‘ADZIRUN YANG MERASA TELAH BERBUAT TERBAIK

Ada permintaan ke kita untuk menanggapi habibinya Abdulloh Thowil alias Abu Ubaydah alias Abu Dujanah alias Abu Tholhah Rouf JNT alias ‘Abdurrouf yang mengaku tinggal di Lamongan, padahal baru niat untuk pindah ke pondok Al-Ustadz Abu Mas’ud Lamongan Rahimahullah dan sempat-sempatnya pula memprovokasi para ikhwan peserta daurah Ramadhan dan menyarankan mereka untuk pindah ke Lamongan.
Pada hakekatnya dia dan orang-orang yang sejalan dengannya telah memperjelas keburukan mereka sendiri dengan tanpa mereka sadari, dan biasanya orang seperti mereka itu ketika mendapatkan bala’ akibat perbuatan zhalim mereka maka bukannya mereka akan sadar dan mengakui kezhaliman mereka namun akan semakin merasa bahwa merekalah orang-orang yang bermanhaj kokoh yang sedang diuji, akhirnya pada semakin menjadi-jadi merasa telah berbuat yang paling tepat dan terbaik, mereka pun jadinya seperti yang Allah katakan:

ٱلَّذِینَ ضَلَّ سَعۡیُهُمۡ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا وَهُمۡ یَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ یُحۡسِنُونَ صُنۡعًا

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia upaya mereka dalam kehidupan dunia ini, dalam keadaan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” [Surat Al-Kahfi: 104].
Keberadaan ‘Abdurrouf itu tidak jauh beda dengan saudaranya yang menamakan diri Abu Habibah Pga yang berani sekali berdusta atas nama kami dengan membuat tanya jawab via WA bersama kami katanya.

حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِیلُ

“Cukuplah Allah sebagai Penolong kami dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.”
Tidaklah mereka perbuat demikian melainkan karena kecemburuan mereka dalam membela dan ikut serta menjadi kaum ‘adzirun, Hasbunallahu Wani’mal Wakil.
Para tokoh ‘Adzirun telah membuat gambaran yang sangat menyeramkan dan menakutkan, bahwa tidak memberi udzur pada kejahilan atau melakukan pengkafiran mu’ayyan akan berakibat penghalalan darah dan harta orang. Justru orang yang melakukan pengkafiran mu’ayyan sesuai manhaj Salaf itu lebih hati-hati terhadap harta orang yang telah dikafirkan, apalagi masalah darahnya. Musa ‘Alaihish Shalatu was Salam saja saat tidak berniat membunuh seorang kafir hanya dengan menampar tapi mati, itu menjadi penyesalan hingga jadi alasan beliau untuk tidak memberi syafa’at.
Dan kita di sini sangat berhati-hati dengan apa yang dimiliki warga yang nampak sebagai ahli syirk atau pun yang ahli iman, sepotong bambu mereka atau sebuah kecapi mereka yang jatuh dari pohonnya saja kita ingatkan anak-anak untuk jangan pernah ambil karena tidak boleh kecuali dengan izin pemiliknya, apalagi yang lebih besar dari itu. Makanya kita heran saat ‘adzirun seperti ‘Abdurrouf datang ke sini dengan mudahnya memetik mangga orang di pinggir jalan dan berani mengambil pepaya orang padahal bukan karena kelaparan sebab dia diberi makan 3 kali sehari. Tapi sangat berani terhadap milik orang lain, maka tidak heran merelakan berbohong dengan berbagai variasinya terhadap kita adalah remeh baginya, menganggap berbagai kezhalimannya remeh padahal Huwa ‘Indallahi ‘Azhim.

⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/544