SEORANG MUSLIM BAGAIMANAPUN KEADAANNYA ITU LEBIH BAIK DARIPADA NON MUSLIM
Kita sangat terheran-heran dengan sebagian dâ’î akhir zaman yang banyak berkomentar terhadap urusan orang banyak, terkadang dari mereka memuji-muji Cina karena mereka sangat benci dengan musuh-musuh Cina, terkadang memuji-muji Ortodoks karena mereka tidak suka dengan sebagian negara yang dikuasai dan dipimpin oleh seorang Muslim, padahal suatu negara yang dikuasai oleh pemerintah Muslim itu lebih baik daripada dikuasai oleh orang kâfir dan musyrik. Seorang muslim bagaimanapun keadaannya itu lebih baik daripada non Muslim, Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ berkata tentang non Muslim:
إِنَّ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَـٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِینَ فِی نَارِ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِینَ فِیهَاۤۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِیَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang kâfir dari kalangan Ahlul Kitâb dan orang-orang musyrik berada di Neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk.” [Surat Al-Bayyinah: 6].
Suatu negeri yang dikuasai oleh seorang Muslim semisal Al-Hajjâj bin Yûsuf Ats-Tsaqafî itu lebih baik daripada suatu negeri yang dikuasai oleh seorang non Muslim.
Adakah orang-orang kâfir di zaman Al-Hajjâj masuk ke negeri-negeri kaum Muslimîn lalu menguasainya?
Adakah negara-negara non Muslim di zaman Muhammad Al-Fatîh masuk menguasai Al-Harâmain dan Al-Aqshâ?.
Bagaimanapun keadaan orang-orang Muslim itu lebih baik daripada keadaan orang-orang non Muslim, jangan sampai tertipu dengan Ortodoks, justru mereka itu mencampuradukkan kekufuran dan kesamaran. Dan jangan pernah mengira bahwa yang akan bersatu dengan umat Islâm itu adalah Ortodoks khusus, justru yang akan sempat bersatu dengan umat Islâm dalam melawan musuh adalah para penyembah dan pemuja shalîb dari kalangan Nashârâ pada umumnya, tatkala telah menang dalam memerangi musuh, maka seorang Nashârâ mengangkat shalîb lalu berkata:
غَلَبَ الصَّلِيبُ
“Telah menang shalîb.”
Lalu seorang Muslim bangkit membunuhnya karena ucapannya terhadap shalîb benar-benar menunjukkan keadaannya sebagai kâfir musyrik.
Kita tidak tahu apa ucapan sebagian dâ’î akhir zaman itu terhadap seorang Muslim ini? Apakah mereka akan mengutuknya lalu memuji para penyembah dan pemuja shalîb itu?.
Dari tanya jawab bersama Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada hari Ahad 7 Rabî’ul Awwal 1442 di Dârul Qur’ãn wal Hadîts Bekasi.