DENGAN ADANYA KESALAHAN, DIKETAHUI KEBENARAN

Pertanyaan:
Mohon Ustadz terangkan ke kami soal tertawaan dan ejekan seorang kyai dan santrinya ke Ustadz DR. Firanda Andirja Lc., saat beliau mengajar nahwu dan vidionya beredar beliau menuliskan di papan tulis, beliau jelaskan kalimat:

جاء موسى، رأيت موسى، مررت بموسىى

Pada kalimat terakhir: “Marartu bi Musa”. Kata beliau: “Musa majrur tanda jarnya kasrah muqaddarah, seharusnya bi Musi tapi tidak nampak….”
‘Afwan Ustadz, kami belum mengerti letak kesalahannya. Bukankah benar itu harakatnya muqaddarah? Tolong penjelasannya dan minta nasehatnya biar mudah terima koreksian apabila ada salahnya, dan bagaimana kiatnya biar bisa lapang dada memerima yang benar?.

Jawaban:
Bukan kasrah muqaddarah, tapi fathah muqaddarah, karena Musa termasuk nama yang mamnu’ minash sharfi. Musa tidak termasuk dari:

صن شمله

“Shalih, Nuh, Syu’aib, Muhammad, Luth dan Hud.”
Dan perkataannya:

مَرَرتُ بِمُوسَى

Kalimat Musa dari jumlah tersebut adalah:

مَجرور وَعلامة جره الفتحَة الْمُقَدَّرَةُ عَلَى آخِرِهِ مَنَعَ مِنْ ظُهُورِهَا التعَذّرُ نيابة عن الكسرة لأنه غَيْرُ مُنْصَرِفٍ، وَالْمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرْفِ أَلِفُ التَّأْتِيتِ المَقصورة

“Majrur yang tanda jarnya al-fathah al-muqaddarah pada akhirnya, tercegah dari nampaknya karena ta’adzdzur sebagai pengganti dari kasrah, karena itu mamnu’ minash sharfi, dan yang mencegah dari tanwin adalah alifut ta’nitsil maqshurah.”
Adapun nasehat supaya bisa mudah menerima kebenaran dan berlapang dada dengannya maka hendaklah benar-benar bermanhaj Salaf, mengikutinya dan berpegang teguh padanya. Dahulu ‘Umar Ibnul Khaththab saat mendengar keputusan Abu Bakr Khalifah Rasulillah ‘Alaihimush Shalatu was Salam untuk memerangi orang-orang murtad yang tidak mau mengeluarkan zakat, maka ‘Umar menyampaikan argumennya, beliau berkata:

كيفَ تُقَاتِلُ النَّاسَ وقدْ قالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أُمِرْتُ أنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حتَّى يقولوا: لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، فمَن قالَهَا فقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ ونَفْسَهُ إلَّا بحَقِّهِ، وحِسَابُهُ علَى اللَّهِ 

“Bagaimana engkau memerangi manusia sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengatakan: “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan La Ilaha Illallah. Siapa yang mengucapkannya maka terjaga dariku hartanya dan jiwanya kecuali dengan haqnya, dan atas Allah perhitungannya.”
Lihat kejelasan pada argumen ‘Umar di sini, nampak beliau tidak permasalahkan mengkafirkan mereka, namun yang beliau permasalahkan adalah memerangi mereka. Akan tetapi Abu Bakr setelah mendengarkan argumennya, beliau langsung katakan:

واللَّهِ لَأُقَاتِلَنَّ مَن فَرَّقَ بيْنَ الصَّلَاةِ والزَّكَاةِ، فإنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ المَالِ، واللَّهِ لو مَنَعُونِي عَنَاقًا كَانُوا يُؤَدُّونَهَا إلى رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ علَى مَنْعِهَا

“Demi Allah, sungguh benar-benar aku akan memerangi orang yang membeda-bedakan antara shalat dengan zakat. Karena zakat adalah hak harta. Demi Allah, kalau mereka enggan mengeluarkan zakat onta atau kambing di masaku, padahal dahulu mereka mengeluarkannya di masa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam maka sungguh aku akan memerangi karena keengganan itu”.
Dengan adanya kejelasan tentang kebenaran tersebut, membuat ‘Umar menerima dengan lapang dada, beliau berkata:

