KEBERSAMAAN DENGAN ‘ULAMÂ

Pertanyaan:
Bagaimana menjawab pernyataan orang yang menyebutkan bahwa kami “menyendiri dari ‘Ulamâ” padahal kami yang telah banyak mengambil pendapat ‘Ulamâ dan mengkaji kitâb ‘Ulamâ yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia?.

Jawaban:
Kalau pernyataan itu dari orang yang ditokohkan atau orang sudah diakui termasuk ‘Ulamâ, barangkali dia menginginkan supaya kalian bersamanya dan berkelompok dengan kelompoknya. Kenyataan di zaman ini banyak kelompok seperti itu, banyak kelompok mengaku dan merasa kalau ‘Ulamâ atau Auliyâ’ itu hanya ada pada mereka, tidak pada yang lainnya. Maka dari itu, tatkala orang-orang tidak ikut berkelompok dengan mereka maka mereka akan merendahkan, menganggap hina atau bahkan mereka sesatkan, karena gambaran mereka bahwa ‘Ulamâ dan Auliyâ itu hanya yang berkelompok dengan mereka, sungguh benar apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih di dalam “Masâilul Jâhiliyyah” pada masalah ketujuh puluh delapan:

دعواهم أنهم أولياء الله من دون الناس

“Pengakuan mereka bahwa mereka adalah auliyâ’ Allâh, bukan orang-orang selain mereka.”

Meskipun kalian nyatakan kebersamaan kalian dengan para ‘Ulamâ, baik ‘Ulamâ yang masih hidup atau yang sudah wafat, tetap mereka tidak akan menganggap kalian bersama ‘Ulamâ, mereka akan menggambarkan kalian menyendiri dari ‘Ulamâ sampai kalian mau berkelompok dengan mereka baru kalian akan dianggap bersama ‘Ulamâ. Andaikan kalian mengisi hari-hari kalian dengan mengkaji kitâb-kitâb Al-Imâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb, Ibnu Bâzz, Ibnul ‘Utsaimîn atau merujû’ kepada ‘Ulamâ zaman ini semisal ke Asy-Syaikh Al-Muhaddits ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbâd atau Asy-Syaikh Shâlih Al-Fauzân, tetap kalian akan dikatakan menyendiri dari ‘Ulamâ kecuali tadi kita sebutkan kalian harus berkelompok dengan mereka baru kalian akan dikatakan bersama ‘Ulamâ.

Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/5510