MERAIH KEBERUNTUNGAN DENGAN BERAMAL SHALIH
السّلَامُ عَلَيكُم وَرَحمةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسمِ اللّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
إِِنَّ الْحَمْدَ للّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمنْ يُضْلِل فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اَللهُ أَكْبَرُ،اَللهُ أَكْبَرُ،اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَتًا وَاَصِيْلاً، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
يَقُولُ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَيَقُولُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
وَيَقُولُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
أَمَّا بَعْدُ
فيا أَيُّهَا المُؤْمِنوْنَ أوصيكم بتقوى الله فقد فاز المتقون
Berkata Allah Subhanahu wa Ta’ala:
إِنَّ لِلۡمُتَّقِینَ مَفَازًا
“Sungguh keberuntungan bagi orang-orang bertaqwa.” [Surat An-Naba’: 31].
Setiap orang yang ikut dalam perayaan hari raya ‘idul fithri di negeri kita Indonesia pasti akan mendengarkan ucapan:
مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ
“Semoga termasuk dari orang-orang yang berhari raya dan orang-orang yang meraih keberuntungan.”
Ini merupakan suatu ungkapan harapan dan doa seseorang yang telah melakukan puasa sebulan Ramadhan, ungkapan yang bagus ini merupakan ungkapan singkat sebagaimana ungkapan seseorang: “Selamat berhari raya ‘ied”. Dan lebih baik lagi bagi seseorang mengucapkannya secara sempurna yaitu:
جَعَلَنَا اللَّهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ العَائدِيْنَ والفَائِزِينَ
“Semoga Allah menjadikan kami dan kalian termasuk dari orang-orang yang berhari raya dan orang-orang yang meraih keberuntungan. “
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Ketahuilah bahwa orang-orang yang meraih keberuntungan adalah orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang mentaati Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah oleh kalian perkataan yang baik, niscaya Allah akan memperbaiki amalan kalian dan memberikan ampunan terhadap dosa-dosa kalian. Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah beruntung dengan keberuntungan yang besar.” [Surat An-Nur: 52].
Allah Jalla wa ‘Ala telah menetapkan bahwa orang-orang yang meraih keberuntungan adalah orang-orang yang mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya:
وَمَن یُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ یُدۡخِلۡهُ جَنَّـٰتࣲ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِینَ فِیهَاۚ وَذَ ٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِیمُ
“Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Demikian itulah kemenangan yang besar.” [Surat An-Nisa’: 13].
Allah Tabaraka wa Ta’ala juga katakan:
فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَ
“Barangsiapa diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah beruntung.” [Surat Ali ‘Imran: 185].
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Orang yang telah melakukan puasa Ramadhan selama sebulan hendaklah memiliki harapan:
مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ
“Semoga termasuk dari orang-orang yang berhari raya dan orang-orang yang meraih keberuntungan.”
Dan harapan seperti ini telah disebutkan di dalam suatu hadits yang shahih, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim:
عَنْ أَبِي صَالِحٍ الزَّيَّاتِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
“Dari Abu Shalih Az-Zayyat bahwasanya beliau mendengar Abu Hurairah semoga Allah meridhainya, beliau berkata: Berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Ada dua kebahagian bagi orang yang puasa yaitu kebahagian ketika dia ber’idul fithri dan kebahagiaan ketika dia berjumpa dengan Rabbnya.”
Di dalam suatu lafazh:
إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
“Ketika dia ber’idul fithri maka dia bergembira dengan ‘idul fithrinya dan ketika dia berjumpa dengan Rabbnya dia bergembira dengan puasanya.”
Di dalam lafazh Muslim:
إِذَا لَقِيَ اللَّهَ فَجَزَاهُ فَرِحَ
“Jika dia berjumpa dengan Allah maka Allah membalasnya, diapun bergembira.”
Sungguh demikian itulah keberuntungan yang besar.
Ikhwatal Iman Rahimakumullah.
