allâh dan sifat-sifat-Nya, yang ini merupakan bagian dari tauhîd yaitu tauhîd Al-Asmâ’ wash Shifât.
Kalau kita menyebutkan satu persatu dari para Nabî dan Rasûl yang dakhwah dan bimbingan mereka tidak lepas dari tauhîd maka sangat tidak mencukupi tempat ini untuk menyebutkannya, namun di sini kita akan menyebutkan Nabî akhir zaman Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam tentang dakwah dan bimbingan beliau yang selalu berkaitan dengan tauhîd. Pada awal beliau diangkat sebagai nabî, beliau diperintah untuk membaca, apa yang dibaca? Ternyata tauhîd dan konsekwensi dari tauhîd:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan menyebut nama Rabbmu yang Dia telah menciptakan.” [Al-Alaq: 1].
Ayat tersebut dan ayat-ayat selanjutnya menyebutkan tentang tauhîd, menyebutkan tentang tauhîd Al-Asmâ wash Shifât, tauhîd Rubûbiyyah dan pada akhir surat menyebutkan tentang tauhîd Ulûhiyyah.
Tidak satu surat pun di dalam Al-Qur’ãn kecuali terdapat penyebutan tentang tauhîd.
Pada dakwah, pengajaran, bimbingan, khutbah dan ceramah serta majelis Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam tidak lepas dari menyebutkan tauhîd. Tentu yang mengerti perkara ini adalah mereka yang mengenal tauhîd.
Adapun yang tidak mengenal tauhîd ketika mempelajarinya atau melewatinya dia mengira itu bukan bagian dari tauhîd atau kalau dia mengenal itu adalah bagian dari tauhîd atau berkaitan dengan tauhîd maka dia sangat keberatan, bukan hanya diibaratkan listrik yang konslet di otaknya namun dia dapat pula diibaratkan dengan orang yang kesurupan jin lalu diruqyah dengan dibacakan ayat-ayat yang berisikan tauhîd.
Supaya tidak diibaratkan sebagai listrik yang konslet di otak atau supaya tidak dikatakan takut kepada tauhîd sebagaimana takutnya jin ketika dibacakan ayat-ayat atau doa-doa yang mengandung tauhîd maka banyak-banyaklah dalam mempelajari tauhîd karena dakwah para Nabî dan Rasûl adalah dakwah tauhîd, awal dakwah mereka hingga akhirnya tidak lepas dari tauhîd, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh benar-benar Kami telah mengutus Rasûl pada setiap umat supaya mereka menyembah Allâh dan supaya mereka menjauhi thâghût.” [An-Nahl: 36].
Orang-orang di zaman sekarang bila didakwahi dengan dakwah tauhîd maka banyak penolakan dari mereka, terkadang penolakan dengan cara lembut dan terkadang dengan cara keras, seakan-akan mereka mengetahui bahwa konsekwensi dakwah tauhîd adalah meniadakan seluruh tandingan-tandingan dan perantara-perantara dalam beribadah kepada Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ, dan seakan-akan mereka mengetahui pula bahwa konsekwensinya juga adalah melaksanakan perintah Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa saja yang telah Rasûl datangkan kepada kalian maka terimalah dan apa saja yang Rasûl larang kepada kalian maka jauhilah.” [Al-Hashr: 7]. Sebagaimana orang-orang kafir terdahulu ketika dikatakan kepada mereka:

قُولُوا لَا إلهَ إِلَّا اللّٰهُ تُفْلِحُوا

“Katakanlah oleh kalian Lâ Ilaha Ilallâh, kalian akan beruntung.”
Maka mereka enggan untuk mengatakannya, mereka tidak mau mengucapkannya, karena mereka mengetahui konsekwensi kalimat tauhîd itu adalah meniadakan tandingan-tandingan dan perantara-perantara dalam beribadah kepada Allâh, dan beribadah harus berdasarkan petunjuk dari Nabî Shallallâhu Alaihi wa Sallam, tidak boleh bagi mereka taqlid kepada pembesar-pembesar mereka, tidak boleh bagi mereka thawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang, tidak boleh bagi mereka memajang gambar-gambar Ibrâhîm, Ismâ’îl dan Maryam di Ka’bah serta tidak boleh bagi mereka mendatangi para dukun, dengan demikian membuat mereka merasa berat dalam menerima dakwah tauhîd.
Supaya tidak serupa dengan orang-orang kafir yang mempersekutukan Allâh itu maka banyak-banyaklah mempelajari tauhîd, pelajarilah konsekwensinya, dan di antara konsekwensinya adalah bertakwa kepada Allâh dan menegakan shalat karena Allâh:

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta tegakanlah shalat. Janganlah kalian termasuk dari orang-orang yang mempersekutukan Allâh.” [Ar-Rûm: 31].

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada 10 Jumâdil Ãkhirah 1438 di Binagriya Pekalongan.

⛵️
https://t.me/majaalisalkhidhir/209

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/4734