AL-BIRUNÎ, SIAPAKAH?

Al-Birunî merupakan seorang tokoh yang digadang-gadang sebagai ilmuwan Muslim di bidang matematika dan astronomi, yang sering menjadi rujukan orang yang berpemahaman bumi berbentuk bola, karena menurut kisahnya, beliau adalah orang pertama yang mengukur jari-jari bumi.

Lalu, apakah Al-Birunî adalah seorang Ahli Tafsîr Al-Qur’ãn? Ternyata bukan, beliau dikenal sebagai seorang filsuf atau ahli filsafat. Dari info biografinya, masa mudanya tak banyak terlacak sejarah. Sebelumnya, kita harus tahu bahwa ilmu filsafat itu terlahir dari ilmuwan-ilmuwan Yunani. Sehingga dengan ini menunjukkan bahwa pemikiran-pemikiran beliau sudah banyak terkontaminasi oleh pemikiran bangsa Yunani, bahkan pemikiran beliau tentang bumi bola bisa saja sangat terpengaruh oleh astronom-astronom Yunani di kala itu.

Dari kitâb karangan beliau, siapapun bisa mengetahui jika beliau bermadzhab Syî’ah atau seorang Mu’tazilah, dan beliau adalah seorang moderat. Nama Al-Birunî ini tidak tercatat sumbangsihnya dalam ilmu-ilmu agama Islâm, juga tak ditemukan pujian-pujian ataupun rekomendasi para ‘Ulamâ besar Islâm pada sosoknya. Lalu jika ada yang mengatakan Al-Birunî seorang ‘âlim, apa bukti beliau ‘âlim, jika yang dimaksud ‘âlim di sini dalam hal berkaitan agama dengan cabang-cabangnya seperti ‘aqîdah, fiqh, hadîts, dan semacamnya? Kemudian, diketahui dari kisah hidupnya, beliau terkenal sebagai seorang yang berjasa melakukan studi perbandingan berbagai macam agama dan budaya, sehingga ini jelas memperlihatkan bagaimana ‘aqîdahnya. Lalu apa urgensinya merekomendasikan pendapat beliau tentang bentuk bumi? Padahal dari segi ‘aqîdah, bisa dikatakan ‘aqîdah beliau cacat.

Di samping itu, para ‘Ulamâ Islâm yang faqîh dan lurus lebih banyak yang berpendapat tentang bumi itu datar. Jadi, seandainya ada yang mengatakan Al-Birunî jago hitung, itu bukan berarti beliau di atas pendapat yang benar! Karena benar itu jika pendapat beliau berlandaskan kepada dalîl dan ‘aqîdah yang lurus.

Lalu mengapa orang-orang yang taqlîd pada tokoh Al-Birunî tentang penghitungan bumi bola, tak menengok tafsîr ‘Ulamâ Ahli Tafsîr yang memang diakui keilmuan dan ke’âlimannya, seperti Imâm Al-Qurthubî misalnya? Beliau dalam kitâb tafsîrnya, dengan tegas menyatakan dalam ayat-ayat yang menyebut: “Kami hamparkan bumi..”, ini adalah ayat sebagai bantahan untuk siapapun yang mengatakan bumi berbentuk bola.”

Kemudian dalam kitâb Tafsîr lain, yaitu Tafsîr Al-Baghawî, beliau menjelaskan dalam ayat:

وَالْأَرْضَ فَرَشْنَاهَا فَنِعْمَ الْمَاهِدُون

“Dan bumi Kami hamparkan, maka (Kami) sebaik-baik yang telah menghamparkan.” (Adz-Dzâriyât: 48), menafsirkan: “Kata فَرَشْنَا memiliki makna kami hamparkan, artinya seperti halnya ketika seseorang ketika ada yang bertamu kepadanya, maka dia menghamparkan karpet untuk tamu tersebut sebagai tempat duduk. Demikian maksud dari ayat ini bahwa Allâh menghamparkan bumi. Oleh karenanya, secara umum bumi itu datar dan kebanyakan dari isi bumi ini mudah untuk dipijak, dijadikan tempat tinggal, dibangun, terkadang diselingi dengan gunung, lembah dan lautan.”

Kemudian jika ada yang menyebutkan bahwa Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa ijmâ’ para ‘Ulamâ mengenai bentuk bumi adalah bola, maka pendapat beliau ini terbatalkan dengan adanya pendapat ‘Ulamâ yang menyatakan bumi itu datar. Maka sebaiknya untuk kita merujuk pada pendapat para ‘Ulamâ pendahulu yang tidak terkontaminasi oleh pemikiran-pemikiran bangsa Yunani, Wallâhu A’lam.

Ditulis oleh:
Imra’ah Al-Khidhir.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/6188