SHALAT TARÂWIH YANG PALING UTAMA
Pertanyaan:
Ustâdz izin bertanya: Apakah shalat tarâwih bersama imâm sampai selesai itu mutlak pahalanya seperti shalat semalam penuh?
Jawaban:
Penyebutan keutamaan pada riwayat At-Tirmidzî dan yang lainnya bahwa Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ
“Barangsiapa shalat lail bersama imâm sampai imâm selesai maka Allāh menetapkan baginya shalat semalam.”
Keutamaan ini bukan berarti lebih utama orang yang shalat tarâwih secara berjamâ’ah daripada orang yang shalat tarâwih bersendirian dalam keadaan panjang shalatnya. Perlu diketahui bahwa ini seperti penyebutan keutamaan surat Al-Ikhlâsh sepertiga dari Al-Qur’ãn, bukan berarti cukup membaca surat Al-Ikhlâsh tiga kali sudah seimbang dengan mengkhatamkan Al-Qur’ãn.
Kemudian perlu diketahui bahwa hadîts tersebut dikatakan oleh para Ulamâ:
المُرَادُ مِنْهُ الْحَثُّ عَلَى عَدَمِ الْاِنْصِرَافِ قَبْلَ تَمَامِ الصَّلَاةِ
“Diinginkan dengannya adalah pemotivasian untuk tidak berpaling sebelum terselesaikan shalat.”
Dan juga Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan perkataan tersebut yang imâmnya adalah beliau sendiri, dan jangan bertanya tentang panjangnya shalat beliau, di dalam riwayat Abû Dâwud, An-Nasâ’î dan At-Tirmidzî dari Abû Dzar Al-Ghifarî Radhiyallâhu ‘Anhu, dari Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
“Sesungguhnya siapa yang shalat lail bersama imâm sampai imâm selesai maka dicatat baginya shalat semalam.”
Lalu Abu Dzar Radhiyallâhu ‘Anhu katakan:
ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا حَتَّى بَقِيَ ثَلَاثُ لَيَالٍ مِنَ الشَّهْرِ، فَصَلَّى بِنَا فِي الثَّالِثَةِ، وَدَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ، فَقَامَ بِنَا حَتَّى تَخَوَّفْنَا الْفَلَاحَ
“Kemudian beliau tidak mengimâmi kami hingga tiga malam dari bulan Ramadhan, lalu beliau mengimâmi kami pada malam yang ketiga, beliau mengajak keluarga dan istri-istri beliau lalu mengimâmi kami hingga kami khawatir waktu sahur.”
Sanggupkan salah seorang dari kita mengikuti shalat tarâwih berjamâ’ah dengan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam hingga masuk waktu sahur?
Adakah kita dapati seorang imâm yang mengimami shalat tarâwih hingga masuk waktu sahur?! Kalau pun ada mungkin hanya di sebagian masjid Sunnah saja, itupun mungkin pada semalam saja dari sepuluh malam terakhir.
Al-Hâfizh Abû Nu’aim meriwayatkan di dalam “Hilyatul Auliyâ'” bahwa Ar-Rabî’ bin Sulaimân berkata:
كَانَ الشَّافِعِيُّ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سِتِّيْنَ خَتْمَةً، مَا مِنْهَا شَيءٌ إِلَّا فِي صَلَاةٍ
“Dahulu Asy-Syâfi’î mengkhatamkan Al-Qur’ãn pada bulan Ramadhân sebanyak 60 kali khatam, dan tidaklah beliau mengkhatamkannya sedikit pun kecuali di dalam shalat.”
Datang dalam beberapa riwayat yang shahîh dari Muhammad bin Sîrîn dan Sulaimân bin Yasâr serta ‘Abdurrahmân At-Taimî:
ﺃَﻥَّ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥَ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻘْﺮَﺃُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻓِﻲ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ ﻓِﻲ ﺭَﻛْﻌَﺔٍ
“Bahwasanya ‘Utsmân membaca Al-Qur’ãn dalam semalam hanya satu raka’at.”
Pada lafazh Sulaimân bin Yasâr:
ﺃَﻥَّ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥَ ﺑْﻦَ ﻋَﻔَّﺎﻥَ ﻗَﺎﻡَ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻌِﺸَﺎﺀِ ﻓَﻘَﺮَﺃَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻛُﻠَّﻪُ ﻓِﻲ ﺭَﻛْﻌَﺔٍ
“Bahwasanya ‘Utsmân bin ‘Affân berdiri shalat setelah ‘isyâ’, beliau membaca Al-Qur’ãn seluruhnya dalam satu raka’at.”
Maka adakah orang yang akan berani katakan bahwa shalat tarâwihnya secara berjamâ’ah dengan waktu yang pendek itu lebih utama daripada yang shalat tarâwih sendirian hingga masuk waktu sahur?!
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir pada malam Kamis 12 Ramadhân 1440 / 16 Mei 2019 di Mutiara Gading Timur Bekasi.