HUKUM MEMBACA DO’A QUNUT

Pertanyaan:
Ustâdz dalam pelaksanaan shalat shubuh sebanyak dua raka’at dan pada ruku’ yang kedua setelah bangkit dari ruku’ sebelum sujud kita membaca doa qunut, mohon penjelasannya Ustâdz, apakah doa qunut itu wâjib dibaca dengan isyarat mengangkat kedua tangan seraya berdoa atau bisa pula untuk tidak dibaca?.

Jawaban:
Ketahuilah semoga Allâh merahmati kami dan merahmatimu bahwa pelaksanaan qunut hanya pada dua tempat, yaitu pada qunut nâzilah dan qunut witr.
Adapun qunut nâzilah maka pelaksanaannya ketika ada perang dahsyat atau dilakukan untuk mendoakan kelemahan, kebinasaan dan kehancuran musuh, dan qunut ini tidak dilakukan sepanjang masa, namun terbatasi pada waktu tertentu, ketika tidak ada lagi perang dahsyat atau tidak ada lagi permusuhan maka tidak dianjurkan lagi untuk melakukannya, ini berdasarkan hadîts dari Anas Radhiyallâhu ‘Anhu, beliau berkata:

إِنَّمَا قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الرُّكُوعِ شَهْرًا

“Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam telah qunut setelah ruku’ selama sebulan”. Diriwayatkan Al-Bukhârî dan Muslim.
Dan beliau juga berkata dalam suatu riwayat:

قَنَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ

“Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam qunut sebulan, beliau mendoakan kebinasaan atas kaum Ri’li dan kaum Dzakwân”.
Dengan demikian keberadaan qunut nâzilah ini dilakukan karena adanya sebab dan kebutuhan padanya, berkata Al-Imâm Abul ‘Abbâs Ahmad Al-Harrânî Rahimahullâh:

أَنْ يُسَنَّ عِنْدَ الْحَاجَةِ إلَيْهِ، كَمَا قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخُلَفَاؤُهُ الرَّاشِدُونَ

“Disunnahkan ketika ada kebutuhan padanya sebagaimana telah qunut Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam dan para khalîfahnya yang terbimbing”.
Dan qunut nâzilah ini pelaksanaannya tidak khusus pada shalat tertentu, tidak khusus pada shalat shubuh namun umum pada shalat lima waktu seluruhnya, pada riwayat Al-Bukhârî dari Muhammad bin Sirin, bahwasanya beliau berkata:

سُئِلَ أَنَسٌ، أَقَنَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصُّبْحِ؟ قَالَ: نَعَمْ

“Anas ditanya: Apakah Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam qunut pada shalat shubuh? Maka Anas menjawab: “Iya”.
Apa yang beliau katakan di sini bukanlah pengkhususan qunut pada shalat shubuh, karena di dalam suatu riwayat beliau katakan:

كَانَ الْقُنُوتُ فِي الْمَغْرِبِ وَالْفَجْرِ

“Keberadaan qunut adalah pada shalat maghrib dan shalat shubuh”.
Apa yang dikatakan oleh Anas, ini bersesuaian dengan apa yang didiriwayatkan dari Al-Barâ’ Radhiyallâhu ‘Anhu sebagaimana di dalam riwayat Muslim bahwasanya qunut yang diadakan ketika itu adalah pada shalat maghrib dan shalat subuh, ini sesuai dengan apa yang keduanya saksikan, dan hadîts dari Abû Hurairah lebih memperjelas, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dari Abû Salamah, beliau berkata:

فَكَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقْنُتُ فِي رَكْعَةِ الاُخْرَى مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ وَصَلَاةِ الْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ بَعْدَ مَا يَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَيَدْعُو لِلْمُؤْمِنِينَ وَيَلْعَنُ الْكُفَّارَ

“Dahulu Abû Hurairah Radhiyallâhu ‘Anhu qunut pada raka’at terakhir dari shalat zhuhur, shalat isya’ dan shalat shubuh setelah beliau mengucapkan “Sami’allâhu liman Hamidah”, beliau mendoakan kebaikan untuk orang-orang berîmân dan beliau mela’nat orang-orang kâfir”.
Dengan demikian jelaslah bahwa yang diinginkan dengan qunut di sini adalah qunut nâzilah, dan Ishâq Al-Harbî berkata: Aku mendengar Abû Tsaur, beliau berkata kepada Abû Abdillâh Ahmad bin Hanbal:

