BEDA SYIRIK DENGAN DOSA-DOSA BESAR
Pertanyaan:
“Dia menyamakan ancaman kesyirikan seperti ancaman pada dosa besar, bisa Allâh laksanakan ancamannya bisa tidak.” Tanggapannya Ustâdz?.
Jawaban:
Bagi pelaku syirik adalah terhapus amalan-amalannya, di saat dia melakukan kesyirikan maka seketika itu amalan-amalannya terhapus. Apabila dia mati dalam keadaan tidak bertaubat maka ancamannya dia kekal di dalam Neraka selama-lamanya, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:
إِنَّ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَـٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِینَ فِی نَارِ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِینَ فِیهَاۤۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِیَّةِ
“Sungguh orang-orang kâfir dari kalangan ahlul kitâb dan orang-orang musyrik berada di dalam Neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” [Surat Al-Bayyinah: 6].
Ancaman berupa kekekalan di dalam Neraka ini, Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ akan laksanakan sebagaimana pada Abû Thâlib akan dikekalkan di dalam Neraka, karena kesyirikannya dan itu adalah suatu kemestian.
Ancaman ini jangan menyamakannya dengan peringatan Allâh kepada para Rasûl-Nya, karena para Rasûl tidak pernah berbuat syirik, Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ katakan:
وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ
“Sungguh benar-benar telah diwahyukan kepadamu dan kepada para Rasûl sebelummu, jika kamu menyekutukan Allâh maka batallah amalanmu dan sungguh benar-benar kamu termasuk dari orang-orang merugi.” [Surat Az-Zumar: 65].
Ini tidak menerangkan para Rasûl pernah berbuat syirik, akan tetapi ini adalah peringatan bahwa orang-orang yang mau melakukan kesyirikan akan terhapus amalan mereka disebabkan kesyirikan yang mereka lakukan, Asy-Syaikh As-Sa’dî Rahimahullâh katakan:
فبالشرك تحبط الأعمال ويستحق العقاب والنكال
“Dengan sebab syirik maka dihapus amalan-amalan dan layak pelakunya diazab dan disiksa.”
Ini kaitannya dengan orang yang melakukan syirik, bagi yang telah melakukan syirik dan mati dalam keadaan tidak bertaubat maka dia tidak akan diampuni, dia kekal di dalam Neraka selama-lamanya. Berbeda dengan pelaku dosa-dosa besar, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَغۡفِرُ أَن یُشۡرَكَ بِهِۦ وَیَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَ ٰلِكَ لِمَن یَشَاۤءُ
“Sungguh Allâh tidak akan mengampuni berbuat syirik kepada-Nya dan dia akan mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” [An-Nisa’ ayat 48 dan ayat 116].
Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ menyebutkan dalam satu surat dua kali penyebutan supaya jangan sampai gagal paham, dosa syirik tidak akan pernah Allâh ampuni bagi yang tidak bertaubat. Adapun selain syirik berupa dosa-dosa besar yang tidak mengeluarkan pelakunya dari keislaman maka itu tergantung pada kehendak Allâh, kalau Allâh ingin melaksanakan ancaman kepadanya berupa siksa dan memasukannya ke dalam Jahannam maka Allâh akan lakukan, kemudian Allâh perintahkan untuk dikeluarkan dari Jahannam karena masih memiliki îmân berupa shalat yang diketahui dari bekas sujudnya. Adapun kalau Allâh tidak ingin melaksanakan ancaman kepadanya, namun langsung mengampuninya dan memasukkannya ke dalam Jannah maka itu sesuai kehendak-Nya.
Kejadian seperti sekarang yang lagi ramai ini, benar-benar mengingatkan tentang paling teramat pentingnya mengambil ‘aqîdah dari ahlinya, kalau tidak maka seseorang akan kacau dan tersamarkan berbagai perkara besar, hingga seperti itu, menyamakan ancaman syirik dengan ancaman dosa-dosa besar, Wallâhul Musta’ân.
( Muhammad Al-Khidhir ).