MANHAJ SALAF YANG DIPUNGKIRI

Pertanyaan:
Salah seorang dari syaikh-syaikh Hajawirah namanya Abu Turab Hadhar Margamulia Al-Indonisi menyebutkan bahwa peniadaan udzur bil jahli (alasan karena bodoh) pada dasar-dasar agama adalah perkataan yang tidak ada Salafnya. Apakah benar apa yang dia katakan?.

Jawaban:
Sungguh dia benar-benar telah berbicara dengan tanpa ilmu:

مَّا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمࣲ وَلَا لِـَٔابَاۤىِٕهِمۡۚ كَبُرَتۡ كَلِمَةࣰ تَخۡرُجُ مِنۡ أَفۡوَ ٰ⁠هِهِمۡۚ إِن یَقُولُونَ إِلَّا كَذِبࣰا

“Tidaklah mereka mempunyai ilmu tentang itu, tidak pula para pemuka mereka. Alangkah besarnya kata-kata yang keluar dari mulut mereka, tidaklah mereka mengatakan tentang itu melainkan hanya kedustaan.” [Surat Al-Kahfi: 5].
Para Salaf tidak memberi udzur pada kebodohan terhadap perkara-perkara yang harus diketahui dalam agama, terutama tentang dasar-dasar agama.
Berkata Amirul Mu’minin ‘Umar Ibnul Khaththab semoga Allah meridhainya:

لا عذر لأحد في ضلالة ركبها حسبها هدى، ولا في هدى تركه حسبه ضلالة، فقد بُينت الأمور وثبتت الحجة وانقطع العذر؛ وذلك أن السنة والجماعة قد أحكما أمر الدين كله، وتبين للناس، فعلى الناس الاتباع

“Tidak ada udzur bagi seseorang untuk mengikuti kesesatan yang dia mengira itu adalah petunjuk, dan tidak pula untuk meninggalkan petunjuk karena dia mengira itu adalah kesesatan. Berbagai perkara telah dijelaskan, dalil telah ditetapkan dan udzur telah disingkirkan. Demikian itu karena sungguh As-Sunnah dan Al-Jama’ah benar-benar telah menetapkan hukum terhadap perkara agama seluruhnya dan telah jelas kepada manusia. Maka wajib bagi manusia untuk mengikuti.”
Berkata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

والذي نفس محمد بيده، لا يسمع بي أحد من هذه الأمة لا يهودي، ولا نصراني، ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار

“Demi Allah Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah mendengarkan tentangku seorang pun dari umat ini, tidak seorang yahudi dan tidak pula seorang nashrani kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman terhadap apa yang aku telah diutus dengannya melainkan keberadaan dia termasuk dari para penghuni Neraka.”
Dan Allah Ta’ala berkata:

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ

“(Katakanlah wahai Nabi): Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan itu aku memberi peringatan kepada kalian dan kepada orang yang telah sampai (Al-Qur’an kepadanya).” [Surat Al-An’am: 19].
Siapa yang telah sampai kepadanya Al-Qur’an maka hujjah telah tegak kepadanya, jika keberadaan dia adalah orang bodoh maka wajib baginya bertanya kepada orang-orang berilmu tentang Al-Qur’an, berkata Allah Ta’ala:

فَسۡـَٔلُوۤا۟ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Maka bertanyalah kalian kepada orang-orang berilmu jika keberadaan kalian tidak mengetahui.” [An-Nahl: 43 dan Al-Abiya’: 7].

[Muhammad Al-Khidhir Al-Andunisi].

⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir/12541