PUASA SUNNAH MUTLAK PADA BULAN SYA’BAN
Pertanyaan:
Ustadz hari Sabtu kemarin ditawarkan untuk dibuatkan kopi, Ustadz bilang puasa. Apa memang ada puasa sunnah mutlak di bulan Sya’ban ini?.
Jawaban:
Puasa sunnah mutlak itu ada, terkhusus pada bulan Sya’ban ini, dan disunnahkan melakukannya di setiap hari, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan di dalam “Ash-Shahihain” dari jalur periwayatan Malik dari Abun Nadhr maula ‘Umar bin ‘Ubaidillah dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman dari ‘Aisyah Ummul Mu’minin semoga Allah meridhainya, beliau berkata:
وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh selain Ramadhan, dan aku tidak melihat beliau dalam sebulan lebih banyak berpuasa padanya daripada Sya’ban.”
Al-Imam Ahmad dan An-Nasa’i meriwayatkan suatu hadits dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau pernah bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ
“Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihat engkau berpuasa pada suatu bulan di antara berbagai bulan daripada engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?.” Beliau menjawab:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Itu adalah bulan yang manusia lalai padanya, yaitu bulan antara Rajab dan Ramadhan. Itu adalah bulan yang berbagai amalan diangkat ke Rabb semesta alam, aku pun senang diangkat amalanku dalam keadaan aku berpuasa.”
Dalil ini menunjukkan tentang adanya puasa sunnah mutlak pada bulan Sya’ban, hari apa saja boleh berpuasa padanya. Bahkan seseorang yang ingin puasa Sya’ban sebulan penuh pun boleh melakukannya, dan Asy-Syaikhan telah meriwayatkan dari Abu Hurairah semoga Allah meridhainya, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
لا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ
“Janganlah salah seseorang di antara kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari, kecuali kalau keberadaan seseorang yang dia berpuasa dengan puasanya maka hendaklah dia berpuasa pada hari itu.”
Hadits ini menunjukkan boleh berpuasa penuh bulan Sya’ban bagi yang mampu, walau pun tanpa ada pemisah antara puasa Sya’bannya dengan puasa Ramadhan, karena disebutkan di dalam “Ash-Shahihain” dari jalur periwayatan Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari ‘Aisyah semoga Allah meridhainya, beliau berkata:
لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
“Tidaklah dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa pada suatu bulan yang lebih banyak daripada Sya’bah, sungguh beliau dahulu berpuasa Sya’ban seluruhnya.”
[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu]
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1807
⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir/13559