HUJJAH ATAS YANG TIDAK TAHU

Pertanyaan:
Ustâdz, ada syubhat menyebutkan: “Bahwa yang menjelaskan dan membantah ‘aqîdah murji’ah sekarang ini orang-orangnya masih bikin dosa membuat gambar makhluk bernyawa, padahal awal mula kesyirikan itu timbul dari gambar makhluk bernyawa maka tinggalkan mereka dan jangan dengarkan perkataan mereka.”
Ustâdz, bagaimana menanggapi syubhat macam ini?.

Jawaban:
Itu salah satu upaya untuk mengalihkan dan menjauhkan manusia dari suatu kebenaran, kalau alasan mereka ingin menghajr pelaku dosa yang bergampangan membolehkan gambar makhluk bernyawa atau ingin menghajr orang yang membiarkan di vidio maka bukankah yang menjelaskan kesesatan paham murji’ah ada pula dari Ahlul ‘Ilmi yang mereka juga tidak membolehkan gambar makhluk bernyawa?!. Bukankah Al-Muhaddits Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin ‘Afallâhu ‘Annâ wa ‘Anhu memiliki penjelasan sebagaimana di dalam kitâbnya “Al-Îdhâh wat Tabyiîn ‘alâ Hukmil Istighâtsah bil Amwât wal Ghâibîn”. Dan beliau termasuk pula yang tidak membolehkan gambar makhluk bernyawa, beliau berkata:

لَمْ يَسْبِقْ أَنْ أَذَنْتُ بِتَصْوِيْرِي إِلاَّ لِبِطَاقَةٍ شَخْصِيَّةٍ أَوْ جَوَازِ سَفَرٍ وَلاَ أَسْمَحُ لِأَحَدٍ بِتَصْوِيْرِي وَلاَ نَشْرِ صُوَرٍ لِي

“Belum pernah aku mengizinkan untuk menfotoku kecuali untuk kartu tanda penduduk atau paspor, dan aku tidak mengizinkan seorangpun untuk menfotoku dan tidak pula aku izinkan menyebarkan foto-fotoku.”
Dan sampai berita kepada kita dari ikhwah yang ikut kajian beliau di Masjid Nabawî bahwa beliau tidak membolehkan memfoto atau memvidio beliau.

Andaikan tidak ada lagi seperti kita yang menjelaskan kesesatan paham murji’ah kecuali hanya ‘ulamâ yang membiarkan diri mereka di gambar atau di vidio maka keberadaan mereka itu adalah hujjah:

من علم حجة على من لم يعلم، ومن حفظ حجة على من لم يحفظ

“Orang yang tahu adalah hujjah atas orang yang tidak tahu, dan orang yang hafal adalah hujjah atas orang yang tidak hafal.”

Jangan sampai para pembuat syubhat itu meniru prilaku yahûdi, ingin lari dari perealisasian Tauhîd dengan membuat suatu alasan sebagaimana alasan yahûdi bahwa para Shahabat berbuat syirik, karena mengucapkan kepada Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

ما شاء الله وشئت

“Atas kehendak Allâh dan kehendak engkau.”

Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada malam Kamis, 4 Rajab 1444 di Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7151