HUKUM BERSENDAWA

Pertanyaan:
Ustadz mau nanya terkait hadist ini:

تجشأ رجل عند النبي صلى الله عليه وسلم فقال: كف عنا جشاءك فإن أكثرهم شبعا في الدنيا أطولهم جوعا يوم القيامة

“Ada orang yang bersendawa di dekat Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, lalu beliau berkata: “Tahan sendawamu di hadapan kami, karena orang yang paling sering kenyang di dunia, akan paling lama laparnya di hari Kiamat.” Riwayat At-Tirmidzî.
Bagaimana hukum sendawanya orang yang sedang asam lambung, kadang dia harus sering sendawa untuk mengurangi rasa panas dan tidak nyaman di dada dan tenggorokannya, kalau sedang kumat?.

Jawaban:
Hadîts yang disebutkan pada pertanyaan, telah dijelaskan oleh Al-Mubârakfûrî Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih, beliau berkata:

النهي عن الجشاء هو النهي عن الشبع لأنه السبب الجالب له

“Larangan dari bersendawa adalah larangan dari berkenyang-kenyang, karena sungguh berkenyang-kenyang adalah sebab yang memunculkan sendawa.”
Dengan demikian, bersendawa hukumnya adalah boleh, namun tatkala bersendawa di samping orang-orang maka ini teranggap kurang adab, terlebih lagi orang-orang yang di samping atau sekitarnya adalah orang-orang miskîn yang lapar maka seakan-akan suara sendawanya memperlihatkan kepada mereka tentang keadaan dirinya yang berkenyang-kenyangan. Ini mengingatkan kita dengan perkataan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

ليس المؤمنُ بالذي يشبعُ وجارُه جائِعٌ إلى جنبَيْهِ

“Bukanlah orang beriman yang dia kenyang dalam keadaan tetangganya kelaparan di sebelahnya.” Riwayat Al-Baihaqî dan Abû Ya’lâ.

Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada malam Ahad, 18 Jumâdil Awwal 1444 di Pondok Pesantren Majaalis Cipancur Klapanunggal Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7063