HUKUM BERTAWASSUL DENGAN ORANG YANG SUDAH MATI

Pertanyaan:
Ustâdz Abû Ahmad Muhammad Khidhir, semoga Allâh Ta’âlâ selalu menjaga Ustâdz.
Izin bertanya Ustâdz, berkaitan dengan permasalahan tawassul. Bagaimana hukum jika ada seseorang bertawassul dengan kedudukan seseorang yang dianggapnya shâlih sebagai perantara kepada Allâh?.

Jawaban:
Kalau orang shâlih tersebut masih hidup, lalu seseorang datang kepadanya bertawassul dengan doanya atau dia bertawassul dengannya dalam berdoa kepada Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ maka ini boleh, para Salaf telah beramal dengannya dan mencontohkannya.
Al-Imâm Al-Bukhârî Rahimahullâh meriwayatkan di dalam “Shahîh”nya dari Tsumamah bin ‘Abdillâh bin Anas dari Anas:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا. فَيُسْقَوْنَ

“Bahwa ‘Umar Ibnul Khaththâb Radhiyallâhu ‘Anhu dahulu apabila orang-orang telah kekeringan air maka beliau memohon hujan dengan Al-‘Abbâs bin ‘Abdil Muththalib, beliau berdoa: “Yâ Allâh dahulu sungguh kami dahulu bertawassul kepada-Mu dengan Nabî-Mu lalu Engkau menurunkan hujan kepada kami dan sungguh sekarang kami bertawassul kepada-Mu dengan paman Nabî-Mu maka turunkanlah kami hujan.” Lalu diturunlah hujan kepada mereka.”

Pada hadîts ini terdapat pengajaran ‘Umar Radhiyallâhu ‘Anhu kepada umat tentang kebolehan bertawassul dengan orang shâlih yang masih hidup. Adapun orang yang sudah mati maka tidak boleh bertawassul dengannya, siapapun dia, bahkan Nabî sekalipun tidak boleh bertawassul dengannya setelah wafatnya.
Dan ‘Umar Radhiyallâhu ‘Anhu tidak bertawassul dengan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam setelah wafatnya karena itu syirk akbar, berkata Al-Imâm Ibnu Bâzz Rahimahullâh:

ومن دعا الأنبياء أو دعا نبينا صلى الله عليه وسلم بعد الموت، أو استغاث بالصديق أو بـعمر أو بعثمان أو بعلي أو بغيرهم فقد اتخذهم آلهة، جعلهم آلهة مع الله

“Barangsiapa berdoa kepada para Nabî, berdoa kepada Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam setelah wafatnya atau memohon pertolongan kepada Ash-Shiddîq, kepada ‘Umar, kepada ‘Utsmân, kepada ‘Alî atau kepada selain mereka maka sungguh dia telah menjadikan mereka sebagai ãlihah (sesembahan-sesembahan), dia menjadikan mereka sesembahan-sesembahan bersama Allâh.”
Al-Imâm Ibnu Bâzz Rahimahullâh berdalîl dengan perkataan Allâh Jalla wa ‘Alâ:

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ * إِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ

“Orang-orang yang kalian seru (sembah) selain Allâh tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kalian menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruan kalian, dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak memperkenankan permintaan kalian. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikan kalian.” (Fâthir: 13-14).
Beliau berkata:


سماه شركًا

“Allâh menamainya syirik.”

Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada hari Rabu, 9 Dzulhijjah 1444 / 28 Juni 2023 di Ponpes Majaalis Al-Khidhir Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7746