ANTARA HUJAT DAN NASEHAT
Pertanyaan:
Sahri memuat status tentang Ustâdz, sebagian isinya Ustâdz tidak menerima nasehat?
Jawaban:
Kalau kita dikatakan oleh mereka bahwa kita tidak menerima nasehat dari Afiq maka kita tidak mengingkari pengakuannya memberi nasehat ke kita, karena pada umumnya:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama adalah nasehat.”
Namun nasehat macam apa yang diberikan ke kita?!
Tatkala Rasûlullâh ‘Alaihish Shalâtu was Salâm tidak menerima pernyataan Dzulkhuwaishirah:
يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ
“Wahai Rasûlullâh berbuat adillâh kamu.”
Maka apakah Rasûlullâh ‘Alaihish Shalâtu was Salâm akan dikatakan sombong? Meremehkan orang rendah? Lalu mau dianggap tidak pantas dijadikan teladan karena menolak nasehat yang disampaikan oleh Dzulkhuwaishirah?
Bukankah itu nasehat juga sebagaimana yang dikatakan Afiq bahwa nasehatnya berupa pertanyaan waktu ikuti kajian Durûsullughah kita, pertanyaannya tentang wanita yang tinggal dikontrakan tanpa mahram? Lalu kita jawab, kemudian dia nyatakan itulah nasehatnya. Kejadian itu dianggapnya sebagai nasehat secara langsung. Juga berbagai hujatan dan vonis di statusnya itu juga nasehatnya katanya. Kalau itu nasehatnya maka demikian pula orang-orang yang mendemo Ulil Amri (‘ulamâ dan ‘umarâ’) juga menganggap perbuatan dan sikap mereka itu juga nasehat.
Allâhul Musta’ân, kalau mereka katakan kita bersama hizbî karena kita di anggap berada di masjid hizbî, di lingkungan hizbî, juga hizbî pernah ikut bantu kita sebagaimana yang mereka nyatakan atau kita dikatakan mengajari anak-anak hizbî maka apalagi ta’wilan mereka kalau dikatakan bahwa Nabî ‘Alaihish Shalâtu was Salâm di tengah-tengah kota beliau ada berbagai kalangan, ada Yahûdî, ada Dzulkhuwaishirah dan kawan-kawannya, ada Ibnu Salûl dan kaum Munâfiqîn yang banyak? Di antara mereka juga ikut jihâd, ada pula hadir di majlis Nabî ‘Alaihish Shalâtu was Salâm, dan di antara anak-anak mereka juga diperlakukan dengan baik oleh Nabî ‘Alaihish Shalâtu was Salâm.
Siapa yang tidak kenal ‘Abdullâh bin Ubaî bin Salûl? Ra’sul munâfiqîn, namun Nabî ‘Alaihish Shalâtu was Salâm memperlakukannya sesuai harapan puteranya ‘Abdullâh bin ‘Abdillâh bin Ubaî bin Salûl sebagai shahabat.
Apakah Nabî ‘Alaihish Shalâtu was Salâm menerlantarkan ‘Abdullâh atau menendangnya lantaran ayahnya musuh dalam selimut?.
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir pada malam Kamis tanggal 11 Dzulhijjah 1442 / 21 Juli 2021 di Tenggilis Mustikajaya Bekasi.