MENGGABUNGKAN PUASA SENIN KAMIS DENGAN PUASA AYYAMUL BIDH
Pertanyaan:
Ustadz, ana mau tanya: Kalau dalam sebulan selalu berpuasa Senin Kamis dan Ayyamul bidh, diperbolehkan tidak atau cukup Senin Kamis saja atau Ayyamul bidh saja? Dan apakah tidak bisa digabungkan?.
Jawaban:
Termasuk dari sunnah adalah puasa Senin Kamis ditambahkan dengan puasa tiga hari dalam sebulan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu melakukannya, sebagaimana beliau menjaga pula puasa Senin Kamis, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata:
إنَّ نبيَّ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ كانَ يصومُ يومَ الاثنينِ ويومَ الخميسِ
“Sungguh Nabiullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu puasa hari Senin dan hari Kamis.”
Dan diriwayatkan oleh Muslim dari Mu’adzah Al-‘Adawiyyah, beliau bertanya kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anhuma:
أَكانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى اللّٰه عَليه وَسَلم يصومُ مِن كُلِّ شَهرٍ ثلاثةَ أَيَّامٍ
“Apakah dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam puasa tiga hari pada setiap bulan?.” ‘Aisyah menjawab:
نَعَمْ
“Iya.” Aku bertanya lagi:
منْ أَيِّ الشَّهْر كَانَ يَصُومُ
“Pada bulan apa saja beliau dahulu berpuasa?.” ‘Aisyah menjawab:
لَمْ يَكُن يُبَالي مِنْ أَيِّ الشَّهْرِ يَصُومُ
“Beliau dahulu tidak peduli pada bilan mana pun beliau berpuasa.”
Ini menunjukkan bahwa beliau menjaga puasa tiga hari dalam setiap bulan, sebagaimana beliau menjaga puasa Senin Kamis dalam setiap pekan.
Dan boleh mencukupkan puasa Senin Kamis atau puasa Ayyamul Bidh kalau hari-harinya tabrakan, misalnya ingin puasa Ayyamul Bidh namun bertepatan dengan puasa Senin Kamis maka hendaklah mencukupkan satu niat pada salah satunya, jangan sampai satu puasa dengan dua niat, khawatir tidak akan mendapatkan dua-duanya. Tapi kalau niatnya pada satu puasa maka puasa yang lainnya akan tetap dapatkan pahalanya dikarenakan kebiasaan melakukannya, sebagaimana orang yang rutin menjaga amalan-amalan sunnahnya di saat sehat atau mukim maka di saat berhalangan melakukannya karena sakit atau safar maka akan tetap mendapatkan pahala karena kebiasaan melakukannya, berkata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
إذَا مَرِضَ العَبْدُ أوْ سَافَرَ، كُتِبَ له مِثْلُ ما كانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Jika seorang hamba sakit atau safar maka tetap dituliskan baginya semisal pahala yang dia kerjakan saat mukim atau saat sehat.” Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1493
⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir/13215