مَا تَقُوْلُ فِي الْقُنُوْتِ فِي الْفَجْرِ؟ قَالَ: إِنَّمَا يَكُوْنُ الْقُنُوْتُ فِي النَّوَازِلِ

“Apa yang engkau katakan tentang qunut pada shalat shubuh?”. Maka beliau menjawab: “Hanyalah keberadaan qunut itu pada qunut nâzilah”.
Adapun qunut witr maka pelaksanaannya khusus pada shalat witr, yang dibaca setelah bangkit dari ruku’ pada raka’at terakhir, dengan lafazh qunutnya adalah:

اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

“Ya Allâh berilah petunjuk kepadaku sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah kesehatan kepadaku sebagaimana orang yang telah Engkau beri kesehatan, dan peliharalah aku sebagaimana orang yang telah Engkau pelihara, berilah keberkahan untukku sebagaimana orang yang telah engkau berikan keberkahan dan selamatkanlah aku dari kejahatan yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau yang menetapkan dan bukan ditetapkan kepada Engkau, dan sesungguhnya tidak ada kehinaan kepada orang yang Engkau pelihara serta tidak ada kemuliaan kepada orang yang Engkau musuhi. Maha suci Engkau wahai Rabb kami yang Maha Tinggi”. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Al-Hasan bin Alî dari Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam.
Dan yang lebih terperinci lagi adalah apa yang ditanyakan langsung oleh Abdullâh bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal kepada ayahnya, beliau berkata:

سَأَلْتُ أَبِي عَنِ الْقُنُوْتِ فِي أَيِّ صَلَاةٍ؟ قَالَ: فِي الْوِتْرِ بَعْدَ الرُّكُوْعِ

“Aku bertanya kepada bapakku tentang qunut, pada shalat mana saja?”. Beliau menjawab: “Pada shalat witr setelah ruku’”.
Dan kalau kita melihat kepada qunut yang dilakukan oleh orang-orang awam ketika shalat shubuh maka nampak jelas mereka mengkhususkan pada shalat shubuh dan mereka juga membaca doa qunut bukan doa qunut nâzilah, akan tetapi yang mereka baca adalah doa qunut witr, tentu ini menyalah tempatkan, Al-Imâm Ahmad dan At-Tirmidzî meriwayatkan bahwa Abû Mâlik Al-Asyja’î pernah bertanya kepada ayahnya:

يَا أَبَتِ إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ هَاهُنَا بِالْكُوفَةِ قَرِيبًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ أَكَانُوا يَقْنُتُونَ قَالَ أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ

“Wahai bapakku, sesungguhnya engkau telah shalat di belakang Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, Abû Bakr, Umar, Utsmân dan Alî di Kufah ini, sekitar 5 tahun, apakah dahulu mereka melakukan qunut?”. Beliau menjawab: Wahai putraku, qunut adalah bid’ah”.
Orang-orang yang merasa berat untuk meninggalkan qunut terkadang berani menyalahkan shahabat yang mulia tersebut, bahwasanya beliau tidak mengetahui kalau Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam pernah qunut, ini semua sangkaan yang salah dari mereka, dan sangat mustahil kalau beliau tidak mendapati satu qunut nâzilah pun, karena Alî bin Abî Thâlib pernah pula melakukan qunut nâzilah, beliau mendoakan atas lawannya. Dan yang diinginkan dari perkataan shahabat yang mulia tersebut Wallâhu A’lam adalah pengkhususan pada shalat shubuh, yang bukan dari qunut nâzilah atau pada pelaksanaannya secara terus menerus di sepanjang masa.
Dengan berdasarkan riwayat tersebut maka Al-Imâm Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi’î Rahimahullâh membuatkan bâb khusus di dalam “Al-Jâmi’ Ash-Shahîh Mimmâ Laisa Fishshahîhain”:

بَابُ الْقُنُوْتِ فِي الْفَجْرِ فِيْ غَيْرِ النَّوَازِلِ بِدْعَةٌ

“Bâb qunut pada shalat shubuh pada selain nâzilah adalah bid’ah”. Wallâhu A’lam.

Dijawab oleh:
Abû Ahmad Muhammad Al-Khidhir pada 18 Syawwal 1438 di Kemang Pratama Bekasi.

⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir/974