Pada hari ini kita bergembira karena termasuk dari orang-orang yang berhari raya ‘idul fithri, dan menjadi harapan kita yang terus kita harapkan adalah menjadi orang-orang yang meraih keberuntungan, yaitu bergembira tatkala berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan perjumpaan dengan Allah itu adalah kematian.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Semua manusia tentu memiliki tabiat tidak suka dengan kematian, namun bagi orang yang beriman dan beramal shalih, tatkala kematian datang kepadanya maka dia menerima dan ridha. Berkata Al-Bukhari di dalam “Shahih”nya:
حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ: إِنَّا لَنَكْرَهُ الْمَوْتَ قَالَ: لَيْسَ ذَاكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ الْمَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ
“Telah menceritakan kepada kami Hajjaj, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammam, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Anas, dari ‘Ubadah Ibnush Shamit, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata: “Barangsiapa senang berjumpa dengan Allah maka Allah senang berjumpa dengannya dan barangsiapa benci berjumpa dengan Allah maka Allah benci berjumpa dengannya.” Berkata ‘Aisyah atau sebagian isteri-isterinya: “Sungguh kita benar-benar benci kematian.” Beliau berkata: “Bukan demikian, akan tetapi orang beriman jika kematian mendatanginya maka dia diberi kabar gembira dengan keridhaan Allah dan karamah-Nya, tidak ada sesuatupun yang lebih dia cintai daripada apa yang ada di depannya. Dia senang berjumpa dengan Allah dan Allahpun senang berjumpa dengannya. Dan sungguh orang kafir apabila didatangi kematian maka dia diberitahukan dengan azab Allah dan hukumannya, tidak ada sesuatupun yang lebih dia benci daripada apa yang ada di depannya, dia benci berjumpa dengan Allah dan Allahpun benci berjumpa dengannya.”
Ikhwatal Iman Rahimakumullah.
Allah ‘Azza wa Jalla telah memperingatkan kita bahwa perjumpaan dengan-Nya adalah suatu kemestian:
كُلُّ نَفۡسࣲ ذَاۤىِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ ثُمَّ إِلَیۡنَا تُرۡجَعُونَ
“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian, kemudian kepada Kamilah kalian akan kembali.” [Surat Al-Ankabut: 57].
Tatkala kita mengetahui dan menyadari bahwa perjumpaan dengan Allah itu adalah suatu kemestian maka hendaklah kita mempersiapkan diri dengan dua perkara agung yaitu melakukan amalan yang sesuai syari’at dan tidak melakukan kesyirikan, berkata Allah Jalla wa ‘Ala:
فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا
“Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah dia beramal dengan amal shalih dan tidak menyekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya.” [Surat Al-Kahfi: 110].
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Kita baru saja ditinggalkan oleh Ramadhan, bukan berarti selesai sudah amal shalih. Ketahuilah bahwa Ramadhan telah berakhir akan tetapi beramal shalih dan mentauhidkan Allah tidak akan pernah berakhir hingga kematian datang menjemput:
وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ یَأۡتِیَكَ ٱلۡیَقِینُ
“Beribadahlah kepada Rabbmu hingga datang kepadamu kematian.” [Surat Al-Hijr: 99].
Amal shalih yang kita lakukan di bulan Ramadhan hendaklah kita pertahankan melakukannya di selain Ramadhan, hendaklah kita jaga dan kontinyu melakukannya, meskipun tidak sebanyak pelaksanaannya di bulan Ramdhan, yang penting kontinyu, Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan suatu hadits:
عن الْقَاسِم بْن مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ قَالَ: وَكَانَتْ عَائِشَةُ إِذَا عَمِلَتْ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ
“Dari Al-Qasim bin Muhammad dari ‘Aisyah, beliau berkata: Berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Paling dicintainya amalan oleh Allah adalah yang paling kontinyunya meskipun sedikit.” Al-Qasim berkata: “Dahulu ‘Aisyah jika melakukan suatu amalan maka beliau menekuninya.”
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Selama Ramadhan, kebiasaan mayoritas kaum Muslimin adalah shalat tarawih di awal waktu, yakni setelah shalat sunnah ba’diyyah ‘isya langsung mereka melakukan tarawih delapan raka’at lalu mereka tutup dengan witir tiga raka’at. Hendaklah kebiasaan melakukan shalat lail seperti ini dijaga pula di selain Ramadhan, meskipun hanya melakukan witirnya saja tiga raka’at atau hanya melakukan satu raka’at witir saja, yang penting tetap dijaga. Shalat witir satu raka’at itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Dahulu Amirul Mu’minin ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘Anhu pernah shalat witir hanya satu raka’at, dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu karena sibuk dengan menjaga zakat dan atau sibuk dengan hadits, maka beliau melaksanakan witir sebelum tidur, beliau berkata:
أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ
“Orang terdekatku Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berwasiat kepadaku untuk aku witir sebelum aku tidur.”
