HUKUM MENGUBUR MAYYIT MENGGUNAKAN PETI
Pertanyaan:
‘Afwân Ustâdzî, ana mau bertanya: ‘Afwân, apakah sah matinya seorang muslim dimasukan ke dalam sebuah peti? Dan apakah hukumnya?
Jazâkallâhu khayran
wa Bârakallâhu Fiykum.
Jawaban:
Memasukkan mayyit ke dalam peti lalu menguburnya merupakan amalan yang menyelisihi Syari’at pada umat ini maupun Syari’at pada umat terdahulu. Pada kisah kematian putera Âdam ‘Alaihimash Shalâtu was Salâm, disyari’atkan kepada saudaranya yang membunuhnya untuk menguburnya ke dalam tanah sebagaimana yang Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ terangkan kisahnya di dalam Al-Qur’ãn:
فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِى الْأَرْضِ لِيُرِيَهُۥ كَيْفَ يُوٰرِى سَوْءَةَ أَخِيهِ ۚ قَالَ يٰوَيْلَتٰىٓ أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هٰذَا الْغُرَابِ فَأُوٰرِىَ سَوْءَةَ أَخِى ۖ فَأَصْبَحَ مِنَ النّٰدِمِينَ
“Kemudian Allâh mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepada yang membunuhnya bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Dia berkata: “Celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal.” (Surat Al-Mâ’idah: 31).
Syari’at mengubur mayyit langsung ke dalam tanah ini kemudian diselisihi oleh umat yang merubah Syar’îat, Fir’aun raja Mesir dan para raja di berbagai negeri membuatkan peti untuk mengubur para mayyit.
Kemudian Syar’îat Islâm ini menyelisihi mereka, Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam di saat isteri beliau wafat, puteri dan putera beliau wafat dan para Syuhadâ’ Uhud wafat, beliau tidak menganjurkan untuk memasukkan mereka ke peti, bahkan mereka dikubur langsung ke tanah dengan dibuatkan lahad. Sebagaimana beliau juga di saat wafat, beliau dikubur langsung ke dalam tanah dan dibuatkan lahad pula, berkata ‘Âmir bin Sa’d bin Abî Waqqâs Radhiyallâhu ‘Anhumâ:
أَنَّ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي هَلَكَ فِيهِ: الْحَدُوا لِي لَحْدًا وَانْصِبُوا عَلَيَّ اللَّبِنَ نَصْبًا كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Bahwa Sa’d bin Abî Waqqâs berkata pada saat sakitnya, yang sakitnya itu menyebabkan beliau wafat: “Buatkanlah oleh kalian untukku lahad dan tancapkan satu batu nisan di atas kuburanku sebagaimana yang diperbuat pada kuburan Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam”. Riwayat Muslim.
Dengan demikian, tidaklah sepantasnya bagi orang-orang Muslim untuk memasukkan mayyit saudara mereka ke dalam peti lalu menguburnya, karena itu termasuk persyelisihan terhadap Syari’at dan penyerupaan terhadap non Muslim, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:
وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Janganlah keberadaan kalian termasuk dari orang-orang musyrik.” (Surat Ar-Rûm: 31).
Kalaulah ada saudara-saudari kita dari kalangan para pejabat atau para aparat pemerintah, tatkala mati lalu dimasukkan ke peti maka hendaklah kita mengeluarkannya dari peti. Kalau pemerintah mengharuskan mayyitnya berpeti maka masukkan tanah di dalam dasar peti sehingga mayyit berada di atas tanah langsung, supaya tidak ada yang menghalangi antara mayyit dengan tanah kecuali hanya kain kafan.
Demikian pula, tatkala mayyit akan dikubur di tanah yang berair sehingga menyayangkan mayyit akan terendam air maka tidak mengapa menggunakan peti, akan tetapi hendaklah di dalam dasar peti dimasukkan tanah sehingga mayyit berada di atas tanah langsung, supaya tidak ada yang menghalangi antara mayyit dengan tanah kecuali kain kafan.
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir pada hari Senin tanggal 13 Dzulqa’dah 1443 / 13 Juni 2022 di Pondok Pesantren / Majaalis Al-Khidhir Cipancur Klapanunggal Bogor.