ANTARA SALAFÎ TSÂBIT DAN MUSLIM YANG TAAT

Pertanyaan:
Menyoal pertanyaan Afiq ke Ustâdz Shiddîq dan Ustâdz Harîts yang tadi disampaikan ke Ustâdz bahwa Ustâdz jarang berkomunikasi dengan Asâtidzah Ahlissunnah yang lain sebagaimana dia sebutkan di channel Al-Hujjahnya, dia sempat simpulkan bahwa Ustâdz barâ’ terhadap Ahlussunnah dan walâ’ dengan hizbiyyûn?

Jawaban:
Lâ haula walâ quwwata illâh Billâh, orang satu ini masih saja terus bermain di atas fitnahnya, bagaimana dia akan membawa nama dâ’i-dâ’î Ahlissunnah dan mencoba berdiri di belakang mereka sementara sebagian dâ’î tidak lepas dari kejelekkan lisannya. Ustâdz Fadhl dikatakan berpemikiran LDII, Ustâdz Faishal dianggap tidak benar sehingga dia tidak cocok dengan beliau, Ustâdz Irham dikatakan tidak tawadhû’. Kita bersama sebagian ikhwah di sini tidak lepas pula dari vonis dan kejelekan lisannya, dari hasil pertanyaannya menunjukkan kelicikannya dalam mempermainkan keadaan, menunjukkan pula tidak mengetahui keadaan di sini dengan sebenarnya, hanya asal menilai dan memvonis, terkhusus keadaan di Tenggilis ini tidak dia ketahui dengan sebenarnya. Bagaimana dia akan tahu, kesehariannya selama di Bekasi bagaikan batu, seolah-olah semua orang dianggap sama, bagaimana dia akan menyimpulkan tentang seseorang termasuk kelompok hizbî sana dan hizbî yang lainnya, sementara tidak ingin berbincang-bincang dengan seorang muslim yang ikut shalat berjamâ’ah, bertemu saja tidak menyapa, apalagi menanyakan hakekat dan keadaan yang sebenarnya, terlebih lagi menebarkan salâm di tengah kaum Muslimîn di Tenggilis. Hampir setiap masyarakat yang shalat di masjid Al-Kautsar mengeluhkan keadaannya, tidak negur sapa, tidak pula salâm, karena mungkin pemahamannya selain bersamanya semuanya hizbî harus dihajr.
Pantas saja pernah terucap dari seseorang yang klaimnya sama dengan orang Siuman ini bahwa dia salafî tsâbit, dia tuturkan: “Di Jabodetabek tidak ada salafî kecuali 6 orang atau beberapa orang saja.” Kenapa kita atau sebagian yang biasa hadir di majlis ini tidak dia sebutkan? Jawabannya: “Karena jarang kumpul dengan mereka” atau “Jarang berkomunikasi dengan mereka.”
Orang siuman seperti ini kemudian mengklaim dirinya sebagai salafî tsâbit, yang tidak bersamanya dianggap bukan salafî. Seharusnya dia malu mengaku-ngaku sebagai salafî tsâbit, di antara ciri muslim yang paling baik saja tidak mampu dia hidupkan di tengah-tengah kaum Muslimîn, Nabî ‘Alaihish Shalâtu was Salâm pernah ditanya:

أَيُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ

“Islâm manakah yang paling baik?.”
Beliau menjawab:

تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

“Kamu memberi makan dan mengucapkan salâm kepada muslim yang kamu kenal atau pun muslim yang kamu tidak kenal.” Riwayat Al-Bukhârî.
Kalau memang kikir bersedekah dengan makanan ke seorang muslim yang bukan salafî tsâbit semisal dirinya, apa beratnya bersedekah dengan salâm atau ucapan yang baik, berkata Nabî ‘Alaihish Shalâtu was Salâm:

فَلْيَتَّقِيَنَّ أَحَدُكُمُ النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Hendaklah salah seorang di antara kalian menjaga diri dari neraka meskipun hanya bersedekah dengan separuh dari sebutir kurma. Jika tidak mendapatkan itu maka dengan ucapan yang baik.” Riwayat Al-Bukhârî.

Sudah rumit melakukan kebaikan ini, menambah lagi dengan sikap lain yang membuat resah orang lain, kalau tidak ingin bersedekah ke orang lain dengan menebar kebaikan, bersedekahlah untuk diri sendiri, berkata Nabî ‘Alaihish Shalâtu was Salâm:

تَكُفُّ شَرَّكَ عَنِ النَّاسِ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ

“Kamu menahan kejelakanmu terhadap orang lain maka sesungguhnya itu adalah sedekah darimu untuk dirimu.” Riwayat Muslim.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir pada malam Selasa tanggal 4 Dzulqa’dah 1442 / 15 Juni 2021 di Tenggilis Mustika Jaya Bekasi.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/5572