KEUTAMAAN MENGAKHIRKAN SHALAT WITIR DI TENGAH MALAM

Pertanyaan:
Apakah benar menyelisihi Sunnah bagi orang yang ikut tarawih berjama’ah hanya sampai sebagiannya atau hanya sampai delapan raka’at lalu dia keluar dengan niat akan melanjutkan tahajjud dan witir di tengah malam?.

Jawaban:
Tidak benar kalau dikatakan menyelisihi Sunnah bagi orang yang shalat tarawih berjama’ah bersama imam hanya melakukan beberapa raka’at saja lalu dia pergi, karena niatnya jelas akan melanjutkan lagi shalatnya di tengah malam. Kalau dia dikatakan menyelisihi yang afdhal (paling utama) mungkin bisa dibenarkan, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam perrnah mengatakan:

إنَّ الرَّجلَ إذا صلَّى معَ الإمامِ حتَّى ينصرفَ حسبَ لَه قيامُ ليلةٍ

“Sungguh seseorang jika shalat bersama imam sampai imam berpaling maka terhitung baginya shalat lail.”
Dan dalam suatu lafazh:

من قام مع الإمامِ حتى ينصرفَ كتب اللهُ له قيامَ ليلةٍ

“Barangsiapa shalat bersama imam sampai imam selesai maka Allah mencacatkan baginya shalat lail.”
Dan menganggap ini yang afdhal pun tidak bisa dimutlakkan, karena sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyebutkan yang afdhalnya:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ

“Paling utamanya shalat setelah shalat wajib adalah shalat di tengah malam.”
Beliau juga katakan:

أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ

“Paling dicintainya shalat oleh Allah adalah shalat Dawud ‘Alaihish Shalatu was Salam, keberadaan beliau tidur separuh malamnya, lalu shalat di sepertiga malamnya kemudian tidur di seperenam malamnya.”
Dan kita katakan bahwa tidak benar kalau dikatakan menyelisihi Sunnah bagi orang yang shalat tarawih berjama’ah bersama imam hanya melakukan beberapa raka’at saja lalu dia pergi, karena niatnya jelas akan melanjutkan lagi shalatnya di tengah malam, dan ini tentu mengamalkan Sunnah yang diperintahkan pula oleh Nabiurrahmah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

اجعَلوا آخرَ صلاتِكم باللَّيلِ وترًا

“Jadikanlah oleh kalian witir sebagai akhir shalat kalian di malam hari.”
Sebagian saudara-saudari kita kaum Muslimin Masya Allah mereka ingin memperbanyak raka’at pada shalat malam, mereka ingin melakukan shalat witir lebih dari tiga raka’at, mereka ingin mengamalkan keumuman perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menjadikan witir sebagai akhir shalat malam, dan dalam melakukan witir ini mereka Alhamdulillah ingin meneladani para Shahabat Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam, karena para Shahabat Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam melakukan witir dengan jumlah raka’at berbeda-beda di antara mereka, Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan:

الوترُ حقٌّ فمن أحبَّ أن يوترَ بخمسِ ركعاتٍ فليفعَلْ، ومن أحبَّ أن يوترَ بثلاثِ رَكَعاتٍ فليفعل، ومن أحبَّ أن يوترَ بواحدةٍ فليفعَلْ

“Witir adalah hak (sunnah yang ditekankan), barangsiapa ingin shalat witir lima raka’at maka hendaklah dia lakukan, siapa yang senang melakukan witir tiga raka’at maka hendaklah dia lakukan, dan siapa yang suka shalat witir satu raka’at maka hendaklah dia lalukan.”
Dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu menganjurkan untuk shalat witir lebih dari tiga raka’at, beliau pernah berkata dalam anjurannya untuk witir jangan tiga raka’at akan tetapi hendaklah melebihkan di atas tiga raka’at, beliau katakan:

أوتِروا بخَمسٍ أو بسَبعٍ أو بتِسعٍ أو بإحدَى عَشرةَ

“Shalat witirlah kalian lima raka’at atau tujuh raka’at atau sembilan raka’at atau sebelas raka’at.”
Dan ada dari saudara-saudari kita yang sudah shalat tarawih bersama jama’ah, hanya saja dia ingin mengakhirkan shalat witirnya, dia ingin lakukan di tengah malam satu raka’at witir tapi berdirinya lama, dan ini sesuai pula dengan Sunnah. Pernah ada yang mengatakan kepada Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma:

هلْ لك في أميرِ المؤمنينَ معاويةَ، ما أَوْتر إلَّا بواحدةٍ

“Apakah ada bagimu perkataan tentang Amirul Mu’minin Mu’awiyyah, beliau tidaklah shalat witir kecuali hanya satu raka’at?.”
Ibnu ‘Abbas menjawab:

أصاب، إنَّه فقيهٌ

“Beliau telah benar, sungguh beliau adalah faqih (orang berilmu).”
Dalam suatu lafazh beliau berkata:

دعه، فإنَّه قد صحِب النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم

“Biarkan beliau, karena sungguh beliau telah bershahabat dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir ‘Afallahu ‘Anhu para malam Jum’at (13 Ramadhan 1447 / 13 Maret 2025) di Masjid Muti’ah Kp. Cipancur, Kab. Bogor].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/13732
⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1931