AL-QUR’AN MURNI BERBAHASA ARAB, TIDAK TERCAMPUR BAHASA NUSANTARA

Pertanyaan:
Seorang kyai mengungkapkan bahwa ada satu kalimat di dalam Al-Qur’ãn yang ternyata diambil dari bahasa Nusantara, yaitu terletak pada surat Al-Insãn ayat 5:

إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا

“Sungguh orang-orang yang berbuat kebaikan akan minum dari gelas minuman yang campurannya adalah air kâfûr.”
Kyai tadi tegaskan bahwa kâfur itulah satu-satunya kalimat di dalam ayat Al-Qur’ãn yang diyakini diambil dari bahasa Nusantara atau Indonesia.
Mohon Ustâdz menjelaskannya? Apakah keyakinan itu benar?.

Jawaban:
Termasuk dari keyakinan yang salah tatkala ada ungkapan bahwa ada satu kalimat di dalam Al-Qur’ãn diambil dari bahasa Nusantara. Ahlul Qur’ãn telah mengimani bahwa Al-Qur’ãn seluruhnya berbahasa Arab, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:

إِنَّا جَعَلۡنَـٰهُ قُرۡءَ ٰ⁠ نًا عَرَبِیࣰّا لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ

“Sungguh Kami telah menjadikan Al-Qur’ãn dalam bahasa Arab supaya kalian memahami.” [Surat Az-Zukhruf: 3].
Allâh ‘Azza wa Jalla berkata:

كِتَـٰبࣱ فُصِّلَتۡ ءَایَـٰتُهُۥ قُرۡءَانًا عَرَبِیࣰّا لِّقَوۡمࣲ یَعۡلَمُونَ

“Kitâb yang dijelaskan ayat-ayatnya, Al-Qur’ãn dalam bahasa Arab untuk kaum yang mengetahui.” [Surat Fushilat: 3].

Bahasa Arab yang dimaksud adalah bahasa Arab di zaman Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam yang belum tercampur dengan bahasa non Arab, andaikan ada kosa kata non Arab didapati di dalam Al-Qur’ãn maka pasti Ahlu Tafsîr akan menerangkan di dalam kitâb tafsîr mereka, dan sebelum mereka pasti para Shahabat, Tâbi’în dan Atbâ’ut Tâbi’în akan menyebutkan ada satu kata atau beberapa kata dari bahasa non Arab.

Maka terlalu aneh dan sangat memaksakan kalau kemudian menyebut kata kâfûr di dalam Al-Qur’ãn itu diambil dari bahasa Nusantara, jangankan nama suatu kata dari bahasa Nusantara, nama negeri Nusantara saja tidak pernah disebut di zaman itu. Nusantara di zaman itu tidak dikenal, yang pernah disebut ketika itu hanya nama Hindia, itupun disebutkan oleh Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam hanya suatu jenis kayunya, beliau berkata:

عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْعُودِ الْهِنْدِيِّ

“Hendaklah kalian berobat dengan kayu Hindia ini.” Riwayat Al-Bukhârî.
Tidak disebutkan penamaan kayu itu sesuai penamaan orang Hindia, tidak disebutkan namanya gaharu, tidak pula disebutkan namanya kayu Surga, namun hanya disebutkan ‘ûd Hindî yakni kayu Hindia. Nama ini yang dikenal, oleh karena itu, tatkala Belanda memperluas kekuasaaan hingga sampai di kepulauan yang kita tempati ini, mereka namai dengan Hindia Belanda, karena nama Hindia itulah yang dahulu dikenal di Barat dan Timur Tengah.

Sekali lagi kita katakan dan ini adalah keyakinan yang benar bahwa tidak pernah ada riwayat menyebutkan di dalam Al-Qur’ãn ada kalimat bahasa Indonesia atau bahasa Nusantara. Kalaupun di dalam Al-Qur’ãn itu mengisahkan negeri atau nama-nama non Arab maka itu sesuai dengan bahasa Al-Qur’ãn yang berbahasa Arab, nama Ibrâhîm sesuai penamaan bahasa dalam Al-Qur’ãn, adapun non Arab akan beda penamaannya, disebut Abraha. Bahasa dalam Al-Qur’ãn menyebut Ummu ‘Îsâ dengan nama Maryam, bahasa non Arab ada yang menamainya dengan Mâriyah. Semua itu menunjukkan bahasa dalam Al-Qur’ãn murni bahasa Arab tidak mengambil dari bahasa non Arab.

Kita katakan tadi bahwa bahasa dalam Al-Qur’ãn adalah bahasa Arab yang digunakan di zaman Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, bukan bahasa Arab di zaman setelahnya, terlebih lagi di zaman sekarang, karena sudah banyak kata-kata non Arab diserap ke dalam bahasa Arab. Belakangan ini banyak bahasa non Arab digunakan ke dalam bahasa Arab, termasuk beberapa kata dari bahasa Indonesia, semisal sârungh dan indûmî.

Adanya bahasa Arab seperti ini jangan sampai dianggap begitu pula bahasa dalam Al-Qur’ãn. Kalau mau menyontohkan bahasa Nusantara atau bahasa Indonesia sangat banyak diambil dari bahasa Arab maka kita benarkan itu, dan Alhamdulillâh kita memiliki buku tentang kumpulan kosa kata Indonesia dari bahasa Arab yang berjudul “Kamus Al-Khidhir”, meskipun belum semua kosa kata dari bahasa Arab yang digunakan ke dalam bahasa Indonesia termaktub di dalam buku tersebut, namun

itu sudah cukup untuk dikatakan banyak kata-kata bahasa Indonesia diambil dari bahasa Arab, dan jangan digambarkan seolah-olah kosa kata Arablah banyak yang diambil dari bahasa Nusantara atau bahasa Indonesia.

Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir bin Salîm bin Syahdiah Al-Limborî pada malam Rabu 19 Muharram 1444 / 17 Agustus 2022 di Pondok Pesantren Majaalis Al-Khidhir Cipancur Klapanunggal Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/6673