MEMAHAMI PENGGUNAAN DHAMIR NAHNU DALAM AL-QUR’AN

Pertanyaan:
Ustâdz Hafizhakumullâh, izin bertanya:

قُلۡ هَلۡ عِندَكُم مِّنۡ عِلۡمٍ فَتُخۡرِجُوهُ لَنَآ

“Katakanlah (wahai Nabî): “Adakah kalian memiliki ilmu sehingga kalian bisa mengemukakannya kepada kami?.” [Surat Al An’âm: 148].
Dhâmîr «نَا» pada «فتخرجوه لنا» itu siapa?.
Apakah nahnu litta’zhîm, yaitu Allâh ‘Azza wa Jalla?. Apakah ke Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam?. Apakah Allâh Jalla wa ‘Alâ dan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam?.

Jawaban:
Dari konteks kalimat menunjukkan bahwa dhamîr “nâ” pada jâr wa majrûr “lanâ” adalah Nabî Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, dan itu litta’zhîm karena beliau telah memiliki ilmu dari Allâh ‘Azza wa Jalla dan Allâh memerintahkan beliau dengan bentuk fi’il amr “qul” supaya mengajak bicara mereka yang tidak memiliki ilmu itu, ini seperti pada perkataan Allâh Subhânahu wa Ta’álâ:

قُل لَّن یُصِیبَنَاۤ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡیَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ

“Katakanlah (wahai Rasûl): “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allâh bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allâh bertawakallah orang-orang yang beriman.” [Surat At-Taubah: 51].
Dhamîr “nâ” dan “nahnu” yang dimaksudkan di sini adalah Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersama para Shahabatnya.
Sama pada kelanjutan ayat disebutkan fi’il amr “qul” dan khithâbnya:

قُلۡ هَلۡ تَرَبَّصُونَ بِنَاۤ إِلَّاۤ إِحۡدَى ٱلۡحُسۡنَیَیۡنِۖ وَنَحۡنُ نَتَرَبَّصُ بِكُمۡ أَن یُصِیبَكُمُ ٱللَّهُ بِعَذَابࣲ مِّنۡ عِندِهِۦۤ أَوۡ بِأَیۡدِینَاۖ فَتَرَبَّصُوۤا۟ إِنَّا مَعَكُم مُّتَرَبِّصُونَ

“Katakanlah (wahai Nabî): “Tidak ada yang kalian tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahîd). Dan kami menunggu-nunggu bagi kalian bahwa Allâh akan menimpakan azab kepada kalian dari sisi-Nya, atau (azab) melalui tangan kami. Maka tunggulah, sesungguhnya kami menunggu (pula) bersama kalian.”” [Surat At-Taubah: 51-52].
Berbeda halnya kalau tanpa fi’il amr “qul” dan tanpa dhamîr khithâb, sebagaimana pada perkataan-Nya:

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَـٰفِظُونَ

“Sungguh Kami yang menurunkan Al-Qur’ân dan sungguh Kamu pula yang benar-benar menjaganya.” [Surat Al-Hijr: 9].
Dhamír pada ayat ini dapat dipastikan adalah Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ dan dhamîr “nâ” atau “nahnu” di sini Litta’zhîm, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-‘Allâmah Al-Amîn Asy-Syinqithî:

وصيغة الجمع للتعظيم، كقوله: {إنا نحن نزلنا الذكر} [الحجر: ٩]، {إنا نحن نحيي الموتى} [يس: ١٢]، وهو جل وعلا واحد، إلا أنه يعبر عن نفسه بصيغة الجمع؛ لأجل التعظيم والإجلال

“Bentuk kata jama’ Litta’zhîm, seperti perkataan-Nya: “Sungguh Kami yang menurunkan Al-Qur’ân.” [Surat Al-Hijr: 9]. Dan perkataan-Nya: “Sungguh Kami yang menghidupkan yang mati.” [Surat Yâsîn: 12]. Dan Dia Jalla wa ‘Ala adalah Wâhid (Maha Bersendirian), hanya saja mengungkapkan tentang diri-Nya dengan konteks jama’ karena keagungan dan kemulian-Nya.”

Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir Ghafarallâhu lahu wa Radhiya ‘anhu pada kajian “Al-Adabul Mufrad” hari Ahad, 18 Rabi’ul Awwal 1446 / 22 September 2024 di Masjid Muti’ah Cipancur Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/10481