MENGHUKUMI KAFIR TERHADAP MUNAFIK YANG MENAMPAKKAN KEKAFIRAN

Pertanyaan:
Ustadz, benarkah kalau orang yang melakukan pembatal keislaman cukup dihukumi sebagaimana menghukumi orang-orang munafik yang pernah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghukumi mereka, karena mereka masih shalat yang itu penampakkan keislaman maka dihukumi mereka kaum Muslimin?.

Jawaban:
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghukumi orang-orang munafik sesuai yang nampak pada mereka, saat mereka menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan maka beliau memperlakukan mereka sesuai yang nampak.
Saat nampak mereka melakukan pembatal keimanan maka beliau langsung menghukumi mereka sebagai orang-orang kafir dan beliau tidak memberi udzur kepada mereka dan tidak pula memperhitungkan amalan mereka berupa shalat dan jihad mereka. Sebagaimana pada kisah orang-orang munafik yang mengolok-olok beliau, di suatu majlis pada perang Tabuk mereka berkata:

مَا رَأَيْنَا مِثْلَ قُرَّائِنَا هَؤُلاَءِ، أَرْغَبُ بُطُوْناً، وَلاَ أَكْذَبُ أَلْسُناً، وَلاَ أَجْبَنُ عِنْدَ اللِّقَاءِ يَعْنِي رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَأَصْحَابَهُ الْقُرَّاءَ 

“Kami tidak pernah melihat orang-orang seperti para pembaca Al-Qur’an ini. Mereka adalah orang-orang yang paling rakus perutnya, paling dusta lisannya dan paling pengecut ketika berjumpa musuh.” Yakni Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para Shahabatnya para pembaca Al-Qur’an.
‘Auf bin Malik saat mendengarkan olok-olokan mereka itu, maka beliau berkata kepada salah seorang dari mereka:

كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ مُنَافِقٌ، لَأُخْبِرُنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم

“Kamu telah berdusta, bahkan kamu adalah munafik. Sungguh aku benar-benar akan memberitahukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”
Lalu beliau pergi menemuinya, ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan wahyu, berkata Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma:

فَجَاءَ ذَلِكَ الرَّجُلُ إِلىَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَقَدِ ارْتَحَلَ وَرَكِبَ نَاقَتَهُ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! إِنَّمَا كُنَّا نَخُوْضُ وَنَتَحَدَّثُ حَدِيْثَ الرَّكْبِ، نَقْطَعُ بِهِ عَنَاءَ الطَّرِيْقِ

“Lalu orang itu datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sedangkan beliau telah beranjak dari tempatnya dan menunggangi untanya. Orang itu berkata: “Wahai Rasulullah! Kami hanya bersendagurau dan berbincang-bincang saja sebagaimana berbincangan suatu kafilah untuk melupakan kelelahan dalam perjalanan.”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menerima udzur mereka itu, bahkan beliau katakan kepada mereka dengan membacakan ayat:

أَبِٱللَّهِ وَءَایَـٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ * لَا تَعۡتَذِرُوا۟ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِیمَـٰنِكُمۡ

“Apakah kepada Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kalian perolok-olok. Jangan kalian minta maaf, Sungguh kalian telah kafir setelah kalian beriman.” [Surat At-Taubah: 65-66].
Mereka dihukumi telah kafir sesuai dengan penampakkan mereka terhadap kekafiran berupa pengolok-olokan mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka tidak diberi udzur karena bodoh atau karena bersenda gurau dan mereka juga tidak diberi maaf, karena menjadi kewajiban mereka adalah bertaubat dari kekafiran tersebut bukan membuat-buat udzur.

Dijawab oleh:
Al-Ustadz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullah sebelum kajian “Kitabut Tauhid”, Kamis 8 Dzulqa’dah 1445 / 16 Mei 2024 di Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/9451