ETIKA PENCINTA ILMU

Pertanyaan:
Aku ingin tanya, mohon admin Majâlis sampaikan ke Ustâdznya, aku sudah ikuti banyak channel tahu dari teman-temannya, dan aku tanya tentang admin-adminnya. Banyak ternyata adminnya hanya jadi penjelajah media sosial, bukan orang paham ilmu. Bagaimana sikap aku?

Jawaban:

Media sosial benar-benar menjadi ujian bagi pecinta ilmu, dan akan menjadi fitnah bagi mereka yang tidak membolehkan mengambil ilmu dari selain kelompok mereka. Tatkala mereka menelusuri media sosial, mereka dapatkan banyak fâidah ilmu dari selain kelompok mereka, karena takut dikritik, takut dijarh dan malu diketahui maka fâidah itu seakan-akan mereka abaikan dengan cara melihat ke sumbernya langsung lalu disebar hingga nampak itulah fâidah darinya atau dari kelompoknya. Lebih parah dari itu orang bodoh dari kelompok mereka, tidak tahu dalîl melainkan dari hasil terjemahan selain kelompok mereka, terjemahan itu dikutip dengan cara copy paste lalu digunakan, terkhusus menggunakannya untuk bantah siapa yang menyelisihi maka jadilah ilmu seakan-akan permainan yang sedang mereka permainkan. Orang bodoh yang sibuk mengurusi media sosial, yang dia tidak pernah selesaikan ilmu paling dasar bahasa Arab kemudian bawakan dalîl, dari mana penukilannya? Para penelusur di media sosial pasti tahu rujukan, pasti tahu dari mana pengambilannya.
Oleh karenanya, perbuatan orang bodoh seperti itu tidak akan memberi manfaat pada dirinya sebagaimana tidak bermanfaatnya orang beribadah tanpa ilmu, berkata ‘Iyâdh Rahimahullâh:

أفعال الجاهل في العبادة على غير علم لا تجزئ

“Perbuatan-perbuatan orang bodoh dalam beribadah di atas selain ilmu tidak akan diberi balasan (pahala).”

Tanpa kita ragukan bahwa penyebaran ilmu adalah ‘ibâdah, tatkala melakukannya dengan cara tidak benar atau dengan kecurangan maka tidak akan bermanfaat kepada pelakunya.

[ Muhammad Al-Khidhir Al-Andûnîsî ].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/5793