‘ABDUL ‘ÂLIM HIZBÎ TERIAK HIZBÎ

Penyebutan ‘Abdul ‘Âlim bahwa kita hizbî, itu sudah biasa menjadi buah bibir dia dan orang-orang yang sealiran dengannya, jangankan kita, orang-orang yang sudah lama bersamanya saja kalau sudah berseberangan dengannya maka tidak lepas dari keburukan lisannya dengan menyebutkan hizbî dan penyebutan-penyebutan tidak baik lainnya. Jangankan kita, orang yang lebih baik dari kitapun tidak lepas dari vonis hizbî mereka. Keadaan ‘Abdul ‘Âlim dan lisannya itu seperti yang Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ katakan:

فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَیۡهِ یَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ یَلۡهَث

“Permisalannya seperti permisalan anjing, jika kamu menghalaunya maka akan tetap mengulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya maka tetap pula mengulurkannya lidahnya.” [Surat Al-A’râf: 176].

Adapun penukilannya terhadap perkataan Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimîn Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih pada syarh beliau terhadap “Kasyfusy Syubuhât” justru akan memperjelas hakekat dirinya dalam berhujjah dengannya, perberian udzur yang beliau bawakan pada perkara khafî, baik pada al-faîdah ats-tsâniyyah maupun pada al-faîdah ats-tsâlisatsah. Dan pada perkara jalî, beliau tidak memberi udzur, orang seperti ‘Abdul ‘Âlim yang memanfaatkan al-‘udzru bil jahli itu layak dipukulkan kepadanya perkataan beliau sekaligus pantas dia disebut bodoh sebagaimana yang beliau katakan:

تسمية هذا الرجل الذي ينذر للقبور والأولياء ويدعوهم، تسميته مسلمًا جهلٌ من المسمِّي، ففي الحقيقة أنّ هذا ليس بمسلم لأنه مشرك

“Menamai orang ini, yakni orang yang bernadzar kepada kuburan dan para walî serta berdoa kepada mereka, menamainya sebagai Muslim adalah kebodohan dari orang yang menamai, sesuai hakekatnya, dia ini bukanlah Muslim, sebab dia benar-benar musyrik.”

Dua fâidah yang disebutkan oleh beliau di dalam syarhnya terhadap “Kasyfusy Syubuhât” sangat diperjelas dengan perkataan beliau ini dalam penerapannya.
Adapun ‘Abdul ‘Alîm dan jaringannya Al-Hajûriyyûn menerapkan perkataan beliau tentang al-‘udzru bil jahli tersebut dan perkataan yang semisalnya kepada perkara jalî dan zhâhir, sehingga penyembah kubur dan penyembah arwah leluhur yang nampak-nampak bahkan sampai terus menerus di atas keadaannya masih mereka anggap Muslim. Lebih dari itu, mereka menjadi pengacaranya, bahkan menjadi pembelanya, terlebih kalau berkedudukan langsung mereka akui sebagai walî amr mereka, dan yang menghukumi sebagai musyrik atau kâfir, serentak mereka anggap khârijî atau takfîrî dan ghulû, Wallâhul Musta’ân.
Memalukan sekali, mereka sering menyuarakan al-walâ’ wal barâ’ dan merasa paling tahu ilmu, tahu-tahunya sangat salah dalam menerapkannya. Sudah keadaan mereka seperti itu buruk dan parahnya, mengaku lagi sebagai ahlul haq, mimpi kali:

كُلٌّ يَدَّعِي وَصْلا بِلَيْلَى وَلَيْلى لا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَ

“Semua mengaku-ngaku ada hubungan dengan Lailâ, namun Lailâ tidak mengakui memiliki hubungan dengan mereka.”

(Muhammad Al-Khidhir).

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/8421