PARA PEMBAWA API FITNAH JIKA TIDAK DAPATI SESUATU YANG BISA DIBAKAR MAKA MEREKA AKAN SALING MEMBAKAR

Pertanyaan:
Ustâdz ‘âfwân, ana melihat fitnah di kalangan RII makin menjadi-jadi sekarang ustâdz, menurut antum siapa di antara mereka di atas kebenaran?.

Jawaban:
Mereka semua sama, mereka adalah ‘âdzirûn, kalau bukan ‘âdzirûn maka menjadi para pembela ‘âdzirûn dalam memusuhi dan menjuluki Ahli Tauhîd sebagai khawârij, mereka akan barâ’ dari siapa yang menjelaskan hakekat mereka, dan walâ mereka hanya dengan sesama mereka dalam satu komando.
Itulah keberadaan mereka sebagai hizbiyyûn, benar sudah apa yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Muqbil Al-Wâdi’î:

فالحزبية ولاءها ضيق لأهل حزبهم

“Hizbiyyûn walâ’ mereka itu sempit hanya pada orang-orang sekelompok dengan mereka.”

Lihat pada tahdzîran mereka, hakekatnya sama-sama menghujati mereka sendiri, seorang dâ’î dari mereka ditahdzîr oleh mereka lantaran memuji Asy-Syaikh Yahyâ Al-Hajûrî yang sudah dianggap haddâdî’ oleh rujukan utama mereka Asy-Syaikh Rabi’, seorang Ustâdz dari kalangan mereka ditahdzir oleh mereka lantaran memuji Al-Ustâdz Yazîd Jawwas yang telah mereka anggap sebagai surûrî, salah seorang dari dâ’î mereka ditahdzîr oleh mereka lantaran memuji Al-Ustâdz Dzulqarnain yang sudah mereka anggap sebagai hizbî. Bagi mereka kalau seseorang sudah memuji orang yang mereka hizbîkan maka diikutkan pula sebagai hizbî, demikian pula kalau seorang Ustâdz sudah keluar dakwah dan mengisi di suatu masjid yang masjid tersebut juga ada jadwal Ustâdz lain yang sudah mereka tahdzîr maka langsung dianggap sama, dianggap sudah gabung.
Keberadaan mereka sama dengan Salafiyyûn Tsâbitûn, kita ditahdzîr oleh mereka karena kita memuji mubtadi’ kata mereka, siapa mubtadi’nya?, Tentu yang sesuai dengan versi mereka.
Menurut Salafiyyûn Tsâbitûn, tidak boleh memuji Asy-Syaikh Rabî karena dia memuji sekaligus membela Asy-Syaikh ‘Abdurrahman Al-‘Adnî yang mereka telah hizbikan setengah mati. Kenyataannya, kita memuji Asy-Syaikh Rabî karena telah berjasa kepada kita, dengan sebab fatwânya kita dibantu oleh Laskar Jihad Ahlussunnah wal Jamâ’ah di saat kita diperangi oleh RMS.
Menurut RII, tidak boleh memuji Asy-Syaikh Yahyâ Al-Hajûrî karena dia telah ditahdzîr oleh Asy-Syaikh Rabî, dibilang mubtadi’ atau haddâdî’ dan dibilang telah menyobek-nyobek dakwah Salafiyyah di penjuru dunia. Kenyataannya kita memuji Asy-Syaikh Yahyâ Al-Hajûrî karena telah berjasa kepada kita selama di Yaman dan juga dia telah mengomando jihâd dalam memerangi kaum kâfir Râfidhah di saat kita masih di Dammâj.

Keributan mereka dari tempo dulu hingga masa kini seputar itu, seputar memuji hizbî, kumpul dengan hizbî atau bersama hizbî, hanya seputar perkara itu, yang mereka namai perkara manhaj. Namun pada perkara ‘aqîdah tauhîd, mereka sama yaitu ‘âdzirûn, kalau bukan ‘âdzirûn maka akan menjadi pembela ‘âdzirûn dalam memusuhi dan menjuluki Ahli Tauhîd sebagai takfîriyyûn atau khawârij.
Perselisihan mereka tidak akan pernah ada ujungnya, karena akan terus disambung dengan alasan-alasan itu, dengan alasan memuji hizbî, memuji mubtadi’, duduk atau bersama mubtadi’.
Hakekatnya, mereka itu sama, tahdzîran mereka menjadi bumerang bagi mereka, tahdzîran mereka kembali kepada mereka:

فَتَقَطَّعُوۤا۟ أَمۡرَهُم بَیۡنَهُمۡ زُبُرࣰا كُلُّ حِزۡبِۭ بِمَا لَدَیۡهِمۡ فَرِحُونَ

“Kemudian mereka terpecah belah dalam urusan di antara mereka menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka masing-masing.” [Surat Al-Mu’minûn: 53].

Dijawab oleh:
Abû Ahmad Muhammad Al-Limborî.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/60