MEMBERI LEBIH BAIK DARIPADA MEMINTA DONASI

Pertanyaan:
Ustâdz, ada usulan untuk buka donasi pembangunan pondok pesantren Ustâdz, donasinya melalui seseorang yang dia sampaikan ke orang-orang supaya memberi donasi. Apakah Ustâdz mau?

Jawaban:
Pembukaan donasi seperti itu belum tentu juga dapat, kita kalau mau, tinggal datang ke sebagian pejabat dan pengusaha yang telah menjanjikan untuk memberi setiap yang kita butuhkan. Ini Insyâ Allâh bisa langsung dapat, tinggal kita datang bertamu lalu kita utarakan bahwa kita sedang membangun Majâlis tentu mereka akan bantu. Namun wahai saudara, ‘iffah dan peneladanan terhadap Ar-Rasûl ‘Alaihish Shalâtu was Salâm yang hendak kita berhias dengannya. Beliau kalau inginkan kebutuhan maka beliau tinggal sebutkan ke para shahabatnya yang berkecukupan semisal Abû Bakr, ‘Utsmân, Abû Thalhah dan sebagian kaum Anshâr, tentu mereka akan sangat senang membantu beliau, namun beliau ‘iffah dan menasehatkan untuk itu. Berkata Muslim di dalam “Shahîh”nya:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ فِيمَا قُرِئَ عَلَيْهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَهُوَ يَذْكُرُ الصَّدَقَةَ وَالتَّعَفُّفَ عَنِ الْمَسْأَلَةِ: الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى وَالْيَدُ الْعُلْيَا الْمُنْفِقَةُ وَالسُّفْلَى السَّائِلَةُ

“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’îd dari Mâlik bin Anas pada riwayat yang dibacakan kepada beliau, dari Nâfi’ dari ‘Abdillâh bin ‘Umar, bahwasanya Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berkata dalam keadaan beliau di atas mimbar, beliau menyebutkan tentang sedekah dan ‘iffah (menjaga diri) dari meminta: “Tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah, tangan di atas itu yang memberi infak dan tangan di bawah yang meminta.”

Meskipun keberadaan kita sekarang ini sebagai penegak dakwah, kita memiliki peluang menggunakannya untuk mendulang berbagai donasi namun bukankah Nabî ‘Alaihish Shalâtu was Salâm sangat berpeluang atas itu. Setelah beliau sampai di kota Yatsrib, kota itu langsung disebut sebagai kota beliau yaitu kota Madînah, kalau beliau ingin bangun masjid yang luas dan besar tinggal beliau kumpulkan kaum Anshâr lalu beliau minta mereka untuk serahkan tanah yang luas supaya dibangun masjid besar dan luas, namun beliau hanya berkata kepada Banî An-Najjâr:

يَا بَنِي النَّجَّارِ ثَامِنُونِي بِحَائِطِكُمْ هَذَا

“Wahai Banî An-Najjâr jualkanlah oleh kalian kepadaku tanah kalian ini!.”
Maka Banî An-Najjâr katakan:

لاَ وَاللَّهِ، لاَ نَطْلُبُ ثَمَنَهُ إِلاَّ إِلَى اللَّهِ

“Demi Allâh, kami benar-benar tidak ingin menjualnya melainkan hanya untuk Allâh.” Riwayat Al-Bukhârî.

Kita lihat bagaimana rasa malu Nabî ‘Alaihish Shalâtu was Salâm, kalau beliau sebutkan langsung ke mereka bahwa beliau membutuhkan tanah untuk bangun masjid pasti mereka akan bergegas memberikan tanah mereka, namun beliau pemalu, beliau mengungkapkan dengan ungkapan ingin membeli, dan kita semestinya seperti itu. Wabillâhit Taufîq.

Alhamdulillâh dari sebagian ikhwah dan akhawât kita tatkala mengetahui kita sedang merencanakan pembangunan Majâlis ini mereka tanpa diminta dan tanpa dikirim selebaran donasi langsung mereka membantu, sebagian mereka bergembira dengan apa yang kita rencanakan ini, mereka pun ceritakan ke yang lain sehingga pada tahu bahwasanya kita memiliki rencana mulia. Kalau mereka memang berniat membantu tentu mereka akan menghubungi atau menitipkan langsung, dan ini Insyâ Allâh lebih tulus dan ikhlâsh daripada menunggu diminta. Semoga Allâh ‘Azza wa Jalla senantiasa memberi bimbingan kepada kita dan meridhâi apa yang kita usahakan.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir pada hari Kamis tanggal 6 Dzulhijjah 1442 / 15 Juli 2021 di Cipancur Klapanunggal Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/5664