DARI THAIFAH KE KHILAFAH

Pertanyaan:
Melanjutkan masalah jihad, syaratnya harus bersama negara dan waliul amri, tidak oleh kelompok yang melakukannya. Jadi bingung jadinya, apalagi keadaan Gaza sekarang, itu yang disalahkan gara-gara jihad kelompok bukan yang lakukan negara dan tanpa izin waliul amri. Mohon arahan yang benarnya Ustadz?.

Jawaban:
Orang yang belajar sejarah pasti tahu bahwa Daulah atau Khilafah Islamiyyah itu berawal dari suatu kelompok,
awal mula perang di dunia Islam adalah perang Badr dan itu dimulai oleh thaifah atau ‘ishabah (suatu kelompok) yang jumlah mereka hanya 313 orang. Penamaan sebagai suatu kelompok ini bukan kita yang namai, namun amir dan sayyidnya yaitu Abul Qasim Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang telah menyebutnya sendiri sebagai kelompok, beliau berucap di dalam doanya pada hari itu:

اللَّهمَّ إنَّكَ إنْ تُهلِكْ هذهِ العِصابةَ مِن أهلِ الإسلامِ، فلا تُعْبَدُ في الأرضِ أبدًا

“Ya Allah, sungguh Engkau jika membinasakan suatu kelompok dari orang-orang Muslim ini maka Engkau tidak akan disembah di bumi selama-lamanya.”
Beliau menamai pasukan Badr yang beliau pimpin sebagai ‘ishabah (kelompok) sebagaimana beliau juga telah menamai orang-orang berjihad dari umat beliau akan terus ada sepanjang masa, beliau namai kelompok, beliau berkata:

لا تَزالُ عِصابةٌ من أُمَّتي يقاتلونَ على أمرِ اللهِ، قاهِرينَ لعَدُوِّهِم، لا يَضرُّهم مَن خالفهم، حتى تأتيَهم الساعةُ وهم على ذلك

“Akan senantiasa ada ‘ishabah (suatu kelompok) dari umatku, mereka berperang di atas urusan agama Allah, mereka berjuang keras memerangi musuh mereka, tidak merugikan mereka orang-orang menyelisihi mereka sampai datang kepada mereka hari Kiamat dalam keadaan mereka seperti itu.”
Nabi Akhir Zaman Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menyebutkan yang akan terus ada dari umatnya itu adalah daulah atau mamlakah (suatu negara atau kerajaan)nya, namun yang beliau sebutkan yang terus ada berjihad sepanjang masa adalah ‘ishabah atau thaifah (suatu kelompok) dari umatnya, beliau berkata:

لا تَزالُ طائفةٌ مِن أُمَّتي يُقاتِلونَ على الحقِّ، ظاهرينَ على مَن ناوَأَهم، حتى يُقاتِلَ آخِرُهم المسيحَ الدَّجَّالَ

“Akan senantiasa ada thaifah (suatu kelompok) dari umatku, mereka berperang di atas kebenaran, mereka berjuang melawan orang-orang yang memusuhi mereka, hingga kelompok terakhir mereka yang memerangi Al-Masih Ad-Dajjal.”
Kalau mempersyaratkan jihad itu bersama adanya suatu negara, kalau yang tidak bersama negara itu salah dan bukan jihad, maka ini terlalu memaksakan dalam membuat persyaratan dan terlalu gampang menyalahkan hakekat yang pernah ada dan yang pernah terjadi. Dahulu pada zaman Musa ‘Alaihish Shalatu was Salam, beliau bersama para pengikutnya belum memiliki tempat menetap apalagi yang disebut negara, mereka belum memiliki sama sekali, namun mereka telah diperintahkan untuk berjihad dan perintah itu terus berlangsung hingga di zaman Nabiullah Yusya’ ‘Alaihish Shalatu was Salam, beliau memimpin pasukan dan berhasil menaklukkan Al-Quds, disebutkan kisahnya di dalam hadits yang shahih:

فَلَقِي العَدُوَّ عِندَ غَيُبُوبَةِ الشَّمسِ، فَقَالَ للشَّمسِ: أنتِ مَأمُورَةٌ وَأنا مَأمُورٌ، اللَّهمَّ احبِسْها عَليَّ شَيئًا، فحُبِِسَت عَليهِ حَتَّى فتَحَ اللّٰهُ عَلَيهِ

“Yusya’ menjumpai musuh di saat hampir tenggelamnya matahari, lalu beliau berkata kepada matahari: “Kamu diperintah dan aku juga diperintah, ya Allah tahanlah untukku matahari itu dalam beberapa saat lalu ditahanlah untuknya hingga Allah beri kemenangan kepadanya.”
Kalau keadaan Gaza sekarang ini dijadikan alasan untuk membuat lari para pemuda dari berjihad maka itu sama dengan alasan orang-orang dahulu yang manjadikan kekalahan pada perang Uhud sebagai alasan pula, Allah terangkan keadaan mereka:

ٱلَّذِینَ قَالُوا۟ لِإِخۡوَ ٰ⁠نِهِمۡ وَقَعَدُوا۟ لَوۡ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا۟ۗ قُلۡ فَٱدۡرَءُوا۟ عَنۡ أَنفُسِكُمُ ٱلۡمَوۡتَ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِینَ

“Oang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh”. Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari diri kalian, jika kalian orang-orang yang benar.” [Surat Ali ‘Imran: 168].
Kita hanya perlu banyak berdoa dalam menghadapi hidup di dunia yang penuh tipu daya ini:

اللّٰهُمًَ لَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ قُلْتَ فِيهِمْ: الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Ya Allah jangan Engkau jadikan kami termasuk dari orang-orang yang telah Engkau katakan tentang mereka: “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia upaya mereka di kehidupan dunia ini dalam keadaan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat yang terbaik.”

[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].

⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1263
⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir/12926