TETAP BERUSAHA DAN BEKERJA UNTUK PERBEKALAN MENGHADAPI HARI KIAMAT
Pertanyaan:
Ijin minta nasehat buat yang tidak semangat lagi berusaha dan tidak lagi menganggap dunia bermakna buatnya, sebabnya karena dia melihat sudah banyak tanda-tanda Kiamat yang terjadi. Apakah berbuat demikian utama?.
Jawaban:
Seutama-utama manusia adalah orang yang terus berusaha memberi manfaat untuk dirinya dan orang lain, meskipun hidupnya sudah sangat dekat dengan hari Kiamat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memotivasi sebagaimana di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Bukhari di dalam “Al-Adabul Mufrad” dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata:
إنْ قامَتِ السَّاعةُ وفي يدِ أحدِكُم فَسيلةٌ فإنِ استَطاعَ أن لا تَقومَ حتَّى يغرِسَها فلْيغرِسْها
“Apabila terjadi Kiamat dalam keadaan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit tanaman, jika dia mampu untuk tidak terjadi Kiamat hingga menanamnya maka hendaklah dia menanamnya.”
Di antara faidah dari hadits ini adalah:
الحثُّ على استمراريَّةِ العملِ في الخَيرِ إلى آخِرِ لَحظةٍ في العُمُرِ
“Pemotivasian untuk kontinyu pada amalan dalam kebaikan hingga akhir sekejap mata dari usia.”
Menanam termasuk suatu kebaikan kalau seseorang melakukannya dengan maksud untuk memberi manfaat bagi dirinya, keluarganya atau pun orang lain. Demikian pula melakukan pekerjaan lainnya dengan maksud itu maka akan mendapatkan pahala.
Adapun kalau seseorang meninggalkan usaha, pekerjaan atau kebutuhan dunia supaya terfokus dengan menghadapi hari Kiamat maka kita khawatirkan dia akan salah jalan, dia akan kehabisan perbekalan, yang pada akhirnya akan bergantung dan berharap ke orang lain, kenyataan telah membuktikan akan hal ini. Dan yang lebih kita khawatirkan ketika sudah tidak memiliki apapun, dia akan berbuat seperti yang disebutkan:
يَبِيعُ دِينَهُ بعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Dia akan menjual agamanya dengan materi dunia.”
Kalau pun tidak menjual agama, maka akan menjual selainnya seperti menjual ginjalnya atau bagian dari anggota tubuhnya, Nas’alullas Salamata wal ‘Afiyah. Dan ini pernah kita dapatkan curhatan seseorang yang menggunakan nama kunyah samaran untuk menutupi hakekat dirinya, bahwasanya dia sedang tidak memiliki apa-apa, dia meminta ke kita untuk bisa menyambung hidup diri dan keluarganya, jika kita tidak bisa bantu dia akan jual ginjalnya, Wallahul Musta’an.
Kalau seseorang benar-benar mengikuti Salaf maka dia akan tetap mempersiapkan perbekalan hidupnya dalam menghadapi hari Kiamat, sebagaimana dahulu yang diperbuat oleh seorang Badui, dia tetap mempersiapkan perbekalannya berupa kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan tanpa meniadakan usaha dan pekerjaannya, saat Nabi Akhir Zaman bertanya kepadanya:
ما أعْدَدْتَ لَهَا
“Apa yang kamu persiapkan menghadapi hari Kiamat?.” Dia menjawab:
ما أعْدَدْتُ لَهَا مِن كَثِيرِ صَلَاةٍ ولَا صَوْمٍ ولَا صَدَقَةٍ، ولَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ ورَسولَهُ
“Aku tidak mempersiapkan untuk menghadapinya dengan banyaknya shalat, tidak banyaknya puasa dan tidak pula banyaknya sedekah. Akan tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].
⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/13124
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1424