TANGGAPAN RINGAN SEORANG MUSLIMTERHADAP KOMENTAR ‘ABDUL ‘ALÎM

Apa yang dikatakan oleh ‘Abdul ‘Alîm sendiri itu menghujati dirinya dan mereka yang bersamanya. Menurut mereka kita orang-orang mumayyi’, kenapa mumayyi’ karena tidak menghizbikan. Di antara mereka menghizbikan Abû Hâzim dan yang tidak hizbikan mereka sebut mumayyi’, Syaikh mereka ‘Abdullâh Al-Iryânî dimumayyi’kan karena tidak sepakati mereka. Tapi beranikah mereka akan memuyyi’kan syaikh mereka yang lain karena tidak sepakati mereka dalam menghizbikan Abû Hâzim?. Konsekwensinya mereka harus mumayyi’kan juga.
Demikian pula ucapan mereka masalah tidak adanya tamayyuz, yakni kita tidak punya tamayyuz, justru merekalah yang tidak punya tamayyuz sama sekali dalam perkara ‘aqîdah yang paling prinsip. Yang penting satu aliran dengan mereka, maka mereka tidak permasalahkan, mau jadi pengacara atau pembela musyrik sekalipun yang penting sama-sama memerangi hizbiyyûn, yang penting sama-sama menganggap ‘Abdurrahmân Al-‘Adnî hizbî. Mau menganggap penyembah kubur muslim, tidak masalah bagi mereka, yang penting jangan tamyi’, tamyi’ sesuai paham mereka, harus kokoh katakan bahwa ‘Abdurrahmân hizbî.
Kasihan ‘Abdul ‘Alîm itu sudah senior masih saja mau membebek, ucapan-ucapannya dari perkataan Syaikhnya ‘Abdul Hamîd Al-Hajûrî atau dari Syaikhnya Thâriq Al-Ba’dânî sama dengan yang dihembuskan oleh Shiddîq Al-Bughisî.
Kalau ‘Abdul ‘Alîm katakan bahwa Syaikhnya ‘Abdul Hamîd bukan ‘âdzir, justru itu memperjelas hakekat mereka tidak punya tamayyuz dalam prinsip yang paling mendasar pada perkara ‘aqîdah ini, syaikhnya Abû Fairûz adalah ‘âdzir, syaikhnya Abû Bilâl Al-Hadhramî juga ‘âdzir, belum lagi yang lainnya yang belum menampakkan diri sehebat Abdul ‘Alîm yang sekarang tampil karena mungkin merasa besar untuk dapat menabrak hujjah, dia menganggap hujjah kita sebagai syubhat semisal sarang laba-laba. Padahal merekalah pemilik syubhat yang semisal dengan sarang laba-laba, Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ membuat permisalan sarang laba-laba itu pada orang-orang yang membuat tandingan-tandingan bagi Allâh yaitu orang-orang musyrik, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَآءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allâh adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui.” (Surat Al-‘Ankabût: 41).
Mereka mau menyibukkan para simpatisan mereka dengan perkara yang bukan prinsip pokok dan mendasar, perkara al-‘udzr bil jahli pada perkara ‘aqidah tauhîd mau mereka perjuangkan menjadi perkara khilâfiyyah, namun pada perkara pembid’ahan yang mereka gembar-gemborkan, mereka berat bila dikatakan masalah khilâfiyyah.
Kasihan, sudah puluhan tahun yang sering dan paling ramai mereka munculkan ke permukaan adalah penghizbiyyahan dan pembid’ahan. Adapun permasalahan prinsip yang paling pokok yaitu barâ’ dari kesyirikan dan ahlinya berupa mengkufuri ahlusy syirk, serta masalah al-‘udzr bil jahli pada perkara Tauhîd, seolah-olah mereka tutupi, apalagi di antara mereka katakan: “Kalau ini dibahas lebih mendalam nanti dimanfaatkan oleh khawârij.” Subhânallâh.
Hakekatnya mereka menutupi kebid’ahan berupa paham murji’ah, karena sebagian besar mereka terpapar paham murji’ah, tentu ini memperjelas penipuan mereka terhadap kaum Muslimîn, berkata Fadhîlatusy Syaikh Shâlih Al-Fauzân Ayyadahullâh:

