DIUTUS RASUL KARENA TELAH ADA KEKAFIRAN
Pertanyaan:
Apakah kafir itu baru ada setelah diturunkannya kitab Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa dan Injil yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa ‘Alaihis Salam, kemudian mereka sebagian Ahli Kitab menjadi kafir setelah beriman karena menutupi kebenaran yang telah tertulis dalam Al-Kitab bersama mereka menyembah Allah ‘Azza wa Jalla, namun tetap dikatakan kafir.
Jawaban:
Kekafiran sudah ada dari sebelum diturunkan kitab Taurat, dan sebab diutusnya Musa ‘Alaihish Shalatu was Salam dan diturunkan Taurat adalah untuk menegakkan hujjah kepada orang-orang kafir seperti Fir’aun dan para pengikutnya, mereka sebelum kedatangan Musa ‘Alaihish Shalatu was Salam membawakan hujjah, keadaan mereka sudah kafir dan mereka memiliki agama tersendiri, berkata Allah ‘Azza wa Jalla:
وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِیۤ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡیَدۡعُ رَبَّهُۥۤۖ إِنِّیۤ أَخَافُ أَن یُبَدِّلَ دِینَكُمۡ أَوۡ أَن یُظۡهِرَ فِی ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ
“Berkata Fir’aun (kepada para pengikutnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa supaya dia memohon kepada Rabbnya, karena sungguh aku khawatir dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”. [Surat Ghafir: 26].
Hujjah ditegakkan kepada mereka supaya mereka bertaubat dari kekafiran mereka, tatkala mereka terus pada kekafiran maka sudah menjadi alasan bagi Allah Ta’ala untuk menghukum mereka di dunia sebelum di akhirat, berkata Allah ‘Azza wa Jalla:
إِنَّاۤ أَرۡسَلۡنَاۤ إِلَیۡكُمۡ رَسُولࣰا شَـٰهِدًا عَلَیۡكُمۡ كَمَاۤ أَرۡسَلۡنَاۤ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ رَسُولࣰا ٠ فَعَصَىٰ فِرۡعَوۡنُ ٱلرَّسُولَ فَأَخَذۡنَـٰهُ أَخۡذࣰا وَبِیلࣰا
“Sungguh Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul sebagai saksi bagi kalian, sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasul kepada Fir’aun, lalu Fir’aun mendurhakai Rasul tersebut, Kami pun menghukum Fir’aun dengan hukuman yang berat.” [Surat Al-Muzzammil: 15-16].
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para Rasul kepada orang-orang kafir supaya memutus udzur mereka jika nanti mereka katakan bahwa belum ditegakkan hujjah kepada mereka:
رُّسُلࣰا مُّبَشِّرِینَ وَمُنذِرِینَ لِئَلَّا یَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ ٱلرُّسُلِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِیزًا حَكِیمࣰا
“(Kami utus) para rasul sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah adalah ‘Aziz (Maha Perkasa) lagi Hakim (Maha Bijaksana).” [Surat An-Nisa’: 165].
Orang-orang yang mengikuti para Rasul itu, maka merekalah orang-orang beriman. Adapun yang menyimpang dari mereka dengan melakukan kesyirikan atau kekafiran maka batallah keimanannya, dia dihukumi kafir sebagaimana pada orang-orang yang mengaku pengikut Al-Masih ‘Isa bin Maryam ‘Alaihimash Shalatu was Salam namun mereka menganggap beliau bersama ibunya adalah dua sesembahan bersama Allah, mereka dianggap kafir setelah beriman:
لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِینَ قَالُوۤا۟ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَـٰثَةࣲۘ وَمَا مِنۡ إِلَـٰهٍ إِلَّاۤ إِلَـٰهࣱ وَ ٰحِدࣱۚ
“Sungguh benar-benar telah kafir orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada ilah (sesembahan yang haq) selain dari Ilah Wahid (Sesembahan Yang Satu).” [Surat Al-Ma’idah: 73].
Mereka tidak diberi udzur atas kekafiran mereka, kewajiban mereka adalah bertaubat, Allah Ta’ala katakan:
وَإِن لَّمۡ یَنتَهُوا۟ عَمَّا یَقُولُونَ لَیَمَسَّنَّ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ مِنۡهُمۡ عَذَابٌ أَلِیمٌ
“Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, maka pasti orang-orang yang kafir dari mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” [Surat Al-Ma’idah: 73].
Demikian pula mereka dari kalangan Ahlul Kitab yang tidak melakukan kesyirikan dan kekafiran, namun telah mendapati berita telah diutusnya Nabi Akhir Zaman Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam namun tidak mau menjadi pengikutnya maka mereka juga dianggap kafir, berkata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي رَجُلٌ مِنْ هٰذِهِ اْلأُمَّةِ وَلاَ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ لَمْ يُؤْمِنْ بِي إِلاَّ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ
“Demi Allah Yang jiwa-Ku di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku seorang pun dari umat ini, tidak dari kalangan yahudi dan tidak pula dari kalangan nasrani kemudian dia tidak beriman kepadaku, melainkan dia termasuk dari penghuni Neraka.”
Padahal hanya sekedar mendengarkan tentang keberadaannya, ini sudah dianggap sebagai hujjah, sudah dianggap sebagai pemutus udzur bagi orang yang tidak mau menjadi pengikut beliau.
[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1009