PERKATAAN ‘ULAMÂ DITERAPKAN TIDAK PADA TEMPATNYA

Sudah kita terangkan bahwa perkataan Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih yang dinukilkan oleh Al-Ustâdz ‘Abdul ‘Âlim hakekatnya memperjelas manhaj dan ‘aqîdahnya sebagai murji’, memang benar yang dikatakan oleh sebagian murid-muridnya bahwa bantahan yang dia suarakan itu menunjukkan kalau dia murji’ akut, Nas’alullâhas Salâmata wal ‘Âfiyah.
Perhatikan penggalan dari penukilannya terhadap perkataan Al-Imâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb Rahimahullâh:

وتفيد أيضاً أن المسلم المجتهد إذا تكلم بكلام كفر وهو لا يدري، فنُبِّه على ذلك فتاب من ساعته أنه لا يكفر

“Memberikan faidah pula bahwa seorang muslim mujtahid jika berkata dengan perkataan kekufuran dalam keadaan dia tidak mengetahui maka hendaklah mengingatkannya atas perkataan tersebut, jika dia bertaubat seketika itu maka sungguh dia tidaklah kâfir.”
Ini sangat jelas perkataan yang memerlukan penjelas, Alhamdulillâh beliau perjelas pada perkataan setelahnya:

كما فعل بنو إسرائيل والذين سألوا النبي صلى الله عليه وسلم

“Sebagaimana telah diperbuat oleh Banî Isrâ’îl dan orang-orang yang meminta kepada Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam.”
Yakni mereka tidaklah kâfir karena mereka belum melakukan kekâfiran ketika itu, maka pantaskah kalau kemudian perkataan tersebut diterapkan ke orang-orang yang sangat jelas mengatakan perkataan kekafiran seperti perkataan “Al-Qur’ãn porno” atau “zinâ halâl” atau perkataan kekafiran lainnya yang sangat jelas?!.

Kasihan Al-Ustâdz ‘Abdul ‘Âlim itu, sudah bergaya-gaya semangat membantah malah memperlihatkan keadaan dirinya, Nas’alullâhal ‘Âfiyah. Mirip dengan Asy-Syaikh Abû Bilâl Al-Hadhramî, berbicara masalah al-‘udru bil jahli yang dia tidak menganggap kâfirnya orang yang telah melakukan kesyirikan, tatkala dibantah diapun memunculkan bantahan berpaket-paket hingga salah satu paket bantahannya nampak sebagai bantahan atas perkataan dia sendiri sebelumnya yang dia tidak mau merasa telah salah. Itulah kalau membantah karena memiliki sifat gengsi dan ingin menang-menangan, Hasbunallâhu Wani’mal Wakîl.
Lihat pula Al-Ustâdz ‘Abdul ‘Âlim dalam semangatnya membantah dengan berani mengungkit bahwa kita tidak bersyukur hingga membawakan dalîl-dalîl kesyukuran untuk menghujati kita. Walhamdulillâh kesyukuran adalah salah satu ibadah, dan ibadah berupa kesyukuran kita terhadap kebaikan siapapun tidak perlu diketahui oleh orang semisal Al-Ustâdz ‘Abdul ‘Âlim dan jaringannya. Sungguh keterlaluan mereka yang telah berlebihan menganggap kita tidak bersyukur terhadap Dârul Hadîts dan para masyâyikhnya, seolah-olah kesyukuran itu gambarannya “jangan bicarakan mereka dan atau jangan menyalahkan mereka”. Sungguh betapa bagus perkataan Nabiuttaubah ‘Alaihish Shalâtu was Salâm:

لا يَمْنَعَنَّ رجلا هيبةُ الناس أن يقول بحق إذا علمه أو شهده أو سمعه

“Janganlah sekali-kali menghalangi rasa hormat orang lain kepada seseorang untuk mengatakan kebenaran jika dia mengetahuinya, menyaksikannya atau mendengarkannya.”

Ternyata bukan hanya Abû Zakariyâ dan orang semisalnya yang menghujat kita dengan alasan tidak mensyukuri kebaikan, namun ternyata seniornya Al-Ustâdz ‘Abdul ‘Âlim juga sama. Maka hendaklah jangan lagi menganggap kita membuat murid-murid mereka atau orang lain lari dari mereka, larinya dan atau perginya itu karena ucapan-ucapan yang tidak berbobot dan ungkitan-ungkitan seperti itu, karena itu menjijikkan seperti menjilatin muntahan kalau memang mereka yang memberi kebaikan-kebaikan itu, kalaupun mereka tidak merasa jijik maka itu akan menghapus pahala kebaikan-kebaikan yang mereka berikan jika memang mereka yang memberikan:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبۡطِلُوا۟ صَدَقَـٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ

“Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian membatalkan pahala sedekah kalian dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti (orang yang diberi).” [Surat Al-Baqarah: 264].

Andaikan kalau Asy-Syaikh Yahyâ Al-Hajûrî yang mengungkit kehidupan gratis dan apalah-apalah dari kebaikan di Dârul Hadîts Dammâj itu maka bukankah dia juga berseberangan dengan Asy-Syaikh Ahmad Al-Washâbî selaku pemegang urusan dana dan keuangan Dârul Hadîts dari sejak zaman Asy-Syaikh Muqbil?!. Bahkan sebelum itu, Asy-Syaikh Yahyâ Al-Hajûrî sudah berseberangan pula dengan gurunya sendiri Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb Al-Washâbî masalah Dârul Hadîts Dammâj, juga berseberangan dengan sebagian syaikh qabîlah Al-Wadi’îyyah masalah pengusiran terhadap orang-orang yang menyelisihinya dalam penghizbiyyahan. Kenapa Al-Ustâdz ‘Abdul ‘Âlim tidak sekalian katakan bahwa mereka yang berseberangan dengan Asy-Syaikh Yahyâ Al-Hajûrî itu tidak bersyukur terhadap Dârul Hadîts Dammâj dan masyâyikhnya ataukah mau katakan Asy-Syaikh Yahyâ Al-Hajûrî tidak bersyukur ke mereka?!.

(Abû Ahmad Al-Khidhir).

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/8408