SIAPAKAH WANITA YANG MEMUTUS SHALAT?
Pertanyaan:
Apa pendapat Ustâdz tentang wanita melewati orang shalat yang membatalkan shalatnya? Apakah khusus wanita haid yâ syaikh ataukah umum semua wanita?.
Jawaban:
Telah ada dalîl umum yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam “Shahîh”nya dari ‘Abdullâh bin ‘Abdillâh bin Al-Asham dari Yazîd bin Al-Asham dari Abû Hurairah dari Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:
يَقْطَعُ الصَّلاَةَ الْمَرْأَةُ وَالْحِمَارُ وَالْكَلْبُ
“Akan memutus shalat wanita, keledai dan anjing.”
Dalîl umum ini diperjelas oleh dalîl khusus yaitu hadîts marfû’ yang diriwayatkan Ahmad dan Ahlussunan dari ‘Abdullâh bin ‘Abbâs Radhiyallâhu ‘Anhumâ:
يقطع الصلاة الكلب الأسود والمرأة الحائض
“Akan memutus shalat anjing hitam dan wanita hâid.”
Di dalam suatu riwayat dari Qatâdah, beliau berkata:
قُلتُ لجابِرِ بنِ زيدٍ: ما يَقطَعُ الصَّلاةَ؟ قال: قال ابنُ عباسٍ: الكلبُ الأسودُ، والمرأَةُ الحائِضُ
“Aku berkata kepada Jâbir bin Zaid: Apa yang memutus shalat? Beliau menjawab: Berkata Ibnu ‘Abbâs: “Anjing hitam dan wanita hâid.”
Dan wanita haid yang dimaksudkan adalah wanita yang telah bâligh, adapun yang belum bâligh maka tidaklah memutus shalat, berkata Al-Imâm Ibnu Bâzz Rahimahullâh:
والصغيرة لا تقطع الصلاة، وإنما تقطعها المرأة التامة البالغة التي قد بلغت المحيض
“Wanita kecil tidaklah memutus shalat, hanyalah yang memutus shalat adalah wanita yang telah bâligh yaitu wanita yang benar-benar telah hâid.”
Keberadaan wanita bâligh yang memutus shalat di sini adalah wanita yang tatkala lewat di depan orang shalat, adapun kalau berdiam atau berbaring di depan orang shalat dan tidak melewatinya maka tidaklah memutus shalatnya, sebagaimana yang dilakukan oleh ‘Âisyah saat berbaring di hadapan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam yang sedang shalat, dan Maimûnah Radhiyallâhu ‘Anhâ juga pernah berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَأَنَا حِذَاءَهُ وَأَنَا حَائِضٌ وَرُبَّمَا أَصَابَنِي ثَوْبُهُ إِذَا سَجَدَ
“Dahulu Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam shalat dan aku di sampingnya dalam keadaan aku hâid, terkadang kainnya mengenaiku jika beliau sujud.”
Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada hari Jum’at, 27 Jumâdal Ãkhirah 1444 di Klapanunggal Bogor.