TAUBAT ORANG MUNÂFIQ
Pertanyaan:
Firman Allâh Subhânahu wq Ta’âlâ: “Sesungguhnya orang orang munâfiq itu di tempat paling bawah neraka dan tidak ada baginya penolong. Kecuali orang orang yang bertaubat melakukan perbaikan dan berpegang teguh dan mengikhlaskan agamanya untuk Allâh maka mereka bersama orang orang yang beriman. Maka kelak Allâh akan memberikan orang orang yang beriman pahala yang besar.” (An-Nisâ’: 145-146).
Apakah ayat tersebut juga mencakup nifâq iqtiqâdî juga masih memiliki kemungkinan untuk bisa bertaubat Ustâdz bersamaan dengan ayat-ayat yang lain mengatakan tidak diterima taubat orang munâfiq.
Mohon jawabannya Ustâdz?
Jawaban:
Secara umum, Allâh Subhânahu wa Ta’âla menyebutkan akan memberi ampunan kepada siapa saja yang bertaubat, orang munâfiq sekalipun Allâh ‘Azza wa Jalla akan ampuni jika benar-benar bertaubat. Allâh Ta’âlâ telah mengabarkan tentang keberadaan orang-orang munâfiq dari sebagian penduduk Madînah dan orang-orang munâfiq dari sebagian Arab Badui yang bertaubat:
اَلَمْ يَعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهٖ وَيَأْخُذُ الصَّدَقٰتِ وَاَنَّ اللّٰهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
“Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya dan menerima zakat mereka, dan bahwasanya Allâh adalah At-Tawwâb (Maha Penerima Taubat) lagi Ar-Rahîm (Maha Penyayang)?.” (Surat At-Taubah: 104).
Orang-orang munâfiq ketika itu ada dua kelompok sebagaimana yang Allâh terangkan pada dua ayat sebelum ayat tersebut.
Kelompok pertama: Mereka yang tetap di atas kemunâfiqkan, mereka tidak mau bertaubat, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:
وَمِمَّنْ حَوْلَــكُمْ مِّنَ الْاَعْرَابِ مُنٰفِقُوْنَ ۗ وَمِنْ اَهْلِ الْمَدِيْنَةِ مَرَدُوْا عَلَى النِّفَاقِ ۗ لَا تَعْلَمُهُمْ ۗ نَحْنُ نَـعْلَمُهُمْ ۗ سَنُعَذِّبُهُمْ مَّرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّوْنَ اِلٰى عَذَابٍ عَظِيْمٍ
“Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekitar kalian ada orang-orang munâfiq. Di antara penduduk Madînah (ada juga orang-orang munâfiq), mereka keterlaluan dalam kemunâfiqkannya. Engkau (wahai Rasûl) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (Surat At-Taubah: 101).
Masuk pada kelompok ini adalah ‘Abdullâh bin Ubay bin Salûl, bahkan ia adalah pimpinan mereka, mereka menyombongkan diri dan tidak mau bertaubat, Allâh Subhânahu wa Ta’âla terangkan keadaan mereka sebagaimana di dalam Surat Al-Munâfiqûn:
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَـكُمْ رَسُوْلُ اللّٰهِ لَـوَّوْا رُءُوْسَهُمْ وَرَاَ يْتَهُمْ يَصُدُّوْنَ وَهُمْ مُّسْتَكْبِرُوْنَ * سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ اَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ اَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ ۗ لَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ
“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah (beriman dengan sebenarnya), supaya Rasûlullâh memohonkan ampunan untuk kalian”, mereka membuang muka dan engkau lihat mereka berpaling dengan menyombongkan diri. Sama saja bagi mereka, engkau (wahai Rasûl) mohonkan ampunan untuk mereka atau tidak engkau mohonkan ampunan bagi mereka, Allâh tidak akan mengampuni mereka, sesungguhnya Allâh tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fâsiq.” (Surat Al-Munâfiqûn: Ayat 5-6) .
‘Abd bin Humaid dan Ibnu Jarîr meriwayatkan dari Qatâdah tentang ayat ini:
نزلت في عبد الله بن أبي
“Turun ayat ini tentang ‘Abdullâh bin Ubay.”
Dari sini dapat dipastikan bahwa orang-orang munâfiq yang tidak diampuni adalah mereka yang tidak mau bertaubat semisal ‘Abdullâh bin Ubay dan yang mengikuti jejaknya dalam kemunâfiqkan.
Kelompok kedua: Mereka yang mau bertaubat, tatkala mereka bertaubat maka Allâh menerima taubat mereka, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:
وَاٰخَرُوْنَ اعْتَرَفُوْا بِذُنُوْبِهِمْ خَلَطُوْا عَمَلًا صَالِحًـا وَّاٰخَرَ سَيِّئًا ۗ عَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّتُوْبَ عَلَيْهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Dan ada pula kelompok lain yang mengakui dosa-dosa mereka berupa mencampuradukkan amalan yang baik dengan amalan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allâh menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allâh adalah Ghafûr (Maha Pengampun) lagi Rahîm (Maha Penyayang).” (Surat At-Taubah: 102).
Ayat ini umum, munâfiq bagaimanapun kalau bertaubat dengan sebenar-benar taubat maka Allâh akan menerima taubatnya, meskipun kemunâfiqkannya itu i’tiqâdî tetap Allâh menerima taubatnya jika dia bertaubat dengan sebenar-benar taubat, sebagaimana yang telah Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ terangkan:
اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَاعْتَصَمُوْا بِاللّٰهِ وَاَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَاُولٰٓئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ وَسَوْفَ يُـؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, memperbaiki diri dan berpegang teguh pada agama Allâh dan dengan tulus ikhlâsh dalam menjalankan agama mereka karena Allâh. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang berîmân dan kelak Allâh akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang berîmân.” (Surat An-Nisâ’: 146).
Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir di Cipancur Klapanunggal Bogor.