DOA KERINGANAN DARI SAKARÂTUL MAUT
Pertanyaan:
Ustâdz, Hafizhakallâh (semoga Allâh menjagamu), bagaimana kedudukan hadîts tentang do’a:
اللهم هون علي سكرات الموت
“Yâ Allâh ringankanlah atasku sakarâtul maut (kepayahan-kepayahan saat akan mati).”
Jawaban:
Kita tidak mengetahui ada doa di dalam hadîts yang lafazhnya seperti itu, mungkin doa itu hanya berbentuk periwayatan secara makna, karena ada doa seperti itu yang teriwayatkan secara lafazh yaitu:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ الْمَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ
“Yâ Allâh tolonglah aku atas kesengsaraan-kesengsaraan atau kepayahan-kepayahan pada kematian.”
Lafazh doa ini adalah dha’îf, diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Mâjah serta At-Tirmidzî, dan At-Tirmidzî berkata:
هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ
“Ini adalah hadîts yang gharîb.”
Lafazh shahîh yang diucapkan oleh Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam adalah:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وارْحَمْنِي، وأَلْحِقْنِي بالرَّفِيقِ الأَعْلَى
“Yâ Allâh, berilah ampunan kepadaku dan rahmatilah aku. Ikutkanlah aku dengan Ar-Rafîq Al-A’lâ (para Nabî, para Shiddîq, Syuhadâ dan orang-orang Shâlih).”
Lafazh ini yang diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dan Muslim, serta Ahmad, Ibnu Mâjah dan At-Tirmidzî. Namun pada riwayat Ahmad, Ibnu Mâjah dan At-Tirmidzî dengan tambahan lafazh yang dha’îf, yaitu:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ الْمَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ
“Yâ Allâh tolonglah aku atas kesengsaraan-kesengsaraan atau kepayahan-kepayahan pada kematian.”
Adapun kalau seseorang membaca doa yang lafazhnya persis seperti hadîts dha’îf tersebut maka tidaklah mengapa, yang penting dia tidak maksudkan untuk mengamalkan hadîts dha’îf, dia hanya maksudkan berdoa. Tanpa kita ragukan lagi bahwa orang yang berdoa memiliki kebebasan baginya untuk meminta kepada Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ sesuai dengan yang dia inginkan, dia menginginkan memohon kepada Allâh ‘Azza wa Jalla supaya menolongnya dan meringankannya dalam menghadapi sakarâtul maut maka hendaklah dia berdoa dengan lafazh tersebut atau dengan lafazh lainnya yang dia susun sendiri jika dia mampu. Tatkala dia membaca doa, baik dari lafazh tersebut atau dari lafazh yang dia susun sendiri dengan maksud berdoa kepada Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ maka sungguh dia telah beribadah, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:
إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Sesungguhnya doa adalah ibadah.” Riwayat Ahmad dan Ibnu Mâjah.
Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada hari Jum’at 28 Muharram 1444 / 26 Agustus 2022 di Cipancur Klapanunggal Bogor.