BEDA SHALAT ISYRÂQ DENGAN SHALAT DHUHÂ

Pertanyaan:
Ustâdz saya mau tanya, shalat sunnah syurûq dan dhuhâ apakah beda? Adakah dalîl shalat syurûq?

Jawaban:
Shalat syurûq atau disebut pula shalat isyrâq itu termasuk ke dalam penamaan shalat dhuhâ, hanya saja terbedakan pada tempat, waktu dan jumlah raka’at. Dalîl shahîh telah menerangkan bahwa shalat isyrâq ini pelaksanaannya di masjid pada awal waktu dhuhâ dan jumlah raka’atnya sebanyak dua raka’at, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى، كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ

“Barangsiapa yang shalat shubuh berjama’ah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai shalat sunnah dhuhâ, maka dia seperti mendapat pahala orang yang haji atau ‘umrah secara sempurna.” Riwayat Ath-Thabrânî. Dan di dalam riwayat At-Tirmidzî dengan lafazh:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ

“Barangsiapa shalat shubuh secara berjamâ’ah lalu dia duduk sambil berdzikir kepada Allâh hingga matahari terbit, kemudian dia shalat dua raka’at, maka baginya pahala seperti pahala haji dan ‘umrah.”

Adapun shalat dhuhâ maka tempat pelaksanaannya di mana saja dan waktunya juga luas, yaitu mulai dari waktu isyraq hingga mendekati waktu zhuhur, sedangkan jumlah raka’atnya minimal dua raka’at dan maksimalnya delapan raka’at, berkata Abû Hurairah Radhiyallâhu ‘Anhu:

أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاَثٍ بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ

“Teman terdekatku Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berwasiat kepadaku dengan tiga wasiat, yaitu: Puasa tiga hari pada setiap bulan, dua raka’at dhuhâ dan supaya aku shalat witir sebelum aku tidur.”
Berkata ‘Âisyah Radhiyallâhu ‘Anhâ:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي صَلاَةَ الضُّحَى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَيَزِيدُ مَا شَاءَ

“Dahulu Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam shalat dhuhâ empat raka’at dan beliau menambahkan sekehendak beliau.” Riwayat Muslim. Sekehendak beliau di sini bukan bermakna tanpa batasan raka’at, namun ada hadîts shahîh menetapkan maksimalnya delapan raka’at sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dari Ummu Hâni’ Radhiyallâhu ‘Anhâ:

إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ

“Sesungguhnya Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke dalam rumah Ummu Hâni’ pada hari penaklukan kota Makkah, lalu beliau mandi kemudian beliau shalat delapan raka’at.”

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir pada hari Jum’at 24 Jumâdil Akhîr 1440 / 1 Maret 2019 di Kemang Pratama Bekasi.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/2656