Ini menunjukkan tentang betapa pentingnya shalat witir, yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah meninggalkannya di saat mukim maupun di saat safar.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Selain shalat lail yang hendak kita jaga dan kontinyu melakukannya, juga hendaklah kita jaga puasa-puasa sunnah sehingga kita dapat meraih keutamaan yang telah kita sebutkan tadi:
وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
“Jika berjumpa dengan Rabbnya maka dia berbahagia dengan puasanya.”
Dan di antara puasa sunnah yang hendak kita jaga adalah puasa enam hari di bulan Syawwal, berkata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
مَنْ صَامَ رَمَضانَ ثُمَّ أَتَبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كانَ كصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan lalu dia mengikutkannya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawwal maka keberadaannya seperti berpuasa setahun.”
Puasa enam hari ini, pelaksanaannya tidak harus berurutan, namun disesuaikan dengan keluasan dan kelonggaran waktu, yang terpenting masih di bulan Syawwal, baik di awal setelah tanggal satu Syawwal, di pertengahan atau di akhir Syawwal, Alhamdulillah ada keluasan dalam pelaksanaannya.
Ikhwatal Islam Rahimakumullah.
Sebagai pesan terakhir pada kesempatan ini, hendaklah kita muhasabah dan perbanyak introspeksi diri, apakah amal shalih dan peribadahan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala selama Ramadhan sudah menjadi jaminan bagi kita mendapatkan ampunan Allah Jalla wa ‘Ala?. Hendaklah kita takut kalau kita belum diampuni dosa-dosa kita, kalau kita belum diampuni maka kita mendapatkan dua kerugian sekaligus, kerugian karena belum diampuni dan kerugian akan mendapatkan doa kejelekan dari Rasul terbaik dari kalangan malaikat yaitu Jibril ‘Alaihish Shalatu was Salam yang diaminkan oleh Rasul terbaik dari kalangan manusia yaitu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jabir bin Samurah Radhiyallahu ‘Anhu berkata:
صعِد النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم المنبرَ، فقال: آمين، آمين، آمين، فلمَّا نزل سُئل عن ذلك، فقال: أتاني جبريلُ، فقال: رغِم أنفُ امرئٍ أدرك رمضانَ فلم يُغفرْ له، قُلْ: آمين، فقلتُ: آمين
“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam naik mimbar lalu beliau mengucapkan: “Amin, amin, amin”. Saat beliau turun, beliau ditanya tentang itu maka beliau menjawab: “Datang menemuiku Jibril lalu berkata: “Kehinaan bagi seseorang yang dia mendapati Ramadhan lalu dia tidak diampuni, ucapkanlah amin!.” Akupun mengucapkan amin.”
Oleh karena itu, hendaklah kita memperbanyak beristighfar dan memohon ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Allah memberikan ampunan yang luas untuk kita semua.
وَاعْلَمُوا أَنَّ الله أَمَرَكُمْ بِأَمْرِ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ فَقَالَ تَعَالى: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتُهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِىِّ يَا أيُّهَاَ الَّذِيْنَ اَمَنُوا صَلوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِد الناس مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَان وَعَلِىِّ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْن وَعَنِ التَّابِعِيْن وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلىَ يَوْمُ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَ ٰنِنَا ٱلَّذِینَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِیمَـٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِی قُلُوبِنَا غِلࣰّا لِّلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَاۤ إِنَّكَ رَءُوفࣱ رَّحِیمٌ
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْن وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
اَللّهُمَّ انْصُرْ مِنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَا الْمُسلِمِين وَالمُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِين وفِي كل مكان
اَللَّهُمَّ أَهْلِكَ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى وَالْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلْ الحَيَاةَ زِيَادةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلْ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَارِنَا آخِرَهَا، وَخَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ لِقَائِكَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ آخِرَ كَلاَمِنَا مِنَ الدُّنْيَا شَهَادَةَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللهِ
اللَّهُمَّ ثَبِّتْنَا بِالقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيِنِ، وَالحَمْدُ لله رَبِّ العَالَمِيِنَ
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبَحَمْدكَ أشْهدُ أنْ لا إلهَ إلا أنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وأتُوبُ إِلَيْكَ
Khutbah ‘Idul Fithri Al-Ustadz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullah pada tanggal 1 Syawwal 1445 di Halaman Apartemen Green Pramuka Jakarta Pusat.
⛵️ https://t.me/kumpulankhutbahalkhidhir/296