السُّكوتُ علَى أهلِ البدعِ وعدمُ بيانِ بدعِهم هذا من الغش للمسلمين

“Diam terhadap ahlul bid’ah dan tidak menerangkan bid’ah-bid’ah mereka ini termasuk dari penipuan terhadap orang-orang Muslim.”
Maka bid’ah manalagi di zaman ini yang paling berbahaya daripada bid’ah irjâ’?! Lebih dahsyat lagi kalau kaum murji’ahnya berjubah Salafiyyah yaitu mereka menamakan diri mereka Salafiyyûn, sungguh benar apa yang dikatakan Ibrâhîm An-Nakha’î Rahimahullâh:

فِتنةُ المرجئة أخوَفُ على هذه الأمة من فتنة الخوارج

“Fitnah murji’ah lebih mengerikan atas umat ini daripada fitnah khawârij.”

Adapun kritikan mereka bahwa kita memiliki qiyas rusak, sebagaimana yang dikatakan oleh Shiddîq Al-Bughisî dalam penolakannya terhadap hujjah kita di saat kita menyebutkan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengusir orang-orang-orang dari majlis beliau, yang beliau telah ketahui kejahatan mereka yaitu orang-orang munâfiq, lalu Shiddîq membantah bahwa itu bertentangan dengan pemahaman Salaf, lalu siapa Salaf mereka kalau mereka menolak praktek dan perbuatan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam yang bersabar dengan tidak mengusir orang-orang munâfiq dari majlisnya?!.
Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam adalah Salaf kita sebagaimana yang telah beliau katakan kepada Sayyidah Ahlil Jannah Fâthimah ‘Alaihimash Shalâtu was Salâm:

فَإِنِّي نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَك

“Sungguh aku adalah sebaik-baik Salaf bagimu.”
Di antara mereka yang satu aliran dengan Shiddîq ini mengatakan bahwa di Dârul Hadîts Dammâj diusir hizbiyyûn. Maka kita katakan: Itulah pelajaran yang hendak mereka catat dan ingat, orang yang tidak menghizbikan ‘Abdurrahmân Al-Adnî maka mereka bawa ke mahkamah mereka lalu dituntut untuk mengakui ‘Abdurrahmân Al-‘Adnî hizbî, jika tetap pada pendiriannya untuk tidak katakan hizbî, terlebih kalau mempertahankan bahwa dia bukan hizbî maka diusir, dan ini terjadi pula pada beberapa orang Indonesia. Sampai kitapun dikomando oleh mas’ûl mereka untuk tidak menugaskan jaga orang yang tidak menghizbikan, Subhânallâh. Ini sudah memasuki tahap-tahap jihâd melawan kaum kâfir Râfidhah masih seperti itu.
Ketika itu, Asy-Syaikh Shâlih Al-Fauzân perhatian terhadap Dârul Hadîts Dammâj, saat beliau ditanya tentang situasi di Dammâj yang diperangi oleh Râfidhah, beliau menyampaikan kalimat berupa nasehat untuk jangan berselisih, tapi nasehat beliaupun diberi catatan kaki oleh salah seorang syaikh mereka, mengomentari karena mereka merasa benar. Perselisihan merekapun kalau dicermati bukan masalah prinsip yang paling pokok, bukan masalah antara Tauhîd dan syirik, bukan masalah Îmân dan thâghût, tapi masalah pembid’ahan dan penghizbiyyahan.
Dan kita sedih saat melihat di antara ikhwah kita orang-orang Indonesia yang sangat bersemangat kerja benteng-benteng di gunung Barrâqah atau di gunung Thullâb dan di Wâdî namun mereka sebut sebagai orang-orang mumayyi’, marîdh dan lain-lain. Biarlah orang-orang yang mereka sebut itu yang akan menjadi saksi di hadapan Allâh atas kejelekan mereka yang berada dalam jaringan Salafiyyûn Tsâbitûn itu.

( Muhammad Al-Khidhir ).

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7534