HIZBIYYAH TERIAK HIZBIYYAH

Pertanyaan:
Apa Ustadz dengan lantaran menggalang dana sesama jama’ah kajian untuk keperluan kajian itu sudah menyebabkan mereka terjatuh ke hizbiyyah seperti yang digembar-gemborkan Hajuriyyun?.

Jawaban:
Lebih baik mereka yang mengadakan kajian seperti itu, karena yang memberi seikhlasnya, yang tidak beri juga tidak didatangi untuk dimintai, hanya diletakan kotak infak atau dituliskan nomor rekening supaya di antara mereka dapat memberi seikhlasnya. Kita sudah mendapati jaringan yang disebutkan dengan mudah menghizbikan karena sebab itu, bahkan dari mereka menjadikan olok-olokan pengadaan kajian dengan bentuk ta’awun seperti itu, lalu mereka membanggakan kajian mereka paling sesuai manhaj Salaf kata mereka, tanpa donasi, tanpa tasawwul dan ustadz atau pengajarnya paling ikhlas kata mereka. Namun kenyataannya membikin malu, karena di antara mereka datang ke orang yang mereka kenal beruang, lalu menyampaikan rencananya mau daurah atau mau kajian, dia yang menyampaikan dan itulah dia penyelenggaranya, dia pula bertindak sebagai pensyafa’at, lihat di sini tidak mengakui sebagai peminta, tapi mengaku pensyafa’at. Orang yang disampaikan pun berpikir sejenak lalu mau menyanggupi, dan biasa orang seperti ini kadang karena malu makanya menyanggupi, dan sudah beberapa kali kita dapati seperti itu, bahkan seseorang yang dimintai pun sempat mengeluhkan ke kita, ini sepertinya memberatkan namun tidak langsung mengungkapkan. Makanya kita katakan lebih baik yang mengadakan kajian dengan sistem ta’awun sesama mereka, ada yang memberi paling kecil atau pun paling besar, yang mau memberi seikhlasnya, pada ikut berpartisipasi sebisanya, dan inilah yang pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pada pembebasan Salman Al-Farisi, beliau meminta para Shahabat untuk ta’awun semampunya, ada yang memberi bibit korma, ada memberi paling sedikit atau yang banyak, sesuai kemampuan mereka. Dan juga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada perkara pembebasan lahan untuk perluasan Masjid Nabawi, yang awalnya beliau meminta untuk membeli, namun diberikan cuma-cuma sebagai wakaf dari pemilik tanah. Dan pada perluasan masjidnya, beliau menginginkan itu, namun beliau tidak datang ke seseorang yang kaya untuk memintanya berinfak, namun beliau umumkan yang mau membebaskan tanah untuk perluasan masjidnya maka baginya Surga, beliau umumkan, akan tetapi tidak ada yang menyanggupi melainkan menantu beliau yaitu ‘Utsman bin ‘Affan. Juga masalah sumur Romah, beliau tidak mendatangi Abu Bakr, tidak pula mendatangi orang kaya secara khusus, namun beliau umumkan dan yang hanya menyanggupi adalah ‘Utsman bin ‘Affan.
Dan yang pernah dicontohkan pula oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam masalah ta’awun, beliau bersama Bilal Radhiyallahu ‘Anhu datang ke jama’ah para wanita lalu menghimbau mereka untuk bersedekah, disebutkan oleh perawi:

وَبِلاَلٌ بَاسِطٌ ثَوْبَهُ

“Dan Bilal memajang pakaiannya.”
Sehingga para wanita melemparkan sedekah padanya, dan di antara dari Ahlul ‘Ilmi menganggap kotak infak yang ada di masjid-masjid atau yang dijalankan sebelum atau setelah khutbah itu berdasarkan perbuatan Bilal memajang kainnya, diumpamakan seperti kain tadi, makanya dari kalangan Ahlul ‘Ilmi tidak serta merta mengingkari kotak infak. Karena maksud dari kotak infak itu sama saja dengan maksud dari memajang kain atau sajadah yaitu untuk menampung dan mengumpulkan sedekah. Dan sampai hari ini masih kita dapati ada dari jama’ah di suatu masjid menerapkan pengamalan Bilal tersebut menggunakan kain, terkhusus pada hari Jum’at atau ‘Iedain, mereka mengklaim itulah Salaf mereka, makanya sebagian Ahlul ‘Ilmi tidak mengingkari pengamalan seperti itu.
Adapun yang disebutkan oleh sebagian Hajuriyyin yang kita diperlihatkan sudah beberapa kali komentar mereka bahwa ustadz-ustadz mereka paling ikhlas, tanpa ini dan tanpa itu. Ini sungguh berlebihan, bagaimana mereka bisa memastikan ustadz fulan dan fulan paling ikhlas?! Khawatir ini pujian akan berbentuk penyembelihan, terlebih pada perkara hati yang paling dalam. Justru memalukan sekali saat ada seorang ustadz dari mereka yang katanya paling meneladani Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuri dalam hafalan, mura’jah dan bejalarnya. Sampai masalah berpoligami juga memaksakan ingin sama, sampai datang ke orang yang diakui oleh mereka beruang, karena memerlukan pengajar lalu seorang ustadz tersebut memintanya dibikinkan rumah lagi untuknya karena mau berpoligami, ditambah lagi memperjelas bayaran kira-kira berapa perbulan kedianya?. Bukan kecil lagi maunya dalam perbulannya, Subhanallah seperti inikah dianggap paling bermanhaj Salaf dan paling ikhlas?!.

[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].

⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1583
⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir/13312