VAKSIN TIDAK MENJAMIN KESEHATAN ORANG MU’MIN
Pertanyaan:
Seseorang meyebutkan tentang dirinya: “Alhamdulillâ saya termasuk orang yang tidak suka vaksin karena saya termasuk orang yang banyak sekali allergy obat. Begitu tahu kalau vaksin adalah satu ketaatan pada Allâh dan karena taat pada pemerintah itu bagian dari taat kepada Allâh maka saya menyerah. Jadi kami mendengar dan taat. Habis vaksin pfizer (US) disini efek samping 3 hari demam dan 10 hari saya lemas (setiap orang beda efeknya, ada yang tidak apa-apa), Alhamdulillâh semoga Allâh beri pahala.
Apakah benar penempatan pengamalannya ini?
Jawaban:
Bagaimana vaksin akan dikatakan sebagai bentuk ketaatan kepada Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ sementara Allâh ‘Azza wa Jalla telah katakan:
وَلَا تُلۡقُوا۟ بِأَیۡدِیكُمۡ إِلَى ٱلتَّهۡلُكَةِ وَأَحۡسِنُوۤا۟ۚ إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِینَ
“Janganlah kalian melemparkan diri kalian kepada kebinasaan, berbuat baiklah kalian. Sesungguhnya Allâh mencintai orang-orang yang berbuat baik.” [Surat Al-Baqarah: 195].
Orang yang sudah mengetahui dirinya alergi obat lalu tetap mengonsumsi obat maka itu sama halnya menjerumuskan diri kepada kebinasaan, kalau sampai mati kita khawatirkan akan diikutkan seperti orang yang bunuh diri:
وَلَا تَقۡتُلُوۤا۟ أَنفُسَكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِیمࣰا
“Janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allâh adalah Rahîm (Maha Penyayang) terhadap kalian.” [Surat An-Nisa’: 29].
Kalau seseorang mengatakan bahwa vaksin itu ketaatan kepada Allâh karena mentaati pemerintah bagian dari mentaati Allâh maka harus baginya memahami dengan pemahaman yang benar bahwa ketaatan kepada penguasa itu tidaklah mutlaq, yakni memiliki dua ketentuan:
1) Pada perkara yang dimampui.
Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam saja tatkala beliau dibai’at beliau persyaratkan pada perkara yang dimampui, berkata ‘Abdullâh bin ‘Umar Radhiyallâhu ‘Anhumâ:
كُنَّا إِذَا بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ يَقُولُ لَنَا: فِيمَا اسْتَطَعْتَ
“Keberadaan kami, jika kami membai’at Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam untuk mendengar dan taat maka beliau berkata kepada kami: “Pada apa yang kamu mampui.” Riwayat Al-Bukhârî.
2) Pada perkara yang bukan dosa.
Berkata Nabî ‘Alaihish Shalâtu was Salâm:
لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhlûq dalam bermaksiat kepada Al-Khâliq (Allâh Yang Maha Pencipta).”
Tatkala pemerintah mengharuskan atau hanya menganjurkan kepada seseorang untuk vaksin sementara dia mengetahui efek samping atau bahaya dari vaksin itu maka hendaklah dia tidak mau untuk divaksin, kecuali kalau diancam dengan ancaman serius bukan menakut-nakuti. Kalau seseorang bergampang-gampangan mentaati pada perkara yang dia tidak mampui atau pada perkara yang membahayakannya, apakah dia juga akan mau untuk masuk ke dalam api kalau pemerintah menyuruhnya?.
Berkata ‘Alî Radhiyallâhu ‘Anhu:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ جَيْشًا وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلًا فَأَوْقَدَ نَارًا وَقَالَ ادْخُلُوهَا فَأَرَادَ نَاسٌ أَنْ يَدْخُلُوهَا وَقَالَ الْآخَرُونَ إِنَّا قَدْ فَرَرْنَا مِنْهَا فَذُكِرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِلَّذِينَ أَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا لَوْ دَخَلْتُمُوهَا لَمْ تَزَالُوا فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَقَالَ لِلْآخَرِينَ قَوْلًا حَسَنًا وَقَالَ لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Bahwa Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengirim suatu pasukan dan mengangkat seseorang menjadi komandannya. Kemudian komandan menyalakan api lalu berkata: “Masuklah kalian ke dalam api.” Maka sebagian pasukannya ingin masuk ke dalam api, dan sebagian pasukan yang lain mengatakan: “Kita harus lari dari api itu.” Kemudian perkara tersebut disebutkan kepada Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, maka beliau berkata kepada pasukan yang ingin masuk ke dalam api: “Kalaulah kalian masuk ke dalam api itu maka kalian akan senantiasa di dalamnya hingga hari Kiamat.” Kemudian beliau berkata kepada pasukan yang lain dengan perkataan yang bagus: “Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allâh, hanyalah ketaatan pada kebaikan.” Riwayat Muslim.
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir pada hari Senin tanggal 17 Dzulqa’dah 1442 / 28 Juni 2021 di Tenggilis Mustikajaya Bekasi.