HUKUM MENGKAFIRKAN ORANG TERTENTU

Pertanyaan:
Ustâdz, ijin bertanya dengan dua pertanyaan saja:
1). Benarkah bahwa pengkafiran ta’yîn (orang tertentu) harus orang yang dijuluki syaikh atau yang di’ulamâkan, kalau bukan yang di’ulamâkan maka ikuti saja yang di’ulamâkan, kalau tidak maka jadi takfîrî.
2). Sudah pantaskah bagi kita memvonis hizbiyyûn atas suatu kelompok yang tidak mengkâfirkan orang berkedudukan yang nyata-nyata telah jatuh ke dalam kekafiran seperti mengolok-olok Al-Qur’ãn atau menyembah kuburan?.

Jawaban:
Memvonis mereka sebagai hizbiyyûn itu teranggap vonis yang pantas atas mereka. Apalagi nampak kejahatan lisan dan sikap mereka dalam barâ’ meraka terhadap orang-orang Muslim yang menyelisihi mereka pada masalah yang jauh lebih kecil daripada masalah ini. Padahal akibat mereka tidak mengkafirkannya, membuat mereka berani mengakui dan menganggapnya sebagai walî mereka, sehingga yang menyelisihi walî mereka itu atau mengingkarinya langsung mereka vonis termasuk khawârij atau kilâbun Nâr. Tidakkah sampai menyentuh hati mereka perkataan Al-Waliyyul Hamîd ini:

وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِىِّ وَمَآ أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَآءَ وَلٰكِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُمْ فٰسِقُونَ

“Sekiranya mereka beriman kepada Allâh, kepada Nabî dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak akan menjadikan orang-orang musyrik itu sebagai para walî. Tetapi banyak di antara mereka, orang-orang yang fâsiq.” (Al-Mâ’idah: 81).
Adapun masalah mengkafirkan orang tertentu yang nyata-nyata melakukan kekafiran, semisal menyembah kuburan atau mengolok-olok Al-Qur’ãn maka tidak khusus yang mengkafirkannya adalah orang yang digelari ‘âlim ‘ulamâ, terlebih lagi yang digelari syaikh, namun siapapun yang memiliki burhân boleh menghukumi atas kekafiran orang tersebut sesuai kekafiran yang ditampakkannya. Salaf kita jelas, di antaranya ‘Amr bin ‘Abasah As-Sulamî Radhiyallâhu ‘Anhu, beliau sebelum masuk Islâm, tatkala melihat keadaan kaum jâhiliyyah menyembah selain Allâh, maka beliau menvonis mereka, beliau berkata:

لَيْسُوا عَلَى شيء

“Mereka tidak di atas sesuatu.”
Yakni mereka tidak di atas agama Ibrâhîm ‘Alaihish Shalâtu was Salâm sebagaimana yang dipersaksikan oleh Zaid bin ‘Amr bin Nufail:

يَا مَعَاشِرَ قُرَيْشٍ، وَاللَّهِ مَا مِنْكُمْ عَلَى دِينِ إِبْرَاهِيمَ غَيْرِي

“Wahai segenap Quraisy, demi Allâh, tidaklah ada di antara kalian di atas agama Ibrâhîm selainku.”
‘Amr bin ‘Abasah As-Sulamî keberadaannya bukan seperti Zaid bin ‘Amr bin Nufail, karena Zaid bin ‘Amr bin Nufail pernah menuntut ilmu ke Syâm dan berjumpa serta bertanya kepada ‘âlim ‘ulamâ dari kalangan Yahudî dan Nashârâ, sedang ‘Amr bin ‘Abasah As-Sulamî sebelum menjadi Shahabat beliau di atas keawamannya. Dan vonis beliau terhadap kaum jâhiliyyah tidak diselisihi oleh seorang ‘ulamâpun, karena memang itulah kebenaran.
Maka dari itu, betapa benar apa yang dikatakan oleh Al-Lajnah Ad-Dâ’imah yang diketuai Al-Imâm Ibnu Bâzz Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaihim:

من فعل أو قال أو اعتقد ما يقتضي الكفر حكم بكفره، وعومل معاملة الكفار، معينا كان أو غير معين، لعموم الأدلة

“Barangsiapa melakukan, mengatakan atau meyakini terhadap apa yang menjadikan kekafiran dia maka dihukumi sesuai dengan kekâfirannya. Dia diperlakukan sebagaimana memperlakukan orang-orang kâfir, sama saja secara ta’yîn ataupun tidak ta’yîn, karena keumuman dalîl-dalîl.”

Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/5874