MENYERANG KEBENARAN UNTUK MEMENANGKAN SUATU PAHAM
Pertanyaan:
Irham Demak menyerang terus Ustâdz?.
Jawaban:
Itulah salah seorang yang jelek sikapnya terhadap kebenaran yang datang dari ‘Ulamâ Saudi seputar masalah murji’ah dan takfîr mu’ayyan. Orang semacam dia ingin cari keunggulan dalam menyuarakan pahamnya?!. Di matanya kalau orang sudah hizbî sudah berat diberi udzur, makanya di saat orang sekelompok dengan dia dianggap hizbî, diapun paling terdepan membela. Penghizbian harus mengikuti ketentuan mereka, kalau seseorang sudah dianggap sebagai hizbî maka harus barâ darinya, sampai tidak boleh memberi kesempatan kepadanya untuk merasakan kebaikan sebagaimana persiapan jihâd di Dammâj dahulu, siapa yang tidak ikut menghizbikan maka tidak boleh ikut jaga, padahal yang mengatur jaga kita dan yang merasakan repotnya kalau ada yang berhalangan jaga adalah kita. Suatu saat dia datang ingin mengomando ke kita, dia perintahkan untuk memecat Abû Sa’îd jaga, alasannya karena tidak menghizbikan.
Kita waktu itu terasa sesak dada, lalu siapa lagi yang akan mau jaga banyak, sementara saat itu kita sangat memerlukan orang untuk ikut jaga.
Lihatlah betapa jeleknya dalam menerapkan walâ dan barânya, anggaplah orang tersebut bukan lagi Salafî seperti mereka karena tidak menghizbikan, namun haknya sebagai seorang Muslim masih ada, dia ingin jaga, ingin jihâd maka diterima. Karena yang tidak diterima untuk jihâd adalah orang musyrik atau kâfir hingga memeluk Islâm terlebih dahulu, disebutkan di dalam suatu hadîts dari Al-Barâ’ Radhiyallâhu ‘Anhu:
أتَى النبي صلى الله عليه وسلم رَجُلٌ مُقَنَّعٌ بالحَديد، فقال: يا رسول الله، أُقَاتِلُ أَوْ أُسْلِمُ؟ قال: «أَسْلِم، ثم قَاتل»، فأسْلَم ثم قاتل فَقُتِل
“Seseorang mengenakan baju dari besi datang menemui Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, lalu berkata: Wahai Rasûlullâh, apakah aku berperang ataukah masuk Islâm?, beliau menjawab: “Masuk Islâmlah, kemudian berperanglah.” Lalu beliau masuk Islâm kemudian berperang lalu terbunuh.” Riwayat Al-Bukhârî dan Muslim.
Kalau Irham Demak ini, maunya jadi Salafî semacam dirinya terlebih dahulu atau yang penting ikut menghizbikan sesuai ketentuan mereka, baru diterima ikut jaga dan baru dianggap Salafî. Bagaimana akan menang melawan kaum kuffâr dari kalangan Râfidhah kalau mengharuskan yang datang dan mau ikut jaga harus sama dengan paham mereka dalam penghizbiaan?! Orang Muslim yang datang dan siap ikut dengan baik malah tidak diharapkan karena alasan tidak menghizbikan, justru yang diharapkan adalah bantuan orang yang tidak datang, yang telah menyebut kaum kuffâr Râfidhah sebagai syabâbul mu’min.
Lihat sekarang dengan entengnya menyerang kebenaran, kenapa dia tidak menulis bantahan berbahasa Arab terhadap kitâb “Al-Furûq baina ‘Aqîdatis Salaf Wa’aqîdatil Murji’ah”?! Atau bantahan terhadap kitâb “Mufîdul Mustafîd” dengan cari penguat para mustafîd atau teman majlisnya supaya memberi rekomendasi dan taqdîm?!.
Kasihan dia ini, lebih parah lagi orang yang sepaham dengannya berani menolak kebenaran yang bersumber dari Asy-Syaikh Shâlih Al-Fauzân ‘Afallâhu ‘Annâ wa ‘Anhu, dengan alasan karena beliau menyebar di vidio. Lebih parah lagi orang-orang yang sepaham dengannya, supaya kebenaran tidak didapatkan maka langsung mengomandokan untuk tidak boleh mengambil ilmu dari orang yang dakwahnya menyebar di vidio-vidio, ini cara cerdik untuk mengalihkan manusia dari kebenaran. Supaya kebenaran dari beliau tidak diterima, maka dijadikanlah vidio sebagai alasan, yang pada akhirnya kebenaran yang termaktub di kitâb beliau atau nukilan-nukilan faidah dari beliau ditinggalkan, hingga nampaklah keadaan mereka tidak akan menerima kebenaran kecuali dari kelompok mereka atau dari orang yang bersama mereka. Inilah masalah yang telah disebutkan oleh Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih di dalam “Masâilul Jâhiliyyah” pada masalah yang kedua puluh delapan:
أنهم لا يقبلون من الحق إلا الذي مع طائفتهم
“Bahwa mereka tidak akan menerima terhadap suatu kebenaran kecuali dari orang yang bersama kelompok mereka.”
Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir di Bogor.