HATI-HATI TERPERANGKAP DI DALAM HIZBIYYAH

Pertanyaan:
Ada satu komunitas mentahdzir kami dari mengambil ilmu dari Ustadz dan dari yang semisal Ustadz, cukup ambil ilmu dari yang bersama komunitas mereka. Apa tanggapan Ustadz?.

Jawaban:
Kita sudah melewati banyak komunitas dan kita pada waktu itu mendapati setiap komunitas memiliki prinsip untuk cukup menggambil ilmu dari komunitas mereka atau yang bersama mereka, biasanya atsar Ibnu Sirin semoga Allah merahmatinya yang menjadi pegangan mereka:

إِنَّ هذا العلمَ دِينٌ فانظروا عَمَّن تَأخُذون دِينَكُم

“Sungguh ilmu ini adalah agama maka lihatlah oleh kalian kepada siapa kalian mengambil agama kalian.”
Pada akhirnya, saat ilmu yang tidak mereka ketahui disampaikan ke mereka, maka mereka menolaknya, atau kadang dengan cara curang dan tidak amanah dalam pengambilannya. Dan lebih parah lagi di saat disampaikan kebenaran yang mereka tidak berada di atasnya maka mereka akan menyombongkan diri dengan menyebutkan kami bersama ‘ulama, padahal hakekatnya setiap komunitas masing-masing memiliki ‘ulama. Pada akhirnya mereka membatasi diri, hanya menerima dan atau mengakui kebenaran dari mereka saja, orang yang tidak bersama mereka dan terlebih lagi orang yang menyelisihi mereka pada suatu perkara maka mereka akan memperingatkan orang lain darinya, menghasut orang lain untuk tidak suka dengannya hingga memusuhinya. Inilah perilaku hizbiyyah yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i yang semoga mereka mengakui dan menyadari kenyataan seperti yang disebutkannya:

يُعرف بالولاء الضيّق، مَن كان معنا فنَحن نكرمُه، وندعو الناس إلى محاضراته وإلى الالتفاف حَوله، ومن لم يَكن مَعنا فهو يُعتبر عدونا

“Diketahui dengan loyalitas yang sempit, siapa yang bersama kami maka kami akan memuliakannya, kami menyeru orang lain untuk menghadiri ceramahnya dan mendekat di sekitarnya. Siapa yang keberadaannya tidak bersama kami maka dia dianggap sebagai musuh kami.”
Demikian lafazh sesuai rekaman suaranya, dan pada tulisan dari penukilnya yang dimuat di kitabnya dengan lafazh:

فَمن كان معَهم فهُم يكرمونه، وَيدعون الناسَ إلى مُحاضراته وإلى الالتفاف حوله، ومن لم يكن معهم فهو يُعتبر عدوّهم

“Siapa yang bersama mereka maka mereka akan memuliakannya, menyeru orang lain untuk menghadiri ceramahnya dan mendekat di sekitarnya. Siapa yang keberadaannya tidak bersama mereka maka dia dianggap sebagai musuh mereka.”
Kita dulu saat membatasi diri seperti mereka dalam suatu komunitas, kita merasakan seolah-olah sedang terperangkap, lalu kita dengan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala mencoba mengamalkan apa yang diamalkan oleh para Salaf, mulai meminta tolong kepada Allah dengan shalat dua raka’at lalu berdoa dan berdoa, Alhamdulillah setelah itu kita merasakan jiwa ini tenang, dada lapang dan bahkan kita merasa sangat berbahagia di atas kebenaran ini, meskipun banyak ujian dan cobaan, mungkin terlihat oleh orang lain menyakitkan namun bagi kita inilah hakekat hidup di atas keamanan dan ketentraman, inilah hakekat kebenaran di atas akidah shahihah, inilah akibat baik dari bertauhid dengan sebenar-benar Tauhid, inilah buah dan hasil dari keimanan yang bersih dan murni yang Allah Ta’ala tegaskan di dalam kitab-Nya:

ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ

“Yaitu orang-orang beriman dalam keadaan mereka tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kezhaliman (kesyirikan). Bagi mereka itulah keamanan dan mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk.” [Surat Al-An’am: 82].
Orang kalau selalu menjaga kemurnian imannya, di saat dia terjatuh pada perbuatan yang mengotori imannya maka Allah ‘Azza wa Jalla akan memberinya petunjuk untuk bergegas membersihkannya:

الحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتَّمُ الصَّالِحَاتُ

“Segala puji bagi Allah dengan ni’mat-Nya sempurna berbagai kebaikan.”

[Abu Ahmad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/13068
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1375