PERSELISIHAN SUATU KEMESTIAN

Pertanyaan:
Apa dibenarkan orang yang lebih milih balik dan bertahan di atas akidah sebelumnya karena mempersoalkan perselisihan, menurut dia sama-sama ada perselisihan, perpecahan, tidak pengikut Aimmah Dakwah dan tidak yang lainnya, sama saja?.

Jawaban:
Tidak seseorang pun dari Bani Adam yang hidup di dunia ini melainkan akan diuji, dan ujian yang mesti mereka dapati adalah perselisihan, berkata Allah ‘Azza wa Jalla:

وَجَعَلۡنَا بَعۡضَكُمۡ لِبَعۡضࣲ فِتۡنَةً أَتَصۡبِرُونَۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِیرࣰا

“Dan Kami telah jadikan sebagian kalian terhadap sebagian yang lain sebagai ujian, bisakah kalian bersabar?!. Dan keberadaan Rabb kalian adalah Bashir (Maha Melihat).”
[Surat Al-Furqan: 20].
Banyak orang kita dapati, mereka berselisih pada perkara yang bukan seperti perkara yang kita hadapi, sebagian mereka berselisih karena masalah tanah, warisan dan lain sebagainya. Sebagian lagi yang mengaku beragama, berselisih karena masalah yang bukan pokok agama. Semua sudah pasti akan berhadapan dengan perselisihan:

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةً وَٰحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

“Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia akan menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih.” [Hud:118].
Alhamdulillah Wahdah, kita sangat bersyukur kepada Allah karena kita diuji dengan perselisihan saat kita berusaha untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah, semoga Allah memberikan keistiqamahan kepada kita dan menguatkan kesabaran kita di atasnya. Para Nabi Shallallahu ‘Alaihim wa Sallam dahulu berselisih dengan kaum mereka dengan perselisihan yang banyak, penyebabnya karena mereka mendakwahnya agama Islam Al-Hanif ini, kaum mereka membuat provokasi dan saling memperingatkan supaya menjauhi mereka dan mengolok-olok mereka:

وَكَمۡ أَرۡسَلۡنَا مِن نَّبِیࣲّ فِی ٱلۡأَوَّلِینَ ٠ وَمَا یَأۡتِیهِم مِّن نَّبِیٍّ إِلَّا كَانُوا۟ بِهِۦ یَسۡتَهۡزِءُونَ

“Berapa banyak Nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tidak seorang Nabi pun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” [Surat Az-Zukhruf: 6-7].
Adapun alasan karena ada perselisihan maka memilih untuk kembali lalu bertahan kepada keyakinan sebelumnya maka ini bukanlah solusi, justru ini adalah bentuk dari berpaling lalu menutupi diri dan membatasinya karena sudah merasa cukup dengan apa yang sudah didapatkan sebelumnya, Allah telah sebutkan keadaan orang seperti ini:

وَإِذَا قِیلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡا۟ إِلَىٰ مَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ قَالُوا۟ حَسۡبُنَا مَا وَجَدۡنَا عَلَیۡهِ ءَابَاۤءَنَاۤۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَاۤؤُهُمۡ لَا یَعۡلَمُونَ شَیۡـࣰٔا وَلَا یَهۡتَدُونَ

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati para pendahulu kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti para pendahulu mereka walaupun tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula mendapat petunjuk?.” [Surat Al-Ma’idah: 104].

[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/13114
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1419