HUKUM BERBUAT DOSA DENGAN ALASAN TAQDÎR
Pertanyaan:
Pak Ustâdz kenalin saya, umur saya masih 21 tahun tapi saya sudah jadi tulang punggung keluarga, saya juga selalu percaya sama taqdîr Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ tentang jalannya hidup saya tapi yang saya bingung: Apakah ketika saya melakukan kesalahan atau maksiat itu salah satu taqdîr juga pak Ustâdz? Itu selalu mutar-mutar jawabannya di kepala saya Ustâdz. Terima kasih sebelumnya Ustâdz.
Jawaban:
Apa yang kamu lakukan berupa kesalahan atau kemaksiatan itu juga termasuk dari taqdîr, namun tidak boleh bagimu untuk pasrah dalam berbuat kesalahan atau dosa dengan beralasan taqdîr. Pernah ada orang berbuat dosa di zaman Amîrul Mu’minîn ‘Umar Ibnul Khaththâb, ketika ditanya tentang perbuatan dosanya maka dia menjawab bahwa perbuatan dosanya itu adalah taqdîr, dia beralasan dengan taqdîr supaya mungkin tidak dihukum, maka Amîrul Mu’minîn langsung menghukumnya dengan mengatakan bahwa hukumannya itu juga taqdîr.
Orang yang ber’aqîdah shahîhah dan berkeyakinan benar pasti akan mengimani bahwa segala yang terjadi pada dirinya adalah taqdîr, yang baiknya ataupun yang buruknya, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:
فَيَكْتُبُ رِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَعَمَلَهُ وَشَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ
“Sudah ditetapkan rezkinya, ajalnya, amal perbuatannya dan kesusahan atau kebahagiaanya.”
Setiap orang diberi pilihan untuk melakukan yang baik atau yang buruk, jika memang dia ditaqdîrkan kepada yang baik maka dia akan dipermudah untuk melakukannya dan jika ditaqdîrkan kepada yang buruk maka dia akan dipermudah pula untuk melakukannya, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:
اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ
“Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan terhadap apa yang diciptakan untuknya. Adapun orang yang keberadaannya termasuk dari orang-orang bahagia maka dia akan dimudahkan untuk beramal dengan amalan orang-orang yang bahagia. Adapun orang yang keberadaannya termasuk dari orang-orang yang celaka maka akan dimudahkan untuk beramal dengan amalan orang-orang yang celaka.” Riwayat Al-Bukhârî dan Muslim.
Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berkata dengan perkataan itu, supaya orang tidak bergantung kepada taqdîr, namun hendaklah seseorang tetap berusaha untuk melakukan amalan kebaikan.
Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada malam ‘Âsyurâ’ 1444 / 8 Agustus 2022 di Cipancur Klapanunggal Bogor.