SEBAB KESENJANGAN ANTARA AL-BUKHARI DENGAN GURUNYA ADZ-DZUHLI

Pertanyaan:
Apa bisa Ustadz dibenarkan penyebutan bahwa Adz-Dzuhli melontarkan fitnah kepada Al-Bukhari?.

Jawaban:
Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli tidaklah melontarkan fitnah kepada muridnya Al-Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari, beliau menyikapinya, mentahdzirnya dan bahkan menghajrnya karena tidak memperjelas pernyataannya saat ada seseorang bertanya kepadanya:

يا أبا عبد الله، ما تقول في اللفظ بالقرآن، مخلوق هو أم غير مخلوق

“Wahai Abu ‘Abdillah, apa yang engkau katakan tentang pelafazhan terhadap Al-Qur’an, itu makhluk atau bukan makhluk?.”
Abu ‘Abdillah Al-Bukhari berpaling darinya dan tidak menjawabnya, sampai orang tersebut mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali. Kemudian Al-Bukhari menjawab:

القرآن كلام الله غير مخلوق، وأفعال العباد مخلوقة والامتحان بدعة

“Al-Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluk, perbuatan-perbuatan para hamba adalah makhluk dan menguji itu bid’ah.”
Jawaban dengan tidak memperjelas tentang pelafazhan inilah membuat orang-orang meributkannya hingga meninggalkannya.
Al-‘Allamah Ibnu Bazz Rahmatullah ‘Alaina wa ‘Alaih telah menerangkan malasah ini, beliau katakan:

القرآن هو كلام الله، البخاري وغيره رحمه الله يقولون: أنه كلام الله منزل غير مخلوق، ولكن إذا قال: لفظي بالقرآن مخلوق، هذا فيه احتمال، فلهذا رأى الأئمة ترك ذلك، وإذا أراد صوته فصوته مخلوق

“Al-Qur’an adalah Kalamullah, Al-Bukhari dan selainnya Rahimahullah mengatakan: Bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah yang diturunkan, bukan makhluk. Akan tetapi jika mengatakan: Pelafazhanku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk, maka ini ada padanya kemungkinan. Oleh karena itu, para imam berpendapat untuk meninggalkan perkataan tersebut, jika yang dia maksudkan adalah suaranya maka suaranya itu makhluk.”
Al-‘Allamah Ibnu Bazz memperjelas keterangannya:

فإذا قال: صوتي مخلوق، أما القرآن فهو كلام الله وأوضح الأمر فلا حرج، إذا وضح أن مراده صوته، ولهذا كره إطلاق هذه الكلمة بعض أهل العلم: لفظي بالقرآن مخلوق؛ لأنه يوهم

“Jika dia katakan: “Pelafazhanku adalah makhluk, adapun Al-Qur’an maka ini adalah Kalamullah, dalam keadaan dia perjelas perkaranya maka tidak mengapa jika dia perjelas bahwa maksudnya adalah suaranya. Oleh karena itu sebagian orang-orang berilmu membenci memutlakkan kalimat ini: “Pelafazhanku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk, karena sungguh ini akan munculkan salah persepsi.”
Dari sini jelas sudah letak perkaranya, yaitu Al-Imam Al-Bukhari tidak memperjelas, sehingga muncul berbagai kemungkinan dan perbedaan persepsi, maka tidak heran kalau kemudian Al-Imam Adz-Dzuhli menyikapi dengan tegas dan serius, hingga beliau menginginkan Al-Imam Al-Bukhari pergi dari negeri mereka, beliau berkata:

لا يساكنني هذا الرجل في البلد

“Jangan orang ini tinggal denganku di satu negeri.”
Bahkan beliau sampai memperingatkan para murid untuk tidak mengikuti perkataan Al-Bukhari dan beliau nyatakan:

ألا من قال باللفظ فلا يحل له أن يحضر مجلسنا

“Ketahuilah, siapa yang berkata tentang pelafazhan (terhadap Al-Qur’an itu makhluk) maka tidak halal baginya untuk hadir di majlis kami.”
Beliau pertegas lagi dalam menyikapinya dengan sangat serius sebagaimana yang beliau katakan:

ومن زعم أن لفظي بالقرآن مخلوق فهذا مبتدع، لا يجالس ولا يكلم

“Barangsiapa meyakini pelafazhanku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk maka dia ini adalah mubtadi’, tidak boleh duduk dengannya dan tidak boleh berbicara dengannya.”
Karena Al-Bukhari tidak memperjelas masalah pelafazhan maka dari sinilah dianggap sebagai kekeliruannya, dengan sebab itu banyak para ulama besar saat itu ikut menghajrnya, termasuk dua imam besar yaitu Al-Imam Abu Hatim dan Abu Zur’ah Rahmatullah ‘Alaina wa ‘Alaihim.
Setelah terjadi apa yang terjadi, Al-Imam Al-Bukhari kemudian memperjelas perkaranya sebagaimana pada perkataannya:

حركاتهم وأصواتهم واكتسابهم وكتابتهم مخلوقة. فأما القرآن المتلو المبين المثبت في المصاحف، المسور المكتوب، الموعى في القلوب، فهو كلام الله ليس بمخلوق. قال الله تعالى: بَلۡ هُوَ ءَایَـٰتُۢ بَیِّنَـٰتࣱ فِی صُدُورِ ٱلَّذِینَ أُوتُوا۟ ٱلۡعِلۡمَ

“Gerak-gerik mereka, suara mereka, perbuatan mereka dan tulisan mereka adalah makhluk. Adapun Al-Qur’an yang dibaca, yang diterangkan, yang ditetapkan di dalam mushhaf-mushhaf, yang tersimpan di dalam hati maka itu adalah Kalamullah bukan makhluk. Berkata Allah Ta’ala: “Bahkan itu adalah ayat-ayat yang jelas di hati orang-orang diberi ilmu.” [Surat Al-Ankabut: 49].

Dan kita mengira Al-Imam Al-Bukhari tidak menganggap gurunya melontarkan fitnah kepadanya, bahkan kita yakin Al-Bukhari mengakui kebaikan dan ketsiqahan gurunya hingga tetap meriwayatkan hadits-hadits yang banyak darinya di dalamnya “Shahih”nya, Al-Bukhari katakan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah.” Yakni Muhammad bin Yahya bin ‘Abdillah Adz-Dzuhli. Terkadang Al-Bukhari mengatakan dengan ladazh:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ قَالَ

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad, beliau berkata.”
Yakni Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli.
Terkadang Al-Bukhari menyebutkan dengan lafazh:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَالِدٍ

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalid.”
Yakni Muhammad bin Yahya bin ‘Abdillah bin Khalid.
Dan Al-Bukhari pada satu riwayat di dalam “Shahih”nya memperjelas penyebutan tersebut, beliau katakan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَالِدٍ الذُّهْلِيُّ

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalid Adz-Dzuhli.”
Luar biasa Al-Bukhari dalam mengemban amanah ilmiah, beliau tetap menyebutkan ilmu dari pembawanya dan cukuplah ini sebagai pemulian beliau kepada gurunya, Rahmatullah ‘Alaina wa ‘Alaihima.

(Muhammad Al-Khidhir).

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/8908