فَوَاللَّهِ ما هو إلَّا أنْ قدْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَ أبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عنْه، فَعَرَفْتُ أنَّه الحَقُّ

“Demi Allah, tidaklah itu melainkan Allah telah melapangkan dada Abu Bakr semoga Allah meridhainya, aku pun mengetahui bahwasanya itulah kebenaran.”
Dan kita nasehatkan pula pada perkara yang sedang ramai diperbincangkan belakangan ini terkait masalah al-‘udzru bil jahli (pemberian udzur karena kebodohan) kepada pelaku syirik atau kufur akbar yang terang-terangan melakukannya, bukankah mereka yang memberi udzur kebodohan tersebut telah mendakwahkan bahwa pengucapan La Ilaha Illallah atau pengakuan keislaman atau keimanan dipersyaratkan salah satunya adalah ilmu, yakni mengenal atau mengetahui apa yang diucapkan, tidak bodoh padanya, karena Nabiuttaubah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah tegaskan:

من مات وهو يَعلَمُ أنَّه لا إلهَ إلَّا اللهُ، دَخَل الجنَّةَ 

“Siapa yang mati dalam keadaan dia mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah maka dia masuk Surga.”
Dan Allah wajibkan untuk mengenal atau mengilmui kalimat La Ilaha Illallah:

فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ

“Maka ilmuilah, bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah.” [Surat Muhammad: 19].
Orang yang mengucapkan La Ilaha Illallah namun dia tidak mengenal atau mengetahui maknanya lalu berbuat syirik atau kufur akbar maka tidak berguna pengucapannya, tidak teranggap pengakuannya, bahkan dia dihukumi sesuai apa yang dia tampakkan, jika yang dia tampakkan adalah kesyirikan berupa peribadahan kepada selain Allah maka dihukumi musyrik atau dia menampakkan kekafiran dengan mengolok-olok syar’iat yang dibawa oleh Nabiul Malhamah ‘Alaihish Shalatu was Salam maka dia dihukumi kafir sesuai yang dia tampakkan, sebagaimana telah diterapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau biasanya memperlakukan orang-orang munafik seperti orang-orang Muslim sesuai yang mereka tampakkan, namun di saat sebagian orang-orang munafik menampakkan kekafiran maka beliau langsung menghukumi mereka dengan kekafiran, Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan di dalam Al-Qur’an:

لَا تَعۡتَذِرُوا۟ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِیمَـٰنِكُمۡۚ

“Jangan kalian mengemukakan udzur kalian, sungguh kalian telah kafir setelah kalian beriman.” [Surat At-Taubah: 66].
Pada riwayat yang menerangkan tentang sebab turunnya ayat ini sangat jelas sekali kasusnya, tidak ada pemberian udzur, karena perkaranya zhahir bukan bathin, jali bukan khafi. Jangankan pemberian udzur karena bodoh, karena senda gurau atau canda saja sudah tidak diterima udzurnya oleh Nabiuttaubah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Adapun kiat supaya bisa menerima kebenaran dan lapang dada maka hanya dengan mencari tahu dan mempelajari kebenaran itu, serta meminta kepada Allah untuk memperlihatkan dan memudahkan untuk mengikutinya:

اللهم أَرِنا الحَق حَقاً وارزقنا اتباعه، وأرِنا الباطل باطلاً وارزقنا اجتنابه، ولا تجعلنا يا ربنا مِمن قلت فيهم: ٱلَّذِینَ ضَلَّ سَعۡیُهُمۡ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا وَهُمۡ یَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ یُحۡسِنُونَ صُنۡعًا

“Ya Allah perlihatkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan rezkikanlah kepada kami untuk mengikutinya, perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan rezkikanlah kepada kami untuk menjauhinya. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menjadikan kami termasuk dari orang-orang yang Engkau katakan tentang mereka: “(Yaitu orang-orang yang telah sia-sia upaya mereka di kehidupan dunia dalam keadaan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat kebaikan.”

[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].

⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1382
⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir/13076