PENTINGNYA BER’AQIDAH DENGAN ‘AQIDAH SHAHIHAH

Pertanyaan:
Hayyakallah Ustadz dan tim, mohon nasihatnya, kami mengenal dan mempelajari aqidah Salaf tidak berlatarbelakang lingkungan Syar’i. Saat sampai kepada kami realitas firqah murjiah yang mendaku Salaf, kemudian kami menujukan keberpihakan kami pada aqidah Tauhid Ahli Najd, kami kadang dibuat sedih dengan kalimat rancu mereka, seperti: “Antum bahasa Arab saja belum bisa, antum fiqih thaharah saja belum tuntas”. Itu kami dapati ketika kami menolak istifadah pelajaran aqidah kepada Ustadz komunitas tersebut. Sebenarnya bagaimana sikap tepat, kadang kami tetap istifadah dars selain ‘aqidah pada da’i-da’i murjiah tersebut.

Jawaban:
Kita katakan bahwa apalah artinya bisa bahasa Arab dan bisa menuntaskan fiqih thaharah, namun ‘aqidah tidak benar. Belajar bahasa Arab dan fiqih thaharah termasuk dari amalan-amalan yang berbentuk ucapan dan perbuatan, dan itu akan diterima manakalah dilandasi oleh ‘aqidah yang benar, berkata Al-Imam Ibnu Bazz Rahimahullah:

ومعلوم بالأدلة الشرعية من الكتاب والسنة أن الأعمال والأقوال إنما تصح وتقبل إذا صدرت عن عقيدة صحيحة، فإن كانت العقيدة غير صحيحة بطل ما يتفرع عنها من أعمال وأقوال

“Sudah dimaklumi dengan dalil-dalil yang syar’i dari Al-Qur’an dan As-Sunah bahwa perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan hanya akan benar dan diterima jika muncul dari ‘aqidah yang benar. Jika keberadaan ‘aqidah itu tidak benar maka batallah apa yang bercabang darinya dari perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan.”
Tatkala seseorang ‘aqidahnya telah benar dan dia juga telah mengetahui perkara-perkara yang teranggap fardhu ‘ain baginya maka sungguh itu adalah keutamaan baginya, jika dia ingin menambah pengetahuan selain dari fardhu ‘ain maka itu adalah tambahan keutamaaan baginya. Adapun jika dia tidak ingin menambah pengetahuan, dia hanya mencukupkan dengan apa yang dia telah ketahui maka tidak boleh untuk dicela. Ingat kisah seorang badui yang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat beliau menyebutkan perkara-perkara yang menjadi fardhu ‘ain baginya:

والذي أكْرَمَكَ، لا أتَطَوَّعُ شيئًا، ولَا أنْقُصُ ممَّا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ شيئًا

“Demi Allah yang telah memuliakan engkau, aku tidak akan melakukan yang sunnah-sunnah sedikitpun dan aku tidak akan mengurangi sedikitpun terhadap apa yang telah Allah wajibkan atasku.”
Mendengar pernyataan orang badui ini maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

أفْلَحَ إنْ صَدَقَ، أوْ دَخَلَ الجَنَّةَ إنْ صَدَقَ

“Beruntung jika dia jujur atau dia masuk Surga jika dia jujur.”
Atau beliau juga berkata tentangnya:

مَن سَرَّهُ أنْ يَنْظُرَ إلى رَجُلٍ مِن أهْلِ الجَنَّةِ، فَلْيَنْظُرْ إلى هذا

“Barangsiapa yang senang untuk melihat kepada seseorang yang termasuk dari penghuni Surga maka hendaklah dia melihat kepada orang ini.”
Kalau ada seorang Muslim yang keadaannya seperti orang awam badui tersebut maka sungguh dia lebih utama daripada orang yang merasa bisa bahasa Arab dan telah menuntaskan fiqih thaharah namun tidak benar ‘aqidahnya. Hanya perlu dimotivasi orang seperti itu supaya mempelajari bahasa Arab dan menuntaskan fiqih thaharah, jika tidak mau karena berbagai udzur padanya maka tidak boleh untuk memaksanya apalagi mencelanya.
Adapun mengambil faidah bahasa Arab atau fiqih selain ‘aqidah dari orang yang tidak benar ‘aqidahnya maka tidak mengapa bila memang tidak didapati ada orang yang benar ‘aqidahnya mengajarkan dan menebarkannya, bersamaan dengan itu hendaklah selalu meminta kepada Allah supaya dirizqikan orang ‘alim yang benar ‘aqidahnya sehingga dapat mengambil faidah darinya, sebagaimana pernah ‘Alqamah berdoa meminta jalis shalih lalu dipertemukanlah beliau dengan Abud Darda’ Radhiyallahu ‘Anhuma.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/10182