MENGENAL SYAIKH SALAFIYYIN TSABITIN
Pertanyaan:
‘Afwan Ustadz, mengenai Abu Fairuz itu siapa Ustadz? Apa antum kenal? Mereka itu termasuk mata-matanya penguasakah Ustadz?.
Jawaban:
Abu Fairuz adalah seorang yang dijuluki syaikh oleh sebagian ‘ulamanya yang bersama Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuri, walaupun kemudian di antara mereka mencabut pemberian julukan itu hingga tidak lagi disebut syaikh, di antara kawan-kawannya yang sebelumnya menyebut-nyebutnya syaikh kemudian hanya disebut Abu Virus.
Dulu waktu kami keliling dakwah ke Pontianak dan Batam lalu balik ke Ambon, tiba-tiba ada seseorang yang kagum dengannya mengatakan ke kita tentang mimpi yang pernah kita ta’bir yaitu akan muncul seorang ‘alim ‘ulama dari Indonesia, dia katakan: “Telah muncul Ustadz yaitu Al-Ustadz Abu Fairuz, telah disebut syaikh oleh Asy-Syaikh ‘Abdurrazzaq An-Nahmi.”
Ada lagi yang sampaikan ke kita tentang tanya jawab As-Sandakani dengan Asy-Syaikh ‘Abdul Hamid Al-Hajuri bahwa dia menyebutkannya sebagai seorang ‘ulama.
Waktu kita masih mukim di Bekasi, disampaikan beberapa ikhwah ke kita tentang beritanya, kita katakan: “Betul dia syaikh, tapi syaikh Salafiyyin Tsabitin, dia telah memunculkan hizbiyyah baru dengan nama Salafiyyin Tsabitin.”
Tidak lama kemudian, hanya hitungan beberapa tahun, dia pun memunculkan pemikiran baru yang itulah hakekat dari akidahnya bahwa orang yang melakukan kesyirikan akbar hanya batal amalannya, tidak sampai batal keislamannya.
Karena dia sudah merasa disyaikhkan, apalagi sudah merasa mampu mensyarah Shahihul Bukhari, dia pun menampakkan diri sebagai mujtahid yang akan tampil menyenggol mujtahid mutlaknya kaum asy’ariyyah dan maturidiyyah. Pemikirannya tersebut dibantah dan dikomentari sendiri oleh sebagian syaikh-syaikhnya, dia berani mengatakan perkataan yang tidak pernah dikatakan oleh Salaf.
Tidak berhenti di situ, kemudian dia mengatakan pula bahwa kalau takfir mu’ayyan diterapkan atau tidak adanya al-‘udzru bil jahli maka akan jadi kafir semua, bisa jadi orang tua sendiri, kerabat dan seterusnya akan kafir semua. Dia pun menyandarkan ucapannya ini ke salah seorang syaikhnya, bisa kafir semua, bahkan seorang syaikh di Madinah yang dia akui sendiri sebagai salah seorang syaikhnya juga berkata seperti itu, dia mengatakan bisa jadi akan mengkafirkan semua orang termasuk dirinya sendiri akan dia kafirkan sendiri.
Seperti itulah kalau membangun hukum di atas zhan, sudah sering kita sebutkan pengkafiran itu manakalah nampak zhahir, perkaranya jelas, bukan perkara khafi.
Khalilullah Ibrahim ‘Alaihish Shalatu was Salam mengkafirkan Azar yang nama lainnya adalah Tarah atau Tarakh sesuai zhahirnya mengikuti akidah kaumnya, Azar tidak mau mengikuti dakwahnya.
Khalilullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengkafirkan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muththalib sesuai zhahirnya karena mengikuti akidah kaumnya dan tidak mengikuti dakwah Zaid bin ‘Amr bin Nufail atau dakwah Waraqah bin Naufal Radhiyallahu ‘Anhuma.
Abu Turab ‘Ali Radhiyallahu Anhu mengkafirkan Abu Thalib sesuai zhahirnya karena mengikuti akidah ‘Abdul Muththalib dan enggan untuk mengikuti dakwah Nabiuttaubah ‘Alaihish Shalatu was Salam.
Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu mengkafirkan orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat dan mengkafirkan Musailamah Al-Kadzdzab serta para pengikutnya sesuai zhahir mereka sebagaimana yang telah diterangkan di dalam “Mufidul Mustafid fi Kufri Tarikit Tauhid”.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahmatullah ‘Alaina wa ‘Alaihima mengkafirkan Tartar padahal sebagian mereka telah mengaku masuk Islam dan telah bersyahadat, beliau kafirkan mereka sesuai zhahir karena hanya bersyahadat saja namun tidak melaksanakan rukun-rukun Islam yang lainnya.
Al-Imam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Rahimahullah mengkafirkan para penyembah kuburan dan para penyembah selain Allah sesuai zhahir mereka, hingga seorang badui mengakui kebenaran dakwah beliau dan mengikutinya, beliau menyebutkan kisah seorang badui di akhir-akhir dari kitab Sittatu Mawadhi’ Minassirah.
Jika keberadaan para Salaf Radhiyallahu ‘Anhum wa Rahimahum seperti itu maka siapakah Salaf kaum hizbiyyun ‘adzirun dan atau cabangnya yang bernama salafiyyun tsabitun itu?!.
[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].