INILAH SALAF KITA

Pertanyaan:
Abu Turab Arga Mulia Bengkulu menegaskan bahwa yang mengatakan tidak adanya udzur bil jahli itu tidak ada Salafnya, memang benar tidak Salafnya Ustadz?.

Jawaban:
Salaf kita dari kalangan Nabi yaitu Abul Anbiya’ Khalilullah Abu Isma’il Ibrahim ‘Alaihimash Shalatu was Salam tidaklah memberi udzur bil jahli (memberi alasan karena bodoh) pada perkara pokok agamanya, saat beliau bersama isterinya Ummu Ishaq Sarah ‘Alaihimush Shalatu was Salam berada di suatu negeri, keduanya menyaksikan penduduknya tidak di atas iman sebagaimana orang-orang beriman, maka Abu Isma’il Ibrahim katakan kepada isterinya Ummu Ishaq ‘Alaihimush Shalatu was Salam:

فإني لا أعلم في الأرض مسلما غيري وغيرك

“Sungguh aku tidak mengetahui di negeri ini seorang Muslim pun selainku dan selainmu.”
Dapat dipahami bahwa beliau menganggap penduduknya adalah orang-orang kafir sesuai zhahir mereka, beliau tidak menerapkan udzur bil jahli kepada penduduk negeri tersebut dan tidak pula beralasan dengan belum datangnya hujjah kepada mereka, namun beliau menghukumi penduduk negeri tersebut sesuai zhahir mereka di atas kekafiran.
Itu di antara Salaf dari kalangan Nabi, dan ini Zaid bin ‘Amr bin Nufail Radhiyallahu ‘Anhu merupakan Salaf kita dari kalangan orang-orang shalih yang juga tidak memberi udzur bil jahli pada perkara pokok agamanya, beliau saat melihat orang-orang Quraisy yang biasa melakukan kesyirikan hadir saat itu di sekitar Ka’bah maka beliau katakan:

يا معشر قريش والذي نفس زيد بيده ما أصبح أحد منكم على دين إبراهيم غيري

“Wahai segenap Quraisy, demi Allah Yang jiwa Zaid berada di tangan-Nya tidaklah ada seorang pun di antara kalian berada di atas agama Ibrahim selainku.”
Dan menghukumi sesuai zhahir ini telah dilakukan pula oleh para Shahabat Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam, di antara mereka adalah Abu Waqid Al-Laitsi Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata:

خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط

“Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ke Hunain dalam keadaan kami adalah orang-orang baru meninggalkan kekafiran. Dan orang-orang musyrik memiliki pohon yang mereka i’tikaf di sisinya, mereka menggantungkan senjata-senjata mereka padanya, yang dinamai dzatu anwath.”
Para Shahabat langsung menghukumi mereka sebagai orang-orang musyrik sesuai zhahir mereka melakukan penyembahan kepada dzatu anwath, para Shahabat tidak memberi mereka udzur bil jahli pada perkara zhahir tersebut. Namun murji’ah sangat kacau dalam pendalilan, mereka meninggalkan yang jelas lagi terang ini lalu melihat kepada ucapan para Sahabat yang meminta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط

“Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami dzat anwath sebagaimana mereka memiliki dzatu anwath.”
Ucapan ini pun tidak mendukung pendalilan murji’ah, karena para Shahabat tidak sampai melakukan penyembahan kepada pohon dan tidak pula sampai menggantungkan senjata-senjata padanya, mereka hanya meminta untuk dibuatkan, namun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak memperkenankan permintaan mereka dan bahkan beliau langsung melakukan pengingkaran terhadap ucapan mereka, dari situ mereka paham bahwa menjadikan pohon seperti dzatu anwath itu tidak boleh karena nantinya akan digunakan untuk menyembahnya dan menggantungkan senjata-senjata padanya.

[Abu Ahmad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/12545
⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/982