ORANG MUSLIM TIDAK BERBUAT SYIRIK

Pertanyaan:
Bagaimana menanggapi orang yang melakukan shalat lima waktu, juga melakukan puasa wâjib dan sunnah, tapi ia juga sering melakukan kesyirikan, bahkan ia melakukan ibadah puasa dan shalat yang dikhususkan agar mendapat keberhasilan ini dan itu, mohon nasehatnya?.

Jawaban:
Dia telah mencampuradukkan keimanan dan kesyirikan, dengan sebab kesyirikan yang dia lakukan maka terhapuslah îmân dan amal shâlihnya secara keseluruhan, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:

وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا

“Kami hadapi terhadap apa yang mereka kerjakan dari suatu amalan lalu Kami menjadikannya bagaikan debu yang beterbangan.” [Surat Al-Furqân: 23].
Orang yang mencampur adukkan keimanan dan kesyirikan seperti itu, dia terus menerus padanya dan tidak bertaubat darinya maka kita hukumi dia musyrik sebagaimana dahulu Zaid bin ‘Amr bin Nufail Radhiyallâhu ‘Annâ wa ‘Anhu menghukumi kaum Jâhiliyyah sebagai orang-orang musyrik yang tidak berada di atas agama Ibrâhîm ‘Alihish Shalâtu was Salâm. Al-Bukhârî di dalam “Shahîh”nya telah menyebutkan suatu riwayat dari Al-Laits, beliau berkata:

كَتَبَ إِلَيَّ هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَتْ: رَأَيْتُ زَيْدَ بْنَ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ قَائِمًا مُسْنِدًا ظَهْرَهُ إِلَى الْكَعْبَةِ يَقُولُ: يَا مَعَاشِرَ قُرَيْشٍ، وَاللَّهِ مَا مِنْكُمْ عَلَى دِينِ إِبْرَاهِيمَ غَيْرِي

“Hisyâm telah menuliskan kepadaku dari ayahnya, dari Asmâ’ bintu Abî Bakr Radhiyallâhu ‘Anhumâ, beliau berkata: “Aku melihat Zaid bin ‘Amr bin Nufail dalam keadaan berdiri dengan menyandarkan punggungnya ke Ka’bah, beliau berkata: “Wahai segenap Quraisy, demi Allâh, tidak ada di antara kalian berada di atas agama Ibrâhîm selain aku.”

Padahal kaum Jâhiliyyah mengaku berada di atas agama Ibrâhîm, mereka mengaku mencintainya dan memuliakannya hingga mereka membuatkan gambarnya lalu mereka pajang di dalam Ka’bah, mereka juga melakukan amalan-amalan, mereka meyakini Allâh adalah Al-Khâliq (Maha Pencipta), Ar-Razzâq (Maha Pemberi rizki), mereka mengikrarkan Tauhîd Rububiyyah dan mereka juga beribadah sesuai adat yang mereka dapatkan secara turun temurun dari nenek moyang mereka, mereka melaksanakan amalan haji berupa thawâf di Ka’bah, mereka berinfâq, silaturrahim dan amalan-amalan lainnya. Dengan amalan-amalan itu mereka mengaku berada di atas agama Ibrâhîm ‘Alaihish Shalâtu was Salâm, namun Zaid bin ‘Amr bin Nufail Radhiyallâhu ‘Anhu mengingkari mereka, beliau kâfirkan mereka dan beliau tidak mengakui mereka berada di atas agama Ibrâhîm ‘Alaihish Shalâtu was Salâm, yang ada di atas agama Ibrâhîm ‘Alaihish Shalâtu was Salâm hanyalah yang benar-benar bertauhîd semisal dirinya, oleh karena itu bersaksi:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْهَدُ أَنِّي عَلَى دِينِ إِبْرَاهِيمَ

“Yâ Allâh, sungguh aku bersaksi bahwa aku di atas agama Ibrâhîm.” Riwayat Al-Bukhârî.

Andaikan Zaid bin ‘Amr bin Nufail Radhiyallâhu ‘Annâ wa ‘Anhu masih hidup dan beliau berdakwah di zaman ini, tentu beliau akan divonis sebagai takfîrî oleh Hizbiyyûn, akan dianggap termasuk khawârij oleh Murji’ah dan akan disebut Wahhâbî oleh Shûfiyyûn.

Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir sebelum kajian “Shahîhul Bukhârî” pada hari Ahad, 13 Rabî’ul Awwal 1444 / 9 Oktober 2022 di Pondok Pesantren Majaalis Al-Khidhir Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/6871