SHALAT LAIL DI BULAN RAMADHÂN DINAMAI TARÂWIH

Pertanyaan:
Ustâdz, apa sama kalau kita shalat tarâwih di masjid sebelas raka’at sama shalat tahajjud di malam hari sebelas raka’at di rumah? Atau kalau sudah ikut tarâwih berarti tidak shalat malam tahajjud lagi?.

Jawaban:
Shalat tarâwih merupakan suatu nama dari shalat lail yang dilakukan di bulan Ramadhân, dinamai tarâwih karena para Salaf dahulu berkumpul di masjid untuk melakukannya secara berjamâ’ah dan setiap kali salâm dari dua raka’at maka mereka beristirahat sejenak, lalu mereka melanjutkan dua raka’at berikutnya hingga selesai delapan raka’at, kemudian mereka tutup dengan shalat witir tiga raka’at. Dan itu biasa dilakukan oleh Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam pada bulan Ramadhân ataupun pada selain Ramadhân, penamaannya sama yaitu shalat lail dan jumlah raka’atnya juga sama yaitu sebelas raka’at. ‘Âisyah isteri Nabî ‘Alaihimash Shalâtu was Salâm pernah ditanya:

كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ

“Bagaimana dahulu shalatul lail Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam di bulan Ramadhân?.”
Beliau menjawab:

مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهَا عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Tidaklah beliau menambah lebih dari sebelas raka’at di bulan Ramadhân dan tidak pula di selain Ramadhân.”
Dan kebanyakan shalat lail yang beliau lakukan itu di tengah malam, yakni setelah beliau bangun dari tidur, karena beliau lakukan setelah bangun tidur malam maka dinamailah tahajjud sebagaimana datang penyebutannya pada suatu hadîts dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallâhu ‘Anhumâ:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ

“Dahulu Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam jika bangun dari tidur malam maka beliau shalat tahajjud.”
Yakni shalat lail yang sebelas raka’at tersebut.
Dan waktu shalat lail itu panjang, mulai dari setelah shalat ‘isyâ hingga terbit fajar. Tatkala seseorang melakukannya di awal waktu langsung sebelas raka’at maka di tengah malam atau di sepertiga malam terakhir tidak perlu melakukannya lagi karena sudah dia tutupi dengan witir, Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا

“Jadikanlah akhir shalat lail kalian itu witir.”
Kalau sudah dilakukan di awal waktu secara sempurna sebelas raka’at, maka saat bangun di tengah malam cukup melakukan shalat dua raka’at, yaitu shalat setelah wudhû atau shalat dua raka’at untuk memutus ikatan syaithân sebagaimana yang dikatakan oleh Nabiurrahmah Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Setan akan mengikat dengan tiga tali ikatan pada otak kepala salah seorang di antara kalian di saat dia tidur, setan menjadikan ayunan pada setiap tali ikatannya sambil berkata: “Malam masih panjang bagimu, maka tidurlah”. Jika dia bangun lalu berdzikir kepada Allâh maka lepaslah tali ikatan yang pertama, jika dia berwudhu maka lepaslah tali ikatan yang kedua, jika dia shalat maka lepaslah tali ikatan yang ketiga sehingga pagi hari dia sehat dan tentram pada jiwanya. Jika tidak dia lakukan itu, maka pada waktu paginya dia gundah pada jiwanya dan malas.”

(Muhammad Al-Khidhir).

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/8934